Kartu pos bergambar Pantai Tanjung Tinggi itu tergeletak pasrah di atas lantai ubin semen ruang tamu Laras. Hari itu hari Selasa, tipe hari melelahkan yang tidak memiliki beda sedikit pun dengan hari Senin sebelumnya, penuh dengan tumpukan berkas kantor yang membosankan. Laras menatap benda itu dengan dahi berkerut, menduga tukang pos salah menyelipkannya lewat celah bawah pintu kayu apartemennya yang mulai lapuk di pinggiran Jakarta Timur ini.
Aneh. Tidak ada amplop pembungkus, tidak ada prangko dinas pos, dan tidak ada nama pengirim di sudut mana pun.
Foto lautan biru dengan batu-batu granit besar di atas kertas karton tebal itu sudah agak menguning pada bagian tepinya, menyiratkan usia yang tidak lagi muda. Saat Laras membalikkan kartu tersebut, aroma garam laut mendadak menyeruak memenuhi rongga hidungnya, mengalahkan bau pengharum ruangan kimia murah miliknya. Di sana, tertulis sebaris kalimat dengan tinta hitam yang tebal, menggunakan gaya tulisan tangan yang kaku, tegak, dan sarat penekanan: Kamu meninggalkan janji ini di tempat yang masih konsisten kudatangi.
Laras terpaku sangat lama di dekat pintu.
Ingatannya melompat mundur, mengais-ngais seluruh laci masa lalu, mencari tahu kapan ia pernah menginjakkan kaki di pantai berbatu itu. Seingatnya, ia tidak pernah mengambil cuti panjang untuk pelesir ke luar pulau selama lima tahun belakangan semenjak ayahnya mendadak jatuh sakit dan meninggal dunia. Kehidupan Laras berputar secara mekanis di antara kereta komuter pagi yang padat, kubikel kantor yang sempit, dan mi instan rebus menjelang tidur.
Malam semakin larut saat Laras memutuskan meletakkan kartu misterius itu di atas meja dapur, tepat di samping wadah gula yang bersemut. Ia membiarkannya begitu saja, menganggapnya sebagai keisengan orang kurang kerjaan yang salah alamat.
Keanehan justru baru bermula pada hari berikutnya.
Perubahan terjadi secara perlahan, tidak meledak-ledak, melainkan menyelinap lewat detail-detail kecil yang mengusik kewarasan Laras. Pagi hari saat menyeduh kopi, ia menemukan sebuah cangkir keramik hijau lumut bermotif retak seribu teronggok di dalam rak piringnya. Laras yakin betul ia hanya memiliki tiga cangkir putih polos di rumah ini. Ketika ia memakai jaket andalannya untuk berangkat kerja, bau angin laut yang asin dan basah tercium sangat kuat dari kerah kainnya, membuat rekannya di dalam kereta sempat menoleh heran.
Laras merasa ruang apartemennya yang berukuran tipe tiga puluh enam itu mendadak menjadi lebih padat, seolah ada entitas tidak terlihat yang sedang mengawasinya dari balik sudut-sudut tembok.
Rasa tidak tenang itu memuncak pada hari ketiga, mendorong Laras mengambil selembar kertas catatan kecil dan sebuah pulpen gel hitam. Ia tidak tahu kepada siapa tulisan ini ditujukan, namun mengabaikan pesan di meja dapur itu rasanya jauh lebih membebani pikirannya saat ini. Dengan tangan sedikit bergetar, ia menggoreskan jawaban: Aku tidak mengingat pernah mengikat janji di pantai mana pun. Namun, aku terus berpikir jangan-jangan aku yang selama ini lupa cara pulang dengan benar.
Ia menaruh kertas balasan itu berjejer dengan kartu pos Pantai Tanjung Tinggi.
Malam membentang sunyi di luar jendela, menyisakan suara deru kendaraan dari jalan raya yang terdengar lamat-lamat. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit ketika terdengar sebuah ketukan pelan di pintu depan.
Tok.
Hanya sekali. Ketukan itu terdengar berwibawa, tidak mendesak, seolah si pengetuk sangat yakin bahwa penghuni di dalam pasti akan membukakan pintu. Laras berjalan mendekat, memutar grendel kunci dengan gerakan mantap tanpa keraguan, lalu menarik daun pintu lebar-lebar.
Cahaya lampu koridor yang kuning temaram menyinari sosok seorang lelaki bertubuh jangkung yang berdiri dengan kemeja flanel pudar. Wajah lelaki itu membawa gurat kelelahan yang dalam, namun matanya bersinar tajam saat menatap langsung ke dalam manik mata Laras.
“Kupikir aku menaruh pesan yang tepat untukmu,” ucap lelaki itu, memecah kesunyian lorong apartemen dengan suara bariton yang berat.
Laras menahan napas, mengenali getaran suara itu, mirip dengan suara yang kerap muncul dalam mimpi buruknya tentang kecelakaan bus pariwisata bertahun-tahun lalu. “Kupikir aku sudah membaca tulisanmu.”
Lelaki itu mengangguk pelan, lalu perlahan menggeser posisi berdirinya ke arah samping kiri, membuka ruang di balik punggungnya.
Jantung Laras mendadak berdegup kencang, seakan melompat keluar dari rongga dada ketika melihat sosok perempuan yang berdiri di belakang lelaki itu. Perempuan itu mengenakan gaun putih sederhana, rambutnya yang panjang agak basah oleh sisa gerimis luar, dan wajahnya merupakan replika sempurna dari wajah Laras sendiri. Persis tanpa ada perbedaan satu senti pun, kecuali tatapan mata perempuan itu yang terasa jauh lebih dingin dan kosong.
“Aku sempat mengira kamu memilih mengabaikan pesan itu selamanya,” kata perempuan bergaun putih itu, melangkah maju mendekati ambang pintu.
Laras mundur dua langkah, tangannya mencengkeram pinggiran meja dapur untuk menjaga keseimbangan tubuhnya yang mendadak lemas. “Aku tidak tahu kalau kalian berdua nyata.”
“Kami selalu nyata, Laras,” sahut lelaki berkemeja flanel sambil melirik ke arah dua lembar kertas di atas meja dapur. “Kamu yang memilih mengubur kami di kepala mudamu agar kamu bisa terus melanjutkan hidup di kota ini tanpa rasa bersalah.”
Plakat nama apartemen di dinding mendadak bergoyang pelan. Laras menatap perempuan yang memiliki wajah persis seperti dirinya itu, menyadari sebuah kebenaran pahit yang selama ini ia kunci rapat-rapat di dalam sudut tergelap kesadarannya. Perempuan di depannya adalah ambisi masa mudanya yang ia korbankan demi uang, sedangkan lelaki itu merupakan cinta pertama yang ia tinggalkan di pelabuhan kecil Pulau Belitung demi mengejar karier di ibu kota.
Ketiganya berdiri membisu di ruang tamu yang sempit, terjebak dalam pusaran waktu yang mendadak berhenti berputar. Kartu pos di atas meja tidak lagi tampak seperti sepotong kertas biasa, melainkan berubah menjadi sebuah pintu gerbang ingatan yang menuntut penyelesaian atas segala keputusan masa lalu yang pernah diambil dengan egois.