Langkah ke depan terasa berat karena sejarah yang sering kali menjadi beban yang ditaruh di punggung. Kita terjebak dalam memori kolektif yang dipupuk oleh kebencian warisan nenek moyang.
Ada mitos tentang Perang Bubat yang sudah berusia enam ratus tahun, namun sampai detik ini masih membuat orang Sunda dan orang Jawa saling menjaga jarak. Seperti cinta yang kandas karena ego, mereka memelihara dendam di alam bawah sadar, menolak untuk saling menyapa lewat nama-nama jalan atau sejarah yang lebih jujur.
Sultan Yogyakarta duduk satu meja dengan Ahmad Heryawan dari Jawa Barat. Mereka meresmikan penggunaan nama Jalan Siliwangi dan Jalan Pajajaran di Yogyakarta. Sebuah langkah yang terdengar sederhana di atas kertas, namun penuh makna di atas aspal. Nama-nama yang selama berabad-abad dianggap tabu kini menghiasi sudut jalan di ibu kota budaya tersebut. Sebaliknya, representasi kebesaran Jawa juga mulai mendapat tempat di tanah Pasundan. Mereka mencoba menghapus garis demarkasi yang dibuat oleh ketakutan-ketakutan lama.
Rekonsiliasi bukan perkara gampang. Ia menuntut kejujuran untuk mengakui bahwa masa lalu pernah membusuk. Ia memaksa kita membuka lembaran yang selama ini dibakar atau disembunyikan di balik lemari. Tanpa pengakuan atas luka, persahabatan hanyalah pura-pura yang diikat oleh jabat tangan di depan kamera wartawan.
Masa lalu berfungsi seperti kaca spion pada kendaraan. Pengemudi perlu meliriknya sesekali agar tidak menabrak, namun fokus utama tetap pada jalanan di depan. Kita sering kali keblinger. Mata kita terpaku pada spion terlalu lama, sementara mobil yang kita tumpangi melaju tak tentu arah dan hampir terperosok ke dalam lubang.
Diplomasi nama jalan ini merupakan usaha kecil untuk memutus rantai mitos yang tidak ada habisnya. Kita butuh banyak langkah serupa di tempat lain. Bangsa ini berserakan dalam simpul-simpul kebencian yang tidak perlu. Kita terlalu sering menyandera masa kini hanya untuk melayani hantu masa lalu yang sudah tidak punya gigi.
Rekonsiliasi kultural mengajarkan kita bahwa memaafkan adalah bentuk tertinggi dari keberanian. Tidak ada bangsa yang mampu menulis ulang catatan sejarah yang sudah mengering, tetapi setiap bangsa berhak memilih untuk tidak menjadi tawanan dari sejarah tersebut. Jalan-jalan sudah diberi nama baru. Sekarang, tinggal kaki-kaki kita yang harus membuktikan apakah kita berani melangkah maju tanpa lagi menoleh ke belakang dengan rasa benci yang tak beralasan.