Mengapa Jejak Pelaku Penyerangan Novel Masih Gelap?

Satu tahun berlalu sejak mata Novel Baswedan terbakar oleh cairan kimia yang disiram tangan pengecut di lorong subuh. Mata kirinya hancur hampir total. Ia harus bolak-balik menjalani operasi demi operasi demi mempertahankan sisa penglihatan agar tetap bisa bekerja. Hidupnya melenceng jauh dari jalur normal, penuh dengan tetes obat Dexamethasone dan tatapan mata yang terus kabur. Dia bertahan di antara bayangan, menanti hari demi hari agar bisa kembali menatap berkas kasus korupsi di atas meja kerja.

Polisi berjanji. Mereka menaruh 160 penyidik untuk bergerak. Delapan puluh saksi dimintai keterangan. Sketsa wajah disebar ke seluruh penjuru kota seperti poster film aksi kelas dua. Namun, satu tahun kemudian, semua itu hanya menjadi tumpukan kertas laporan yang tidak berarti apa-apa.

Kombes Argo Yuwono berujar dengan santai di kantornya. Katanya, wajah pelaku belum jelas. Saksi yang dicari masih gelap. Sketsa wajah yang dirilis Kapolri Tito Karnavian ternyata salah, lalu diganti sketsa lain oleh Polda Metro Jaya, dan diganti lagi dengan sketsa baru. Sebuah sirkus administrasi yang memuakkan. Mereka membuka saluran pengaduan, menerima ribuan telepon dan pesan singkat, lalu hanya menindaklanjuti tiga saja. Sisanya dianggap sampah masyarakat yang iseng.

CCTV menjadi dalih paling klasik.

Mereka memeriksa 38 titik kamera, namun hanya dua yang menghasilkan rekaman. Sisanya mati, terhapus, atau resolusinya seburuk kualitas kerja mereka sendiri. Seratus sembilan toko kimia diperiksa, tidak ada transaksi mencurigakan. Semua petunjuk berakhir di tembok buntu yang mereka bangun sendiri.

Kecurigaan publik meledak. Banyak yang melihat kejanggalan dalam cara aparat menangkap lalu melepaskan terduga pelaku. Hasan, Muklis, dan Muhammad Lestaluhu pernah ditangkap, kemudian dilepas dengan alasan alibi kuat. Mereka adalah orang-orang dari kampung yang sama, Tulehu, dengan salah satu motor yang dipakai tercatat atas nama anggota Polda Metro Jaya. Kebetulan yang terlalu sempurna untuk ukuran sebuah penyelidikan hukum.

Novel sendiri bicara tentang jenderal polisi yang menghapus sidik jari pelaku di cangkir plastik bekas siraman. Jenderal yang diduga kuat mengatur skenario di balik kegelapan ini.

Polri menantang Novel membuka nama sang jenderal di ruang publik. Sang penyidik menolak. Dia tahu tempat yang benar untuk bicara adalah ruang pemeriksaan, bukan panggung sensasi media.

Banyak saksi ragu pada komitmen kepolisian. Koalisi masyarakat sipil berteriak lantang menuntut pembentukan tim pencari fakta independen karena mereka percaya polisi sudah tidak mampu lagi membedakan antara pelaku dan rekan kerja sendiri. Presiden Jokowi bergeming, menunggu isyarat tangan dari Kapolri. Sementara itu, waktu terus berjalan.

Novel bersiap kembali ke KPK.

Dia memesan kacamata baru agar bisa membaca kembali. Dia menolak untuk diam meski tahu bahwa diam mungkin adalah jalan paling aman di negeri ini. Dia takut ketidakjelasan kasusnya akan membuat para peneror semakin berani. Ketakutan itu nyata. Jika satu penyidik senior saja bisa dilumpuhkan di depan rumahnya tanpa ada satu pun pelakunya yang tertangkap, lantas siapa lagi yang akan merasa aman di negeri ini?

Kualitas penyidik dipertanyakan. Seharusnya kasus ini sangat mudah diungkap. Banyak saksi mata. Banyak bukti fisik. Jika polisi tidak mampu melakukannya, publik akan terus menunjuk hidung mereka. Novel lelah menunggu janji. Dia ingin keadilan, bukan sekadar basa-basi konferensi pers.

Keadilan tidak akan turun dari langit. Ia harus diperjuangkan, bahkan jika harus dilakukan dengan mata yang hanya tersisa sebelah.

Bagikan

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(