Kehidupan umur dua belas tahun berjalan dengan tolol. Pada lembar-lembar akhir masa sekolah dasar, gengsi menjadi urusan yang jauh lebih penting daripada nilai matematika. Ruang kelas enam berguncang ketika seorang anak perempuan pindahan dari kota lain masuk membawa aroma bedak mahal yang wangi. Namanya Mita. Kulitnya bersih, mulus, berbanding terbalik dengan sepasang kaki Boim yang penuh keropeng kehitaman akibat sering menyenggol knalpot panas motor bebek milik ayahnya.
Mita mendadak menjadi pusat semesta. Nilai ujiannya selalu bertengger di angka sembilan, membuat anak-anak lelaki kelas enam mendadak rajin menyisir rambut menggunakan minyak rambut urang-aring demi menarik perhatiannya.
Boim, yang otaknya macet setiap kali melihat senyum Mita, memilih jalan memutar yang salah untuk menyatakan ketertarikannya. Strategi asmara bocah ingusan memang kadang mirip ajakan berkelahi.
Sore itu, saat jam pulang sekolah, Boim menghadang langkah Mita di dekat gerbang sekolah yang becek. “Heh, anak baru! Jangan sok pintar ya di kelas! Memangnya kalau kamu cantik, semua orang di sekolah ini mau jadi temanmu? Tidak ada yang sudi! Dasar sok kecakepan!”
Kalimat kasar itu meluncur bebas, memancing air mata Mita tumpah di depan tukang es tong-tong. Boim merasa menang, merasa gagah.
Namun, kejantanan palsu itu runtuh esok paginya. Seorang lelaki bertubuh tegap dengan kumis tebal seukuran kelingking bapak-bapak mendatangi ruang kepala sekolah. Lelaki itu ayah Mita. Hasil dari aksi provokasi Boim berujung tragis: Mita langsung dipindahkan ke kelas enam B yang terletak di ujung lorong dekat gudang, sementara Boim harus mendekam di pojok kelasnya sambil meratapi kebodohannya sendiri yang tidak tertolong.
Dua tahun berlalu, masa remaja menyergap dengan lebih liar saat Boim menginjakkan kaki di kelas satu SMP Negeri Tiga. Dia terlempar ke kelas tujuh G, sebuah ruangan yang dihuni oleh barisan murid buangan yang hobi membolos di kantin belakang.
Di kelas yang hancur itu, Boim berteman dekat dengan gembong asmara lokal bernama Dodit. Lelaki berambut ikal ini merasa dirinya sudah sekalas personel grup band yang digandrungi remaja perempuan.
“Kamu sudah punya gandengan belum, Im?” tanya Dodit suatu siang, sambil mengunyah tahu sumedang di bawah pohon talok.
Boim menggeleng kaku sembari membetulkan letak kerah seragamnya yang kedodoran. “Belum. Memangnya kamu punya?”
Dodit tertawa remeh, menepuk dada bidangnya. “Banyak! Perempuan di sekolah ini tinggal ditembak saja langsung lemas.”
“Masalahnya, aku sedang naksir Vira, anak kelas tujuh H,” aku Boim, suaranya mengecil.
“Vira?” Dodit membelalakkan mata. “Itu kan teman satu sekolah dasarku dulu! Badannya sudah bongsor, matanya sipit mirip artis film mandarin. Seleramu tinggi juga.”
“Bisa tidak ya dia jadi pacarku?”
“Tembak saja lewat telepon nanti malam,” saran Dodit enteng. “Bilang saja kamu suka, mau tidak jadi pacar. Beres.”
Saran dari pakar asmara gadungan itu melekat erat di kepala Boim sepanjang jalan pulang. Vira memang primadona baru di sekolah. Tubuhnya tumbuh lebih cepat daripada siswi seangkatannya, membuat seragam putih birunya terlihat ketat. Matanya yang sipit akan hilang setiap kali dia tertawa, sebuah pemandangan yang sanggup membuat jantung Boim berdegup lebih kencang daripada deru mesin kompresor tukang tambal ban.
Malam harinya, ruang tengah rumah Boim sunyi. Anggota keluarganya sudah terlelap, menyisakan suara jangkrik dari arah kebun kosong di samping rumah.
Tangan Boim gemetar hebat saat mengangkat gagang telepon rumah berwarna abu-abu yang menempel di dinding tembok. Jarinya menekan nomor telepon rumah Vira yang dia dapatkan dari lembar biodata saat masa orientasi siswa.
Tit. Tat. Tut. Nada sambung berbunyi dua kali.
“Halo?” suara di seberang sana terdengar begitu halus, memecah keheningan malam.
Klik. Boim langsung menutup telepon dengan dahi bersimbah keringat dingin. Nyalinya mengkeret, lenyap tak berbekas dalam sekali petikan suara.
Lima menit kemudian, rasa penasaran mengalahkan ketakutannya. Dia kembali mengangkat gagang telepon, menekan nomor yang sama dengan napas yang memburu.
“Halo?” suara halus itu kembali menyapa.
Boim berdehem, mencoba memberatkan suaranya yang masih agak cempreng. “Halo.”
“Ini siapa, ya?” tanya Vira di seberang sana.
“Ini siapa?” Boim justru bertanya balik dengan nada dongo, lupa bahwa dialah yang menelepon duluan.
Suara di seberang terdengar menghela napas, agak terganggu. “Ini rumah keluarga kusuma. Kamu siapa sih? Kalau tidak jelas, saya tutup ya teleponnya.”
“Eh, jangan! Maaf, lupa,” sergah Boim panik. “Bisa bicara dengan Vira?”
“Ini Vira sendiri. Kamu siapa?”
“Ini aku, Vir.”
“Aku siapa?”
“Ya aku!”
“Ih, tidak jelas banget! Namamu Aku? Aku matikan ya?”
“Jangan! Ini aku, Boim. Anak kelas tujuh G yang waktu masa orientasi satu kelompok dengan kamu.”
Hening sejenak. Boim bisa mendengar suara detak jam dinding dari seberang telepon.
“Oh, Boim yang badannya kecil itu ya?” tanya Vira akhirnya, disusul tawa renyah yang membuat bulu kuduk Boim meremang saking senangnya.
“Tidak kecil-kecil amat juga kali,” cetus Boim membela diri. “Begini, Vir… ak… ak… aku…”
“Kenapa, Im? Suaramu putus-putus.”
“Aku suka sama kamu!” kalimat itu meluncur deras seperti air bah menembus kabel tembaga telepon rumah.
Klik. Sebelum Vira sempat mengeluarkan satu kata pun sebagai jawaban, Boim langsung membanting gagang telepon ke tempatnya semula. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan jantung yang berpacu liar. Dia telah melempar bom asmaranya, lalu melarikan diri ke dalam kamar tanpa berani menunggu kepastian apakah cintanya berbalas atau justru berakhir tragis di dalam tong sampah sejarah masa remaja.