Angin sore membawa bau lumpur dari sawah yang membentang luas di balik pagar beton. Tirta melangkah menaiki tangga reyot, mendapati punggung Jaka yang kaku menghadap hamparan hijau penat di ujung cakrawala. Lelaki bertubuh tegap tampak bagai patung batu yang salah letak. Di dekat sandal jepitnya yang menipis, sebuah ransel kanvas dekil tergeletak pasrah, menggembung oleh pakaian yang dijealkan serampangan.
Keberangkatan selalu menyisakan ruang kosong yang ganjil.
“Lu udah kelar beberes, Jak?” tanya Tirta, melempar kunci motor ke atas meja kayu.
Jaka tersentak, bahunya turun beberapa senti sebelum menoleh dengan senyum kering. “Udah semua. Barang-barang udah di pos depan. Tinggal badan gue doang yang musti angkat kaki.”
Tirta mengambil handuk. “Gue mandi bentar. Gerah bener jalanan.”
Langkah kaki Tirta menuju kamar mandi diiringi batuk kering Haji Slamet dari lantai bawah, pemilik kontrakan yang kesibukannya sore ini mengomeli kucing liar penimbun kotoran. Suasana sore terasa lambat, kontras dengan gemuruh yang mendadak menebal di area balkon. Tatkala Tirta kembali dengan kaos oblong putih, Jaka masih terpaku di sana, memilin secarik kertas lecek yang warnanya menyerupai kulit pisang busuk. Sepasang mata Jaka bengkak, menyiratkan beban berton-ton yang menyumbat tenggorokannya.
“Ada yang mau gue omongin sebelum jalan, Tir,” suara Jaka bergetar, parau seperti amplas kasar menembus keheningan senja.
Tirta mendekat, menangkap aroma minyak angin dan keringat dingin dari tubuh sahabatnya. Kertas di jemari Jaka terlepas, meluncur pelan lalu mendarat di lantai semen. Jaka mendadak ambruk, berlutut sambil menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangan yang gemetar hebat. Tangisnya pecah, menyengat udara senja yang semula tenang.
Lelaki dewasa yang menangis selalu menerbitkan rasa ngeri sekaligus iba.
Tirta memungut kertas lusuh bawah kaki mereka. Sederet kombinasi huruf dan angka tertulis di sana dengan tinta hitam yang memudar. Kombinasi yang amat dia kenal karena jemarinya sendiri yang menorehkannya setahun silam.
“Maafin gue, Tir. Maafin gue,” ratap Jaka, suaranya teredam lantai. “Gue yang bikin Nadya mati.”
Darah Tirta serasa berhenti mengalir. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dada seperti palu godam. Rahangnya mengeras. “Lu jangan ngaco. Plat nomor pembunuh Nadya yang tertulis di sini B 1608 WRJ. Motor lu plat AB, dari Jogja. Jangan cari perkara sore-sore gini, Jak!”
Jaka mendongak. “Saksi mata malam kejadian salah lihat posisi motor gue yang roboh di aspal. Lu cek sendiri motor gue di bawah kalau gak percaya.”
“Gak mungkin! Lu sahabat gue, Jak!” teriak Tirta, matanya merah menahan amarah yang mendadak membakar ubun-ubun.
“Emang Jaka gak nabrak Nadya, Tir,” sebuah suara berat menyela dari arah tangga.
Bagus, penghuni kamar bawah yang berwajah pucat, muncul sambil memegang segelas kopi hitam yang asapnya mengepul tipis. Langkahnya tenang, membawa aura dingin yang seketika meredam ketegangan di balkon.
“Udah ratusan kali gue bilang, Jak, setop siksa diri lu sendiri!” bentak Bagus, menatap Jaka dengan pandangan tajam.
“Tapi motor itu punya gue, Gus! Bondan bawa motor gue karena gue yang suruh antar gue kerja malam itu! Siapa lagi yang patut disalahin?!” Jaka membalas, suaranya melengking frustrasi.
Bagus mengembuskan napas, beralih menatap Tirta yang mematung bagai kehilangan seluruh sendi tubuh. “Bondan yang nabrak Nadya malam itu pas jalan balik ke kosan. Bajingan itu ketakutan, kabur membawa motor Jaka dan menghilang berhari-hari sebelum minggat total. Kita berdua yang tahu langsung lapor ke polsek. Bondan sudah diringkus polisi dalam razia jalur lintas luar kota tiga bulan lalu.”
Senja tenggelam sepenuhnya, menyisakan kegelapan yang pekat di mata Tirta. Bau kopi hitam berbaur amis debu jalanan. Kenyataan pahit ini datang terlambat, mengoyak kembali parut luka yang mulai mengering. Bayangan Nadya dengan senyum manisnya berkelebat sejenak, lalu digantikan wajah Listy yang meneduhkan, perempuan yang belakangan ini mengisi hari-harinya. Tirta menarik napas dalam, membiarkan udara malam mengisi dadanya yang sesak, kemudian menepuk bahu Jaka yang masih sesenggukan di lantai. Luka lama biarlah mengering bersama kepergian sahabatnya menuju kehidupan baru di seberang sana.