Dunia sedang demam. Bukan sekadar suhu tubuh yang naik karena serangan virus, melainkan akal sehat yang goyah dihantam badai teori konspirasi. Ketika pandemi COVID-19 mencengkeram bumi, ia menghadirkan dua wajah. Wajah pertama adalah ancaman biologis yang nyata. Wajah kedua adalah infodemi, sebuah luapan disinformasi yang menyebar lebih cepat daripada penularan virus itu sendiri.
Anda mungkin pernah mendengar cerita tentang 5G yang dituduh memicu penyebaran virus atau narasi tentang tes usap yang konon merusak otak. Narasi liar ini tidak muncul di ruang hampa. Situasi krisis, ketakutan, dan ketidakpastian menjadi lahan subur bagi pikiran konspiratif untuk berbiak. Dunia yang terhubung lewat media sosial mempercepat penyebaran cerita-cerita tanpa dasar ini. Situs-situs yang menjual sensasi justru mendulang keterlibatan pengguna yang lebih tinggi dibandingkan kanal resmi seperti Organisasi Kesehatan Dunia atau media arus utama yang kredibel.
Salah satu ciri khas disinformasi kali ini adalah sifatnya yang berlapis. Narasi konspirasi menyerang berbagai sisi sekaligus. Ada kelompok yang meragukan keberadaan virus. Ada pula kelompok yang mengecilkan nilai strategi pencegahan yang sudah terbukti. Narasi lain mempertanyakan keamanan vaksin bahkan sebelum vaksin tersebut tersedia. Ketidakpastian pesan ini membahayakan layanan kesehatan. Pasien menghindari rumah sakit karena takut tertular atau termakan hoaks, sehingga penanganan penyakit akut seperti gangguan jantung menjadi terlambat.
Cerita konspirasi bergerak melintasi batas negara. Anda menemukan klaim bahwa virus ini adalah senjata biologis atau buatan manusia yang disebar dengan sengaja. Narasi tentang mikrocip yang disuntikkan bersama vaksin untuk mengawasi manusia pun terus beredar. Video-video yang mengusung gagasan ini ditonton jutaan orang. Penggunaan masker, yang berdasar pada banyak studi mampu menahan transmisi virus, justru menjadi bahan perdebatan panas. Masker dituduh sebagai alat yang menghambat oksigen atau justru menyimpan virus itu sendiri.
Bahkan tindakan pencegahan sederhana mendapat serangan. Pengecekan suhu tubuh saat memasuki ruang tertutup dituduh merusak kelenjar pineal. Padahal termometer inframerah hanya mendeteksi radiasi alami dari tubuh manusia. Produk-produk pseudosains seperti larutan perak koloid hingga konsumsi vitamin dosis tinggi ditawarkan sebagai obat mujarab. Semua ini mengabaikan fakta medis dan kenyataan lapangan.
Kerusakan nyata muncul akibat narasi sesat ini. Ketika hoaks 5G menjalar, orang-orang membakar tiang telekomunikasi. Insinyur yang bekerja di lapangan menerima pelecehan fisik dan verbal. Peristiwa masa lalu memberikan pelajaran berharga. Pada masa pandemi HIV/AIDS, penyangkalan tentang eksistensi virus merenggut ratusan ribu nyawa karena pemerintah menolak memberikan obat yang terbukti menyelamatkan.
Retorika anti-vaksin memang bukan hal baru. Anda bisa melacaknya hingga zaman Edward Jenner ketika rumor tentang vaksin yang membuat orang tumbuh tanduk beredar. Polanya serupa dari masa ke masa. Ketidakpercayaan pada otoritas, rasa jijik memasukkan zat asing ke tubuh, hingga kecurigaan adanya motif jahat untuk mengontrol populasi. Beberapa kekhawatiran memang lahir dari jejak sejarah kelam seperti Studi Sifilis Tuskegee, di mana otoritas medis menyalahgunakan kekuasaan mereka. Namun, membungkus setiap ketakutan masa kini dalam bingkai konspirasi hanya akan mengulangi kesalahan fatal masa lalu.
Bahaya disinformasi ini merembes masuk ke literatur ilmiah. Naskah pracetak yang belum melalui proses telaah sejawat sering dikutip di media sosial sebagai kebenaran. Jurnal medis dibanjiri kiriman artikel yang cacat, yang kemudian ditarik kembali setelah menuai kekacauan informasi.
Menghadapi kenyataan ini, dunia membutuhkan strategi yang lebih dari sekadar membantah. Anda perlu mengedukasi diri sendiri dan lingkungan sekitar tentang literasi media. Pengguna media sosial harus memanfaatkan mekanisme pelaporan konten sesat yang tersedia di setiap platform. Perjalanan ke depan terasa panjang dan penuh kerikil. Namun, membiarkan hoaks merajalela tanpa perlawanan adalah pilihan yang jauh lebih mahal harganya bagi kemanusiaan kita bersama.