Saham, Satwa Keramat Orang Marind

Kalau Anda melaju di jalan poros Merauke menuju Distrik Sota, sesekali ada bayangan cokelat pasir yang melompat di balik kasim-kasim (ilalang) sabana. Cepat sekali, dan sudah lenyap sebelum sempat dipotret. Orang luar Papua hampir pasti berseru, “Lihat, kangguru Australia!”

Orang Marind cuma tersenyum tipis mendengarnya. Bagi mereka, satwa itu punya nama sendiri yang jauh lebih akrab di telinga: Saham.

Nama ilmiahnya Notamacropus agilis, walabi lincah, yang di buku-buku lama masih tertulis Macropus agilis. Hubungannya dengan kangguru merah raksasa di Australia mirip sepupu dekat dalam satu pohon keluarga besar bernama Macropodidae, “si kaki besar”. Keduanya marsupial. Bayi mereka lahir sebesar biji kacang, merayap sendiri ke kantung di perut induk, dan baru keluar berbulan-bulan kemudian.

Sandingkan keduanya, dan bedanya langsung kelihatan. Kangguru merah jantan bisa berdiri hampir setinggi dua meter dengan bobot sampai sembilan puluh kilo. Saham tingginya sekitar satu meter, dan beratnya paling banter dua puluh tujuh kilo.

Seperti kangguru yang disusutkan.

Orang sering menyangka Saham mengecil setelah terpisah dari Australia, padahal arahnya justru terbalik. Para ahli menyebut leluhur kelompok ini bertubuh ringkas dan hidup di hutan, dan yang berubah drastis justru garis kangguru besar di benua seberang. Papua dan Australia dulu satu daratan bernama Paparan Sahul. Selama jutaan tahun, belahan selatan benua itu mengering pelan-pelan. Hutan menyusut, padang terbuka melebar, dan air makin jauh dari rumput. Hewan yang ingin makan dan minum harus menempuh jarak jauh di bawah matahari tanpa naungan sama sekali, jadi tubuh besar dengan kaki panjang yang hemat tenaga tiap kali melompat, keluar sebagai pemenang. Dari situlah kangguru-kangguru raksasa lahir. Laut baru naik di ujung Zaman Es, memutus jembatan darat itu belakangan sekali, ketika kangguru besar sudah nyaman berdiri di padang kering.

Merauke tidak pernah mengalami tekanan semacam itu.

Sabana basahnya tetap subur, kayu putihnya meneduhkan, dan rawanya menyimpan air sepanjang tahun. Makanan ada tepat di depan hidung, jadi tidak ada alasan untuk berlari jauh atau membesarkan badan. Tubuh kecil malah jadi senjata. Di antara semak yang rapat, Saham bisa berkelit zig-zag dan lolos dari sergapan pemangsa yang lebih besar.

Satu hal lagi yang jarang dibahas: Saham bukan “kembaran” kangguru raksasa. Spesies yang sama persis hidup juga di utara Australia dan di selatan Papua. Satu spesies, dua sisi selat, dua ekosistem yang mirip.

Bagi orang Marind, saham adalah totem keramat, hewan warisan leluhur. Mereka menjaga saham dan sampai sekarang tetap hanya diburu secara tradisional. Perburuan liar dengan senjata besar telah memangsa populasi saham selama puluhan tahun. Menjelang sore di Taman Nasional Wasur, kawanan Saham keluar dari bayang kayu putih untuk merumput, terus berlari dan melompat sampai gelap turun.

Bagikan

Leave a Reply