Wamena perlahan berdenyut lagi. Kota itu sempat menjadi kuburan massal bagi akal sehat selama setengah bulan lebih. Setelah ribuan rumah hancur jadi arang, setelah kantor pemerintah rata dengan tanah, dan setelah tiga puluh tiga nyawa melayang sia-sia akibat amuk yang kehilangan arah, kini para pejabat mulai sibuk menyusun rencana pembangunan kembali. Mereka menyebutnya rehabilitasi. Sebuah kata yang terdengar manis untuk menutupi bau gosong dari gedung-gedung yang dibakar massa.
Surga di Lembah Baliem itu memang sempat berubah jadi neraka. Semuanya meledak dari satu kebohongan kecil yang diembuskan angin. Kabar dusta tentang tindakan rasial guru memicu massa turun ke jalan dengan membawa obor dan kemarahan. Mereka merusak. Mereka membakar. Mereka tidak menyisakan ruang bagi kemanusiaan untuk bernapas barang sejenak.
Duka Wamena mereka sebut duka kita semua. Kalimat yang sangat akrab di telinga setiap kali negara gagal melindungi warganya sendiri.
Sekolah mulai buka. Pasar mulai menjajakan barang meski dagangannya tidak selengkap dulu. Aparat keamanan kini berpatroli, mencoba menunjukkan bahwa negara masih punya urat nadi setelah sekian lama membiarkan situasi lepas kendali. Presiden memerintahkan pembangunan ulang fisik bangunan. Uang negara akan mengalir deras ke sana, mengubah puing-puing menjadi semen dan beton baru.
Memperbaiki fisik memang mudah. Cukup datangkan tukang, siapkan anggaran, selesai. Namun, siapa yang sanggup menambal retakan di jiwa penduduknya? Ribuan orang memilih eksodus. Mereka pergi membawa trauma yang mungkin bertahan hingga bertahun-tahun mendatang. Bagi mereka, Wamena bukan lagi tempat untuk berteduh. Ia adalah mimpi buruk yang membuat keringat dingin bercucuran saat malam tiba.
Persaudaraan koyak. Kepercayaan hancur berkeping-keping.
Negara harus hadir bukan hanya dengan semen dan batu bata. Ia perlu menyembuhkan trauma yang menempel erat pada setiap orang yang menyaksikan tetangganya dibakar hidup-hidup. Dialog konstruktif terdengar bagus di atas kertas rencana kerja, tetapi ia menuntut keterbukaan yang selama ini enggan diberikan Jakarta.
Negara wajib menunjukkan wibawa lewat hukuman yang keras. Jangan ada lagi main mata dengan mereka yang bertindak brutal. Jika setiap pembakaran dan pembunuhan selalu dibalas dengan senyum diplomasi, jangan pernah berharap kedamaian akan bertamu kembali. Hukum harus menghajar siapa pun yang menganggap nyawa manusia lebih murah daripada harga sebatang kayu bakar.
Kita dipaksa percaya bahwa tidak ada unsur etnik maupun agama di sana. Semuanya murni pekerjaan tangan-tangan jahat. Sebuah narasi yang sangat rapi untuk mencuci tangan dari kegagalan integrasi yang sudah berumur puluhan tahun.
Mereka yang mengungsi mungkin akan kembali suatu saat nanti. Atau mungkin juga tidak. Selama rasa aman masih menjadi barang langka di Wamena, mereka lebih memilih hidup menderita di tanah rantau daripada menjadi abu di tanah sendiri. Kedamaian tidak datang dari perintah presiden atau anggaran yang digelontorkan begitu saja. Ia lahir dari rasa dihormati. Ia lahir dari keadilan yang nyata, bukan sekadar janji-janji manis yang diulang setiap kali kota mati perlahan mulai bernapas lagi.