Enam ribu tahun. Sebuah durasi yang cukup untuk mengubah peradaban menjadi debu, membiarkan sungai berganti haluan, dan menghapus memori tentang siapa manusia-manusia malang ini sebenarnya. Di tanah dekat Mantua, Italia, sepasang kerangka ditemukan terkunci dalam pelukan abadi. Dunia modern menyambutnya dengan riuh rendah. Media massa berlomba membungkus temuan ini sebagai kisah cinta tragis, menyandingkannya dengan Romeo dan Juliet, seolah-olah kematian purba adalah komoditas romansa yang layak dijual di rak-rak toko sebelum Hari Valentine tiba.
Elena Menotti, sang arkeolog, bergetar hebat saat memandang tulang-belulang itu. Ia telah menyisir Pompeii dan situs-situs mentereng lainnya, namun tumpukan kalsium yang saling mendekap ini memancing emosi yang tidak mampu ia bendung. Betapa mudahnya kita memproyeksikan hasrat kita sendiri ke atas tulang-tulang yang sudah tidak punya suara. Kita menciptakan mitos tentang kesetiaan tanpa batas, padahal mereka mungkin hanyalah dua raga yang diletakkan begitu saja oleh tangan-tangan yang tersisa setelah napas mereka berhenti.
Data ilmiah kemudian datang dengan dingin. Tidak ada tanda kekerasan. Tidak ada cerita tentang pertarungan maut. Keduanya berusia sekitar dua puluh tahun, dengan tinggi tubuh yang sama-sama pendek. Mereka hanyalah manusia biasa dari zaman Neolitikum, masa di mana kehidupan jauh lebih brutal dan singkat daripada narasi puitis yang kita ciptakan hari ini.
Ketiadaan bukti pemukiman di sekitar lokasi penemuan justru menjadi ironi. Daerah itu hanyalah rawa yang dikelilingi sungai. Tempat yang sempurna untuk mengawetkan mayat dalam lumpur, namun gagal memberi kita petunjuk mengenai bagaimana mereka hidup atau mengapa mereka berakhir dengan posisi yang begitu intim. Kita dipaksa puas dengan keheningan benda mati.
Keputusan untuk mengangkat satu blok tanah utuh bersama kerangka tersebut terasa seperti upaya penebusan dosa oleh arkeologi modern. Mereka tidak ingin memisahkan tulang-tulang itu. Ada semacam rasa bersalah kolektif yang muncul, seolah-olah menceraikan mereka di laboratorium adalah tindakan kejam terhadap sebuah simbol cinta yang sudah terlanjur dipuja publik.
Di Modena, dua kerangka yang ditemukan bergandengan tangan memancing spekulasi baru yang lebih liar lagi. Ilmu pengetahuan modern dengan sombongnya membedah email gigi mereka, menemukan protein yang menegaskan bahwa keduanya adalah laki-laki.
Dunia mendadak bingung. Berbagai teori bermunculan. Apakah mereka saudara? Prajurit yang gugur dalam pertempuran? Atau sesuatu yang sengaja dikubur rapat dari sejarah? Sejarawan berkeringat dingin mencoba menjelaskan keberadaan dua pria yang berpegangan tangan dalam makam kuno, karena norma zaman itu tidak memberi ruang bagi tafsir cinta sesama jenis.
Kita terjebak dalam obsesi untuk memberi label pada sisa-sisa kematian. Kita tidak sanggup membiarkan tulang-tulang itu menjadi sekadar tulang. Kita menuntut sebuah cerita, sebuah drama, atau sebuah tragedi yang bisa kita pahami dengan logika masa kini. Padahal, mungkin saja mereka hanya dua manusia yang diletakkan berdampingan tanpa pretensi apa pun selain menaati adat penguburan yang sudah lama hilang dari ingatan manusia.
Bukankah kita selalu haus akan romansa, bahkan di atas kuburan yang dingin?