Dinding batako kamar sewaan nomor sembilan itu tipis, setipis lembaran kertas pembungkus gorengan, mengirimkan segala macam bunyi tanpa peduli pada hak privasi penghuninya. Sekar tahu itu sejak minggu pertama menempati kamar berbau apak ini di bilangan padat Matraman. Air mendidih dari teko listriknya menjerit kecil, memotong lamunannya tentang tumpukan surat lamaran kerja yang belum mendapat balasan satu pun.
Tepat saat jeritan teko mati, sebuah suara menyusup dari balik dinding sebelah kanan.
Suara itu berat, datar, tidak terlalu keras. Bukan suara gaduh tetangga berantem yang biasa mengusik ketenangan malam, melainkan sebuah percakapan dengan jeda-jeda penuh perhitungan. Sekar mematung di depan kompor gas satu tungku miliknya, menahan napas, membiarkan uap air menyapu wajahnya yang penat.
Awalnya ia menduga itu sekadar obrolan sepasang kekasih yang menyewa kamar nomor sepuluh. Jakarta selalu penuh dengan manusia-manusia kesepian yang butuh teman bicara sebelum tidur. Namun, intonasi kalimat dari balik tembok itu lambat laun terasa terlalu tertata, menyerupai pembacaan naskah sandiwara radio zaman dulu yang dingin dan tanpa improvisasi.
“Kita melangkah ke arah berbeda,” kata suara lelaki di balik dinding.
Lama tidak ada jawaban. Keheningan dari sebelah sana mendadak terasa lebih pekat daripada suara bising knalpot motor dari jalan raya di luar.
“Bukan berbeda,” sahut suara perempuan, tipis dan tajam seperti sayatan pisau silet. “Kita memang tidak pernah berada di tanah yang sama sejak awal.”
Sekar merinding. Kalimat itu terasa menghantam ulu hatinya sendiri, mengingatkannya pada hubungan asmaranya yang kandas mengenaskan di bawah guyuran hujan Terminal Kampung Melayu dua tahun lalu.
Seminggu berlalu, percakapan misterius itu menjelma menjadi candu baru bagi Sekar. Ia mendapati dirinya sengaja mematikan televisi tabung empat belas inci miliknya hanya untuk duduk di lantai semen, menyandarkan punggung pada dinding pembatas, dan mendengarkan serpihan demi serpihan hidup orang lain yang bocor secara berkala. Kadang terdengar gesekan kaki kursi yang diseret, helaan napas berat, atau bunyi jentikan korek api gas.
Anehnya, Sekar tidak pernah sekalipun berpapasan dengan penghuni kamar nomor sepuluh itu di lorong sempit depan kamar, atau di dekat kamar mandi umum ujung koridor. Kamar itu selalu tampak terkunci gembok dari luar setiap kali Sekar berangkat membeli nasi rames di warung sebelah.
Malam Jumat yang basah oleh sisa gerimis, suara itu kembali lagi, kali ini terdengar lebih dekat, seolah-olah si pembicara sedang berbisik tepat di lubang telinga Sekar.
“Aku lelah berpura-pura tidak terjadi apa-apa,” ujar si lelaki.
“Kalau begitu, mari kita selesaikan malam ini,” jawab si perempuan, dingin tanpa emosi.
Seketika itu juga, terdengar suara hantaman benda tumpul yang amat keras ke dinding. Brak! Disusul suara tubuh yang ambruk ke lantai kayu, lalu senyap yang mencekam.
Sekar melompat berdiri, jantungnya berpacu liar menggedor rongga dada. Ia berlari keluar kamar, mengabaikan rasa takutnya, lalu menggedor pintu kamar nomor sepuluh dengan brutal. “Halo! Ada orang di dalam? Tolong jangan ribut-ribut!”
Pintu kayu tripleks itu mendadak terbuka dari dalam.
Seorang pria dengan kemeja batik kusut berdiri di ambang pintu, menatap Sekar dengan pandangan kosong yang membuat bulu kuduk berdiri. Sekar mengenali garis wajah itu dari foto buram di koran kriminal pos ronda yang ia baca kemarin pagi. Pria itu adalah Bagus, seorang buronan kasus pembunuhan yang dikabarkan tewas menembak dirinya sendiri di kamar sewaan ini tiga tahun lampau.
“Maaf kalau suara kami mengganggu tidurmu,” kata Bagus dengan nada datar yang persis sama dengan suara dari balik dinding tadi.
Sekar mundur selangkah, lidahnya mendadak kelu, terkunci oleh kengerian yang teramat sangat. Di belakang Bagus, seorang perempuan dengan leher terkulai aneh duduk di atas ranjang besi, menatap Sekar sambil melempar senyum tipis yang mengerikan.
Suara jangkrik di luar mendadak mati, meninggalkan Sekar yang terjebak di tengah lorong sunyi, menyadari bahwa dinding kamarnya selama ini tidak sedang meneruskan suara dari kamar sebelah, melainkan sedang memutar ulang rekaman dosa masa lalu yang tertinggal di sana.