Telur-telur itu masih utuh ketika ia berangkat pagi harinya. Dua puluh delapan butir, dihitung ulang sebelum dimasukkan ke keranjang, dialasi merang supaya tidak beradu di jalan yang berlubang.
Sumaridjem berumur delapan belas tahun waktu itu. Setiap hari ia berjalan dari Godean ke pasar, menunggu bus di tepi jalan besar bersama orang-orang yang pulang sore.
Tanggal dua puluh satu September tahun tujuh puluh, matahari sudah turun ketika sebuah sedan berhenti tidak jauh darinya.
Yang tersisa dari petang itu adalah keranjang yang ditemukan tergeletak, isinya pecah sebagian, dan seorang perempuan muda yang ditinggalkan di pinggir jalan dalam keadaan tidak bisa berdiri sendiri.
Seorang perempuan tua yang pertama kali menemukannya berjongkok, menutupi tubuh itu dengan selendangnya.
“Rumahmu di mana, Nduk?”
Sumaridjem menyebut nama desanya, pelan sekali, sampai harus diulang dua kali.
“Ada yang bisa dipanggil?”
Ia menggeleng, lalu menyebut satu nama.
Orang-orang berkumpul. Ada yang menyarankan lapor ke polisi. Ada yang diam saja, memandangi keranjang yang masih tergeletak di aspal.
Di ruang pemeriksaan, yang ditanyakan berulang-ulang bukan ciri-ciri mobil itu, bukan berapa orang yang ada di dalamnya.
“Kamu Gerwani, ya?”
“Bukan, Pak.”
“Pernah ikut kumpulan?”
“Saya jualan telur, Pak.”
Pertanyaan itu kembali beberapa jam kemudian, dibawakan petugas yang berbeda, dengan urutan yang sama.
“Laporanmu palsu. Ngaku saja, biar cepat pulang.”
Sumaridjem tidak menjawab. Ia menunduk, memandangi meja yang catnya sudah mengelupas di bagian tengah.
“Kamu tahu mobil itu punya siapa?”
“Tidak, Pak.”
“Bagus. Jangan tahu.”
Ada malam-malam ia tidak diizinkan pulang. Ia menandatangani sesuatu yang dibacakan kepadanya. Kemudian ia mencabutnya lagi.
Kabar itu sampai ke Jakarta lewat koran. Harian KAMI menurunkannya, Indonesia Raya menurunkannya. Orang-orang Yogyakarta membaca dan menghitung sendiri kejanggalan-kejanggalannya.
Jenderal Hoegeng membentuk tim khusus untuk perkara itu.
“Periksa semuanya,” katanya di ruang rapat. “Jangan ada yang dilewati karena bapaknya siapa.”
Ada yang mengingatkan bahwa perkara ini bisa merembet ke mana-mana.
“Ya memang harus merembet,” jawabnya. “Kalau tidak, buat apa diperiksa.”
Beberapa bulan sesudahnya, perkara itu diambil alih oleh lembaga yang lebih tinggi, di luar kepolisian.
Bulan Oktober tahun berikutnya, Hoegeng dipensiunkan lebih awal dari yang seharusnya. Tidak ada penjelasan yang dibacakan di depan umum. Sesudahnya ia tinggal di rumahnya di Jakarta, sesekali melukis, sesekali bermain musik bersama kawan-kawan lamanya.
Beberapa pemuda ditangkap. Mereka penjual rokok, tukang becak, buruh harian. Tidak seorang pun dari mereka pernah mengendarai sedan.
Di persidangan, satu per satu mencabut pengakuan yang sudah diteken di kantor polisi.
“Kenapa dulu Saudara mengaku?”
Yang ditanya diam agak lama.
“Saya disuruh menandatangani, Pak Hakim.”
“Saudara membaca isinya?”
“Saya tidak bisa baca.”
Ruang sidang ramai sebentar, lalu diam lagi. Yang lain menceritakan apa yang terjadi di dalam sel sebelum tanda tangan itu diberikan, dengan suara yang makin pelan menjelang akhir.
Jaksa menuntut hukuman berat.
Hakim Budhi Rakhmadi membacakan putusannya pada hari yang sudah ditentukan. Para terdakwa dibebaskan. Dalam pertimbangannya, hakim menyatakan keterangan Sumaridjem dapat dipercaya.
Tidak ada nama lain yang disebut di ruangan itu.
Sesudah perkara itu selesai, tidak ada yang ditangkap lagi. Tidak ada sidang lanjutan. Berkas itu berhenti di situ.
Sumaridjem pindah ke Jakarta, bekerja di sebuah rumah sakit, dibantu seorang ibu yang menawarkan pekerjaan itu kepadanya. Beberapa tahun kemudian ia menikah.
Wartawan masih sesekali datang ke rumahnya, bertahun-tahun sesudahnya.
“Sebentar saja, Bu. Buat catatan sejarah.”
“Sudah, ya.”
Ia menutup pintu tanpa membanting, lalu kembali ke belakang, ke pekerjaan yang tadi ditinggalkannya.
Nama julukan yang diberikan koran-koran kepadanya masih dipakai orang sampai sekarang, di buku-buku, di tulisan-tulisan tentang hukum dan kekuasaan. Nama yang diberikan orang tuanya jarang disebut.