Dinding apartemen itu tidak bergoyang. Ia retak.
Satu detik Anisa berada di dalam ruang tamu yang dingin bersama bayinya. Detik berikutnya, lantai meluruh, dinding melipat, dan udara berubah menjadi hitam pekat oleh debu. Beton yang tadinya kokoh berubah menjadi bubuk. Saat suara gemuruh itu berhenti, Anisa tidak bisa menggerakkan kakinya. Napas terasa sesak, seolah dadanya dijepit oleh beban tak kasatmata. Lalu, di antara kegelapan yang mengubur segalanya, telinganya menangkap suara paling kecil di dunia ini.
Anaknya masih hidup.
Spitak, kota kecil di lereng bukit itu, kini tidak lebih dari hamparan puing kelabu. Pada pagi tujuh Desember itu, musim dingin menekan dengan kejam. Warga setempat selalu percaya pada bangunan-bangunan beton itu, karena tidak ada alasan untuk meragukannya. Pukul sebelas lebih empat puluh satu menit, kepercayaan itu tamat. Guncangan pertama terasa seperti benturan keras. Piring pecah. Kaca meledak ke dalam. Dinding-dinding terbelah dengan bunyi seperti sesuatu yang hidup sedang dicabik.
Anisa tidak memiliki kesempatan untuk berlari. Sesaat ia seorang ibu yang menjaga anaknya, sesaat kemudian ia terkubur di bawah reruntuhan. Saat kesadarannya kembali, ia mendapati dirinya terperangkap di dalam kantung kecil yang terjepit di antara lempengan semen. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari beton yang retak. Debu membakar kerongkongannya. Darah hangat mengalir di dahinya. Telinganya berdenging hebat.
Tangisan bayi terdengar.
Suara itu mengubah segalanya. Kepanikan yang tadinya melumpuhkan kini memiliki tujuan. Tangan Anisa meraba dalam gelap, menemukan selimut, lalu tubuh bayinya yang mungil. Seonggok furnitur yang patah membentuk sudut yang tepat, menciptakan sedikit ruang bagi mereka untuk bernapas. Tidak ada kenyamanan. Tidak ada perlindungan. Hanya ada cukup ruang bagi udara untuk lewat.
Di luar, Spitak menjadi mimpi buruk bagi para tim penolong. Jalanan hancur tertutup salju, dan bantuan tertahan oleh cuaca yang membeku. Anisa berteriak, mendengarkan, lalu berteriak lagi. Puing-puing meredam suaranya dengan cara yang aneh.
Anisa menyadari satu hal yang lebih dingin dari salju: bayi tidak bisa bertahan lama tanpa air. Ia meraba ruang sempit di sekelilingnya dengan satu tangan yang bebas. Pecahan kaca. Kayu yang terbelah. Beton dingin. Tidak ada botol. Tidak ada pipa. Anaknya menangis, lalu memekik, kemudian diam. Keheningan itu jauh lebih menakutkan daripada tangisan. Tangisan berarti kekuatan. Keheningan berarti waktu sedang habis.
Malam di bawah beton terasa abadi. Dingin Desember tidak berhenti di luar bangunan yang hancur. Dingin merembes ke dalam puing. Beton berubah menjadi es. Anisa mendekap bayinya seerat mungkin, berusaha membagikan sisa panas tubuh yang ia miliki. Bibirnya pecah-pecah. Mulutnya kering. Bayinya mulai melemah.
Anisa meraih pecahan kaca tajam. Ia mengiris jarinya.
Ia membiarkan bayinya menghisap darah itu. Tidak cukup untuk menutrisi. Tidak cukup untuk menyelesaikan masalah apa pun. Mungkin hanya cukup untuk membeli beberapa detik lagi di tempat yang waktu menjadi satu-satunya mata uang. Ia melakukannya berulang kali, memberi anaknya apa yang tersisa dari tubuhnya sendiri.
Hari ketiga, dunia Anisa menyusut menjadi sekadar sentuhan, napas, dan suara. Ia tidak bisa melihat matahari. Ia tidak tahu berapa lama waktu telah berlalu selain dari pikirannya yang berayun antara kepasrahan dan kehendak untuk bertahan. Ia terus berbicara pada bayinya karena baginya, diam berarti menyerah.
Tiba-tiba, sesuatu berubah. Bukan suara gemuruh yang besar, bukan pula teriakan yang jelas. Hanya suara gesekan di atas kepala.
Anisa memukul logam ke beton dengan sisa tenaga yang ia punya. Ketukan lemah. Lalu sekali lagi. Di luar sana, seorang penolong berhenti melangkah. Mungkin ia mendengar sesuatu, atau mungkin ia hanya merasa ada sesuatu yang janggal. Di situs bencana yang penuh dengan bunyi reruntuhan yang bergeser, keputusan untuk berhenti dan mendengarkan adalah satu-satunya garis batas antara hidup dan mati.
Suara-suara manusia mulai terdengar samar. Kegelapan masih ada. Rasa sakit di kakinya masih ada. Namun, kini ia memiliki saksi. Para pekerja mulai menyingkirkan puing dengan hati-hati. Cahaya masuk melalui celah-celah kecil. Debu berjatuhan seperti hujan tipis. Wajah seseorang muncul di balik lubang yang terbuka.
Bayi itu diangkat terlebih dahulu.
Anisa menyusul kemudian, dengan kaki yang hancur karena tertimpa beton. Anaknya selamat melawan kemungkinan yang sudah mulai runtuh jauh sebelum mereka ditemukan. Spitak tetap menjadi salah satu tragedi terbesar yang pernah terjadi, tempat di mana keluarga hilang dalam sekejap mata.
Namun, di antara semua duka yang menghancurkan kota itu, ada satu kisah tentang seorang ibu yang bertahan dalam kegelapan total, ditemani segelas kecil darah dan ketukan lemah di atas beton, menunggu seseorang untuk berhenti dan mendengarkan. Anisa tidak kembali sebagai pemenang yang megah, melainkan sebagai saksi bahwa bertahan hidup seringkali bukan tentang keajaiban yang besar, melainkan tentang keputusan kecil yang diulang setiap jam, setiap napas, setiap tetes kehidupan yang tersisa.