Media sosial pernah menjadi janji manis tentang kebebasan bicara tanpa sensor yang membelenggu. Kita mengira setiap kepala akan mendapatkan panggung yang setara untuk menyuarakan gagasan tanpa perantara. Namun, kenyataannya justru jauh dari bayangan indah itu.
Ruang-ruang digital kini penuh dengan caci maki yang berseliweran tanpa henti. Fitnah dan berita palsu menjadi komoditas yang laris manis, sementara kebenaran terkubur di bawah tumpukan tagar yang emosional.
Kita tertipu oleh teknologi yang kita ciptakan sendiri.
Kasus yang menimpa seorang siswi di Pontianak menyingkap betapa rapuhnya akal sehat kita di dunia maya. Perselisihan kecil di internet memicu aksi fisik di lapangan yang kemudian diviralkan kembali oleh para pencari keadilan instan dengan tagar #JusticeforAudrey. Publik terlanjur menghakimi para pelaku sebelum fakta terungkap, menciptakan gelombang perundungan baru yang tidak kalah kejamnya. Stigma yang dilabelkan warganet terasa lebih menghancurkan daripada hukuman pengadilan itu sendiri.
Banyak pihak menuntut pemerintah segera turun tangan memperbaiki literasi digital generasi muda. Mereka mendesak kurikulum sekolah diisi dengan pendidikan karakter agar anak-anak tidak tersesat di rimba informasi.
Orangtua diminta untuk lebih waspada menjaga pergaulan daring anak-anak mereka. Padahal, sering kali kita lupa bahwa orang dewasa di luar sana justru menjadi contoh paling buruk dalam cara berinteraksi di dunia digital.
Kita sendiri yang meracuni atmosfer media sosial dengan kebencian dan merasa benar sendiri. Teknologi hanyalah alat yang membesarkan apa yang sudah ada dalam diri manusia.
Jangan salahkan pisau yang melukai tangan, tetapi tanyakan bagaimana cara kita menggenggamnya.
Selama kita masih haus akan konflik dan memuja kecepatan tanpa verifikasi, teknologi apa pun tidak akan pernah cukup untuk menyelamatkan kita dari kebodohan sendiri. Setiap ketukan di layar kaca adalah cerminan dari isi kepala yang selama ini kita sembunyikan. Masa depan tidak akan membaik hanya karena kurikulum diubah atau aturan diperketat, jika kita tidak belajar untuk menahan diri sebelum menekan tombol kirim.