Fakta sudah kita gelar, dua cangkir spekulasi sudah kita seduh, cangkir pertama dan cangkir kedua. Tapi politik tingkat tinggi tidak berhenti hanya karena tiga jenderal sudah di rutan. Pertanyaannya sekarang: poros lama mau duduk manis melihat bentengnya dikuliti satu per satu?
Fakta dulu, tipis saja.
Dari berita yang saya baca sampai 4 November, belum ada menteri yang mundur atau dicopot sejak Listyo jadi tersangka. Yang bicara hanya pejabat hukum dan DPR, dengan kalimat yang aman semua. Yusril meminta masyarakat mempercayakan penyelidikan pada Polri. Ketua Komisi III Habiburokhman menghormati proses hukum dan berharap berjalan profesional dan transparan. Kata “profesional” dan “transparan” itu, di Senayan, biasanya muncul ketika orang belum tahu harus bicara apa.
Ada satu fakta yang mempertajam intrik dalam dua tulisan saya sebelumnya. Sebulan lalu, 1 Oktober, Prabowo melakukan reshuffle ketujuhnya dan melantik 18 pejabat. Listyo dicopot dari kursi Kapolri, digantikan Suyudi Ario Seto, lalu ditaruh di Istana sebagai Kepala Staf Kepresidenan menggantikan Dudung Abdurachman. Jokowi, saat ditanya, menyebutnya hak prerogatif Presiden dan mengingatkan Listyo sudah menjabat lima tahun delapan bulan, jadi memang wis wayahe. Seminggu kemudian, Istana membantah ada pembersihan orang Jokowi lewat reshuffle itu. Sebulan sesudahnya, orang yang “tidak dibersihkan” itu ditahan di Rutan Mabes.
Jadi kalau Listyo memang kuda Troya, yang membukakan gerbang adalah Presiden sendiri. Tuan rumah yang baik hati, atau tuan rumah yang ingin kudanya diparkir di halaman dalam supaya gampang diawasi. Pilihan kedua terdengar lebih masuk akal bagi saya, dan Gede Pasek rupanya sudah bilang hal serupa sebulan sebelum semuanya meledak: dinaikkan untuk diredam.
Mari berandai-andai. Kalau saya jadi kubu yang kehilangan kendali atas instrumen penegakan hukum, apa yang saya lakukan? Diam? Menunggu dipanggil penyidik? Skenario liar saya: serangan balik asimetris. Jalur formal di kepolisian dan Istana sudah dipagari, jadi perlawanan bergeser ke pinggir gelanggang. Lewat relawan, jaringan proksi, dan ruang publik digital. Buzzer panen lagi nih.
Jangan kaget kalau beberapa hari ke depan tiba-tiba ramai narasi tentang “kriminalisasi”, “pemberangusan lawan politik”, atau isu moral lama yang didaur ulang. Tujuannya bukan membebaskan Listyo, itu mustahil. Tujuannya pengalihan: meyakinkan publik bahwa yang terjadi bukan penegakan hukum atas penyadapan, melainkan perang kekuasaan biasa. Bisa juga ada friendly fire kecil di Senayan: rapat dengar pendapat, pemanggilan pejabat, atau lemparan kritik dari politisi yang kebetulan punya utang budi. (Saya tidak menuduh partai atau orang mana pun akan melakukannya. Saya cuma bilang, kalau itu terjadi, anda tidak perlu kaget.)
Bagaimana Istana membalas? Di sinilah skenario kedua saya: reshuffle terselubung.
Prabowo bukan tipe yang suka pidato menggebu-gebu soal perang. Cara militer: senyap, terukur, tapi tuntas. Penetapan tersangka mantan Kapolri memberinya alasan moral yang sangat mahal, dan alasan “keamanan negara dan pelanggaran hukum berat” adalah tiket terusan untuk merapikan kabinet tanpa dicap melanggar komitmen koalisi. Jadi, tebakan saya, pos-pos basah di energi, investasi, BUMN, atau komunikasi, yang oleh pengamat sering disebut titipan, tidak akan dipecat dengan alasan politik. Cukup dievaluasi kinerjanya, atau dibiarkan tersandung audit rutin. Halus, bersih, tanpa noda. Siapa saja mereka? Saya tidak akan menulis satu nama pun di sini, dan itu saya sengaja. Silakan anda simpulkan sendiri.
Yang menjadi poin penting, reshuffle ketujuh baru berlangsung sebulan lalu. Jadi kalau ada kocok ulang lagi dalam waktu dekat, itu akan jadi yang kedua dalam selang waktu sangat singkat. Saya belum menemukan kabar resmi soal itu. Yang ada justru fact-check Antara yang menyebut isu reshuffle awal November hanya opini di YouTube. Tapi tentu saja peluang itu sangat mungkin terjadi.
Kalau skenario ini jalan, posisi kosong itu mungkin diisi teknokrat murni atau purnawirawan yang garis komandonya hanya satu: ke meja Presiden. Pesannya jelas bagi siapa pun yang masih main dua kaki: permainan lama sudah tutup buku.
Akuarium kaca yang kita bicarakan sebelumnya kini berubah jadi etalase di tengah kota. Semua orang bisa melihat siapa yang masih mencoba menyalakan lampu di balik tirai, dan siapa yang harus menyerahkan kuncinya di pos penjagaan.
Layar teater politik kita memang jarang gelap. Yang sering gelap itu ruang servernya.