Langkah kaki saya mendadak terhenti di dekat belukar Taman Nasional Wasur, Merauke. Pandangan mata harus ekstra jeli menyisir tumpukan daun kering di bawah pohon kayu putih yang baunya menyengat hidung. Di sana, nyaris tak terlihat, melingkar seekor ular bertubuh pendek, gemuk, dengan kepala segitiga lebar mirip kapak pohon. Masyarakat lokal menyebutnya ular bodoh atau ular bodok. Nama yang sebenarnya agak menghina untuk predator penyergap dengan kecepatan serangan di bawah 0,13 detik.
Julukan itu melekat karena kelakuannya yang janggal. Ular lain akan melesat kabur begitu mendengar deru langkah manusia. Ular tanah Papua ini menolak bergeser satu sentimeter pun. Dia diam mematung. Pasif.
Banyak orang mengira dia tuli.
Anggapan itu diduga ikut melahirkan nama internasionalnya: Death Adder. Pemukim awal Australia menyebutnya deaf adder, beludak tuli, karena ular ini tak mau minggir dari manusia. Entah kapan dan bagaimana deaf berubah jadi death, tak ada yang mencatatnya. Mungkin juga nama itu sejak awal memang cuma merujuk pada bisanya yang mematikan.
Ular ini tidak tuli, dia justru sedang bekerja mencari makan.
Strategi berburunya luar biasa licik. Sambil menyembunyikan tubuh tambunnya di balik serasah, ujung ekornya yang tipis dan pucat justru dikeluarkan lalu digerakkan meliuk-liuk di depan moncong. Gerakan itu meniru persis geliat cacing tanah yang sekarat. Kadal lapar atau tikus semak yang ceroboh akan mendekat karena mengira ada sarapan gratis. Begitu target masuk radius beberapa puluh sentimeter, rahangnya membuka, taringnya menancap, dan racun sudah masuk sebelum korbannya sempat berkedip.
Marga ular ini Acanthophis, dan keluarga besarnya, Elapidae, berpusat di Australia. Spesies yang melingkar di bawah kayu putih Merauke itu bernama Acanthophis rugosus, dan jenis yang sama hidup juga di Northern Territory dan Queensland. Kalau kita nekat menyeberang ke pedalaman gurun Outback yang gersang, kerabat sekeluarganya di sana punya reputasi yang jauh lebih mengerikan, seperti Inland Taipan atau Eastern Brown Snake. Bisa mereka termasuk yang paling mematikan di planet ini.
Mengapa versi Papua di Merauke justru terkesan lebih “santai”?
Evolusi ternyata sangat bergantung pada kondisi logistik. Di gurun kering Australia, makanan adalah kemewahan. Ular gurun mungkin hanya makan sebulan sekali. Kalau mangsa yang digigit sempat kabur lima puluh meter lalu mati di balik bukit pasir, bangkainya langsung membusuk disengat matahari atau dicuri elang, dan si ular terancam mati kelaparan. Alam memaksa mereka memproduksi racun hiper-ganas yang melumpuhkan mangsa seketika di tempat.
Alam Merauke menghadirkan cerita yang bertolak belakang. Sabana subur Wasur adalah surga bagi hewan pengerat seperti tikus ladang (tuban), katak rawa, dan walabi kecil (saham). Mangsa melimpah. Ular tanah Papua tidak perlu stres memikirkan hari esok. Kalaupun katak yang digigit masih sempat melompat tiga kali sebelum lumpuh, makanan tidak akan ke mana-mana. Kemudahan hidup di tanah selatan Papua inilah yang perlahan melunakkan tensi evolusi racun mereka.
“Santai” di sini tentu saja hanya dalam konteks perbandingan dengan kerabatnya di Australia. Mereka tetap jajaran ular paling berbisa di dunia, dan terlebih lagi di pedalaman Papua antivenom nyaris tidak ada.
Kemiripan itu memicu pertanyaan yang terus mengusik. Bagaimana mungkin reptil merayap tanpa sayap ini bisa punya jenis yang sama persis di dua daratan yang kini dipisahkan Laut Arafura? Rahasianya tersimpan di bawah dasar laut yang dulu mengering total saat Zaman Es melanda bumi.