Bayu di Balik Kabut

3 menit baca

Di ruang keluarga yang dingin di pinggiran Semarang, aku menatap bingkai foto tua yang tergantung miring. Ada Bayu di sana. Dulu, dia anak yang tumbuh dengan cahaya di matanya. Cerdas, murah hati, dan selalu merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Saat dia berangkat ke Jakarta untuk kuliah desain grafis, aku dan suamiku, Baskoro, melepasnya dengan keyakinan penuh. Bayu akan menaklukkan dunia. Dia pergi dengan kacamata berwarna merah jambu. Namun, realita tidak pernah peduli pada warna kesukaan siapa pun.

Tanda-tanda keanehan itu muncul perlahan. Saat kami berlibur ke rumah adik Bayu, Sekar, di Bandung, Bayu tampak seperti asing. Dia tidak tertarik mengobrol. Dia lebih suka menyendiri. Kecemasannya meledak-ledak. Yang paling mencekam, aku sering memergokinya tertawa sendiri di sudut teras, padahal tidak ada siapa pun di sana. Baskoro memegang bahuku dengan gemetar saat kami bertanya-tanya, apakah ini mania atau sesuatu yang jauh lebih gelap?

Maret 2020. Pandemi mengunci semua pintu. Bayu kembali ke kosnya di Jakarta. Teman satu kosnya menelepon kami, suaranya terdengar panik. “Bu, Bayu ngomongnya aneh banget. Dia tiap hari ngeganja, Bu. Enggak berhenti.”

Kami memacu mobil dari Semarang ke Jakarta menembus sepi. Saat kami tiba, Bayu sudah sepenuhnya dikuasai episode manik. Dia menari-nari di tengah kamar, matanya berbinar aneh. “Bu, Pak, aku bisa teleportasi ke mana saja. Aku bisa hidupkan orang mati!” ucapnya dengan nada penuh kemenangan. Hati kami hancur berkeping-keping.

Rumah sakit jiwa di masa pandemi terasa seperti penjara yang tidak punya pintu keluar. Sebulan penuh dia berada di sana. Bayu berhenti bicara pada kami. Dia merasa dirinya Picasso, lalu berganti menjadi Steve Jobs. Ketika dokter akhirnya mengusirnya pulang, mereka tidak memberikan diagnosa apa pun. Perawat yang angkuh mengantarnya lewat pintu belakang saat Bayu masih dalam kondisi psikosis. Sistem kesehatan kita benar-benar lelucon yang kejam.

Bayu melarikan diri kembali ke Jakarta. Aku melacaknya lewat notifikasi transaksi kartu kredit yang masuk ke ponselku. Setiap kali ada nominal belanja kopi atau makanan, napas lega yang gemetar keluar dari dadaku. Setidaknya dia masih bernapas.

Bulan-bulan berikutnya adalah perjuangan tanpa henti. Aku menghubungi siapa pun. Pusat kesehatan masyarakat, hingga keluarga lain yang bernasib serupa. Kami harus selamat. Kami tidak boleh hancur.

Suatu hari, Bayu mengucap kata-kata yang bernada ancaman. Kami memanggil bantuan. Dia masuk rumah sakit lagi. Kali ini, psikiaternya luar biasa. Dia meminta diagnosa formal di Jakarta. Hasilnya: Skizofrenia.

Aku mulai membangun benteng. Aku menyewa psikiater, terapis, pelatih kebugaran, dan pelatih hidup untuknya. Aku memastikan Sekar dan kawan-kawan Bayu terus menghubunginya. Komunitas adalah oksigen. Aku juga mencari bantuan psikologis untukku dan Baskoro. Keluarga ini harus tetap utuh.

Psikiater itu memberikan obat antipsikotik atipikal. Obat itu bekerja seperti sihir. Kabut di kepala Bayu perlahan menipis. Dia mulai makan, tidur, dan berolahraga. Dia lulus kuliah. Dia mulai menjual karya seninya.

Hari ini, Bayu tampak luar biasa. Dia bekerja, melukis, dan memproduksi musik. Jika orang baru bertemu dengannya sekarang, mereka tidak akan percaya bahwa dia hidup berdampingan dengan skizofrenia. Rutinitas menjadi napas hidupnya. Kami menjaga stres tetap rendah.

Aku menatap foto itu lagi. Baskoro menyentuh pundakku. Sekar baru saja menelepon, tertawa soal rencana liburan kami berikutnya. Kami adalah satu tim. Skizofrenia mungkin tamu yang tidak diundang, tetapi dia tidak akan pernah merebut rumah kami.

Masih ada hari-hari di mana beban itu terasa terlalu berat untuk dipanggul. Namun, aku sudah menemukan kedamaian. Bayu hidup dengan tujuan. Aku pun sudah kembali berhak untuk hidup dengan caraku sendiri. Ini lari maraton, bukan lari cepat. Selama kita masih bisa menertawakan kesedihan dan terus mencintai, kita akan selalu menemukan jalan pulang.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(