Kita merayakan kelahiran seorang manusia agung dengan seremonial yang makin tahun makin bising. Poster-poster megah memenuhi tiang listrik, spanduk ucapan selamat bertebaran seperti daun gugur, namun esensi sang tokoh sering kali tertinggal di parkiran gedung pertemuan. Kita sibuk merayakan hari jadinya, tetapi lupa membaca kitab perilaku yang dia tinggalkan sebagai warisan.
Muhammad ﷺ datang ke tengah padang pasir yang membakar. Suku-suku di sana memiliki kegemaran aneh. Mereka merasa paling mulia, paling suci, paling berhak memegang kendali. Jika suku sebelah punya pemimpin, suku lain harus menjatuhkannya, entah dengan adu mulut atau adu pedang. Perbedaan bagi mereka adalah racun yang harus dimusnahkan.
Nabi ﷺ memutar balik arah angin.
Beliau memperkenalkan gagasan yang dianggap radikal di zaman itu. Bahwa manusia lahir dengan derajat yang sama. Tidak ada kemuliaan yang melekat pada garis keturunan atau warna kulit. Pemimpin muncul bukan karena dia berasal dari golongan yang merasa paling benar, melainkan karena dia membawa kemaslahatan bagi orang banyak. Beliau merobohkan tembok-tembok kesukuan yang membuat orang merasa lebih manusiawi dibanding tetangga mereka.
Madinah menjadi bukti nyata. Di sana, penganut berbagai keyakinan duduk semeja. Mereka menyusun kesepakatan untuk hidup berdampingan. Nabi ﷺ tidak memaksa orang lain menjadi satu warna. Beliau menghargai perbedaan dan menjaganya agar tidak saling tindih. Itulah yang kini kita sebut masyarakat madani, sebuah istilah yang terdengar keren dalam pidato-pidato pejabat, meski praktiknya sering kali cuma jadi pajangan di rak buku.
Kita terlalu sibuk mengklaim bahwa kita pengikutnya, namun kita tidak pernah benar-benar menoleh pada ajaran toleransi yang beliau contohkan. Maulid tahun ini seharusnya menjadi cermin. Kita menatap wajah kita sendiri, melihat apakah ada sisa kebencian yang masih menempel, atau apakah kita sudah membuang kemanusiaan demi ambisi yang fana.