Gerbang Labirin Bawah Air

4 menit baca

Air di Telaga Biru terlihat tenang. Permukaan airnya hijau jernih, memantulkan langit sore yang mulai memerah. Orang-orang yang datang ke sana melihat kedamaian. Keluarga berlibur tanpa menyadari bahwa tepat di bawah pijakan kaki mereka, tersimpan labirin gua bawah air yang paling mematikan di negeri ini.

Di kedalaman yang sunyi itulah, Radika hilang.

Senja tanggal delapan belas Agustus, Radika, pria tiga puluh tahun itu, turun ke dalam perut telaga. Saksi mata melihatnya menyiapkan tabung selam. Lampu kepalanya menyala, membelah bayangan pohon-pohon di pinggir air. Dia berenang menuju celah gua yang dibatasi pagar besi.

Setelah detik itu, Radika lenyap.

Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Belasan tahun berlalu, dan orang-orang masih terjebak dalam pertanyaan yang sama. Bagaimana seorang manusia bisa sirna di tempat yang seharusnya menyimpan jejak?

Sebelum peristiwa itu, hidup Radika berantakan.

Dia tumbuh besar di dekat kota tua di Jawa Tengah. Teman-temannya mengenal dia sebagai sosok cerdas dan penuh petualangan. Seseorang yang merasa lebih tenang di bawah air daripada di permukaan daratan yang penuh tuntutan. Namun tahun dua ribu sepuluh menjadi tahun yang berat baginya.

Pernikahannya hancur. Bisnis konstruksinya bangkrut. Hutang menumpuk. Mungkin yang paling menyakitkan, kematian adiknya yang mendadak masih meninggalkan lubang menganga di hatinya.

Saat orang tuanya menawarkan rumah pantai untuk menenangkan diri, Radika menerima. Dia menganggap itu kesempatan untuk menata ulang kepingan hidupnya. Menyelam bukan lagi sekadar hobi. Itu pelarian. Satu-satunya tempat di mana hal-hal terasa bisa dikendalikan.

Radika menjadi pengunjung rutin di Telaga Biru.

Di permukaan, situs itu terlihat tidak berbahaya. Penyelam rekreasi berlatih di sana setiap hari. Namun penyelam berpengalaman tahu bahaya sebenarnya menunggu jauh di bawah. Celah gua di balik pagar besi itu sempit, gelap, dan brutal.

Situs itu memasang gerbang terkunci untuk membatasi akses. Tanda peringatan tertulis jelas di sana. Tidak ada yang layak mati demi menembus lorong itu.

Radika tidak punya sertifikasi selam gua. Namun desas-desus mengatakan dia terobsesi dengan apa yang ada di balik pagar besi tersebut. Dia mempelajari peta. Menghabiskan waktu berjam-jam di tepi telaga. Beberapa orang percaya dia pernah menyelinap masuk secara diam-diam.

Agustus dua ribu sepuluh, gua itu menjadi obsesi yang mengerikan.

Radika tidak menghilang di belantara rimba yang luas. Dia lenyap di dalam sistem gua tertutup yang seharusnya menyimpan bukti. Semakin dalam pihak berwenang mencari, semakin aneh ceritanya.

Sore itu, Radika tidak terlihat seperti orang yang sedang bersiap untuk pergi selamanya. Saksi mata melihatnya tenang. Dia memeriksa peralatan dengan teliti. Dia membuat catatan di log selaman. Tidak ada tanda kepanikan.

Dia menelepon ibunya sebelum turun. Tidak ada perpisahan yang ganjil. Tidak ada tanda bahwa itu percakapan terakhir.

Dua pegawai telaga, Edo dan Candra, melihat Radika turun menuju sistem gua dengan lampu dan helm terpasang. Edo melihat Radika membuka gerbang pembatas. Radika meluncur masuk ke dalam kegelapan.

Pencarian besar-besaran dimulai setelah truknya tetap terparkir di tempat yang sama selama berhari-hari. Dompetnya ada di sana. Uang tunai tidak tersentuh. Ponselnya tertinggal. Catatan selaman masih tersimpan di jok. Di rumah pantai, anjingnya menunggu sendiri.

Semuanya menunjuk pada satu kesimpulan. Radika masuk ke air dan tidak pernah kembali.

Penyelam pencari ahli menjelajahi lorong-lorong itu. Mereka mengharapkan gua itu akan memberikan jawaban. Sebaliknya, mereka hanya menemukan kebingungan.

Beberapa menemukan tabung dekompresi milik Radika. Penyelam lain berdebat soal posisi tabung tersebut. Seharusnya ada jejak fisik jika seseorang terjepit di lorong sempit. Sedimen yang teraduk. Goresan di dinding batu. Kerusakan pada peralatan selam.

Gua itu terasa aneh karena kosong.

Kebanyakan kasus orang hilang melebar ke luar. Seseorang bisa pergi ke mana saja. Peta tetap terbuka. Namun kasus Radika justru mengerucut ke dalam. Segalanya menunjuk pada satu titik tertutup. Titik yang menolak untuk bicara.

Ada dua teori yang terus berputar.

Teori pertama paling sederhana. Radika masuk ke gua, terjebak di celah yang tidak terjangkau, lalu kehabisan napas. Penjelasan itu masuk akal bagi dunia selam yang penuh risiko. Itu menjelaskan mengapa dia meninggalkan barang-barangnya.

Namun teori kedua jauh lebih gelap. Bagaimana jika gua itu bukan tempat kejadian, melainkan hanya tempat untuk mengakhiri cerita? Kecurigaan soal skenario yang sengaja dirancang terus beredar. Hal yang terus mengusik para penyelam adalah kenyataan bahwa seorang pria masuk ke lingkungan yang diketahui, lalu menghilang tanpa jejak definitif setelah pencarian berulang kali dilakukan.

Radika tidak lenyap ke dalam hutan tak bertepi.

Dia menghilang ke dalam tempat yang seharusnya memberikan jawaban.

Kini, Telaga Biru tetap membeku pada momen terakhir. Seorang penyelam turun. Gerbang terbuka. Kegelapan menunggu di bawah. Cerita itu berhenti di sana. Selebihnya hanyalah teori, perdebatan, dan keheningan di bawah air.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(