Malam itu, langit Desa Wanagiri seakan runtuh. Guntur menggelegar, membelah angkasa dengan kilatan cahaya yang membuat bayangan pepohonan jati di luar gubuk tua tampak seperti jari-jari raksasa. Hujan menghantam atap seng dengan suara bising yang menyiksa telinga. Bisma memandangi perapian yang apinya meredup, sisa kayu bakar mulai jadi abu. Dia menatap Sekar yang duduk memeluk lutut di sudut ruangan.
“Tempat ini ganjil, Sekar,” suara Bisma pecah. “Ada aura busuk yang mencium bau kematian.”
Sekar menyalakan batang rokok, menghisapnya dalam-dalam hingga bara di ujungnya memerah terang. “Kamu terlalu banyak baca komik hantu, Bas. Rumah tua begini memang pengap, itu wajar.”
Suara tawa Sekar belum hilang sepenuhnya saat udara di dalam ruangan berubah menjadi dingin yang menusuk tulang. Perapian yang tadinya menunjukkan sisa panas, mendadak mati total. Kegelapan merayap, menelan pojok-pojok ruangan dengan kecepatan yang tidak wajar.
Sebuah suara berbisik dari sudut langit-langit yang gelap.
“Sudah lama kutunggu kedatangan kalian.”
Bisma dan Sekar berdiri serentak. Keringat dingin membasahi tengkuk. Mata mereka menyisir setiap inci ruangan, memastikan tidak ada orang lain di sana selain mereka. Mereka tahu, gubuk ini kosong sejak belasan tahun lalu.
“Siapa di sana? Jangan main-main!” teriak Bisma.
Suara tawa yang terdengar seperti gesekan pisau di atas kaca membalas teriakannya. “Kalian pikir tempat ini tempat perlindungan? Kalian justru melangkah masuk ke dalam jebakan.”
Langkah kaki terdengar dari balik dinding kayu. Berat. Lambat. Seseorang atau sesuatu sedang berjalan mengelilingi gubuk. Sekar meremas lengan Bisma hingga kuku-kukunya membenam ke dalam kulit. Mereka tidak berani bergerak, napas mereka memburu, tersengal di antara debu yang berterbangan.
“Lari lewat pintu belakang, Sekar!” teriak Bisma.
Mereka berlari sekuat tenaga. Sepatu bot Bisma menghantam lantai kayu yang berderit nyaring. Namun, pintu belakang yang mereka tuju membanting diri dengan keras tepat saat mereka hampir sampai. Kunci besi yang tadinya berkarat mendadak berputar sendiri, mengunci mereka di dalam neraka kayu ini.
Ruangan itu dipenuhi kabut putih yang menyelimuti lantai. Sosok tanpa rupa mulai muncul di tengah ruangan, wujudnya berpendar pucat, tidak manusiawi, dan sangat menyakitkan untuk dipandang.
“Selamat datang ke rumahku,” suara itu memenuhi kepala mereka, bukan lagi lewat udara.
Cahaya di dalam ruangan tersedot masuk ke dalam tubuh sosok tersebut. Bisma mencoba meraih gagang pintu, tapi tangannya menembus kayu. Tubuh Sekar perlahan menjadi transparan, memudar di antara asap yang menyesakkan. Kegelapan menutup penglihatan mereka selamanya. Gubuk itu kembali sunyi, hanya menyisakan deru hujan di luar sana yang terus menutupi jeritan manusia yang hilang ditelan sejarah.