Sore itu, langit di atas pegunungan Jawa Tengah tidak menunjukkan tanda-tanda murka. Awan putih berarak pelan, membiarkan matahari menyelinap di sela-sela dedaunan hutan lereng Gunung Muria. Bayu, kapten tim sepak bola “Banteng Muda”, memimpin dua belas anggota timnya yang berusia belasan tahun menuju mulut Goa Lawa.
“Ingat, jangan terlalu jauh. Kita cuma masuk sebentar,” seru Bayu.
Eko, asisten pelatih mereka yang baru berumur dua puluh lima tahun, mengangguk setuju. Mereka hanya ingin mencari petualangan kecil sebelum matahari terbenam. Senter-senter dinyalakan, membelah kegelapan goa dengan sorot cahaya kekuningan yang menari di dinding kapur yang lembap. Udara di dalam terasa dingin, menyentuh kulit dengan sensasi menusuk. Tetesan air dari langit-langit goa jatuh berirama, menciptakan melodi sunyi yang menenangkan.
Mereka tertawa, bercanda, bahkan sempat mengukir inisial nama di dinding goa, tidak menyadari bahwa di luar sana, langit sedang berubah warna menjadi kelabu pekat.
Hujan turun tanpa permisi.
Debit air di dalam goa meningkat drastis. Lorong-lorong sempit yang semula kering kerontang kini berubah menjadi saluran drainase raksasa yang membawa lumpur dan ranting. Bayu dan Eko berusaha membalikkan arah, namun air bah sudah menutup akses jalan utama mereka. Goa itu bukan lagi tempat bermain; ia telah berubah menjadi monster yang lapar.
“Mas Eko, airnya makin naik!” teriak Budi, anggota termuda.
Eko merangkul pundak anak itu. “Tenang. Kita naik ke atas. Cari dataran yang lebih tinggi!”
Mereka memanjat tebing batu dengan sisa tenaga yang ada, mencari ceruk kecil beberapa kilometer di dalam perut bumi. Di sanalah mereka terdampar. Di atas sebuah tonjolan batu yang sempit, dikepung kegelapan pekat dan suara gemuruh air yang meluap di bawah mereka.
Hari-hari berikutnya adalah ujian bagi jiwa manusia.
Tidak ada jam. Tidak ada matahari. Hanya ada gelap yang merayap di setiap inci kulit. Senter-senter mereka meredup, lalu mati satu per satu. Untuk bertahan hidup, mereka menjilat tetesan air dari dinding goa. Eko, sosok yang tenang di tengah kepanikan, mengajarkan mereka meditasi.
“Tutup mata kalian,” bisik Eko. “Tarik napas perlahan. Jangan biarkan rasa takut memakan oksigen kita. Kalau kalian panik, energi kalian habis.”
Di luar, tim penyelamat sudah tiba. Ibu-ibu menangis tersedu di depan mulut goa, memandangi sepeda-sepeda yang terparkir rapi, sebuah pemandangan yang menyayat hati. Namun, penyelam profesional pun gemetar menghadapi arus goa yang cokelat pekat. Jarak pandang nol. Mereka bahkan tidak bisa melihat tangan mereka sendiri.
Sembilan hari berlalu dalam kesunyian.
Dua penyelam asal Inggris, yang sengaja didatangkan dari luar negeri, bergerak perlahan di kedalaman goa. Mereka menembus lorong-lorong sempit yang membuat tangki oksigen mereka tergores dinding batu. Saat mereka berbelok di sebuah tikungan berlumpur, cahaya lampu penyelam menyinari sesuatu yang tak terduga.
Wajah-wajah pucat. Mata yang lebar karena rasa tidak percaya.
“Berapa orang?” tanya salah satu penyelam dengan suara tercekat.
Bayu, dengan suara parau menahan lapar, menjawab, “Tiga belas.”
Penyelam itu hanya bisa berbisik, “Bagus.”
Namun, perjuangan sesungguhnya baru dimulai. Bagaimana membawa dua belas anak yang tidak pernah menyelam keluar dari lorong-lorong maut tersebut? Oksigen di dalam ceruk mulai menipis. Monsoon tidak berhenti menumpahkan air. Seorang mantan penyelam tim elit bahkan gugur saat mencoba menempatkan tabung oksigen tambahan.
Pilihan akhirnya jatuh pada keputusan yang gila. Anak-anak itu akan dibius ringan, dipasangi masker oksigen, dan dibawa oleh penyelam melalui lorong-lorong sempit yang bahkan membuat orang dewasa merasa sesak.
Hari evakuasi tiba.
Satu per satu anak dibawa keluar. Jantung orang-orang yang menunggu di mulut goa berhenti berdetak setiap kali seorang penyelam muncul ke permukaan. Saat anak pertama muncul, sorak-sorai bercampur tangis pecah.
Satu. Dua. Tiga. Empat.
Proses itu memakan waktu berhari-hari. Hingga di hari terakhir, Bayu dan Eko keluar, menyusul yang lainnya. Mereka kurus, kulit mereka pucat, namun senyum kemenangan terukir di wajah-wajah yang sudah terlalu lama bersembunyi dari cahaya. Mereka selamat dari kegelapan yang mencoba menelan mereka hidup-hidup.
Goa Lawa kini tetap berada di sana, sunyi seperti sediakala. Wisatawan datang silih berganti. Namun, jika berdiri tepat di depan mulut goa, orang bisa merasakan sisa-sisa napas tiga belas manusia yang memilih tetap tenang di saat maut berada tepat di depan mata.