Bibit, Bebet, Bobot

Ponsel Ibu berdering jam sepuluh malam, dan aku tahu dari cara ia berjalan ke kamar sambil membawa telepon itu, bukan langsung diangkat di ruang tengah, ini bukan telepon biasa.

Aku pura-pura menonton televisi. Suara Ibu dari balik pintu kamar cuma terdengar samar, kata-kata yang lolos cuma “iya, Bu”, “insya Allah”, “nanti saya kabari lagi”.

Sepuluh menit kemudian ia keluar, duduk di sofa sebelahku, tidak langsung bicara.

“Itu Ibunya Rafi,” katanya akhirnya.

Aku menurunkan volume televisi. “Terus?”

“Mereka mau tanya-tanya dulu. Ke tetangga, katanya. Ke RT lama tempat Eyang dulu tinggal.”

Aku sudah dengar soal ini dari teman-teman yang sudah lebih dulu menikah. Keluarga tertentu, biasanya yang masih pegang kuat adat, suka melakukan semacam pengecekan sebelum lamaran resmi. Bibit, katanya, bebet, bobot. Dari keluarga mana, dibesarkan bagaimana, ada cacat apa di garis leluhurnya.

Aku pikir itu cuma soal penyakit turunan, atau utang, atau perceraian di keluarga besar. Bukan soal yang lain.

“Kenapa harus sampai ke tetangga lama?” tanyaku.

Ibu tidak menjawab langsung. Ia meraih remote, mematikan televisi yang tidak sedang ditonton siapa pun lagi.

“Eyang kakungmu dulu,” katanya, lalu berhenti.

Aku menunggu.

“Sudah, nggak usah dibahas sekarang. Kamu tidur saja. Besok masih kerja.”


Aku tidak bisa tidur sampai jam dua.

Eyang kakung, ayah dari Bapak, meninggal sebelum aku lahir. Yang aku tahu tentang dia cuma dari beberapa foto di album lama, seorang laki-laki kurus berkacamata, dan satu cerita yang diulang tiap Lebaran, bahwa dulu dia guru sekolah rakyat di daerah Boyolali.

Tidak pernah ada cerita lain selain itu. Dan sekarang aku sadar, mungkin memang sengaja tidak ada cerita lain.


Tiga hari kemudian, Ibunya Rafi menelepon lagi. Kali ini Ibu tidak masuk kamar. Ia duduk di ruang tengah, aku di sampingnya, sengaja tidak pergi.

Panggilan itu berlangsung singkat. Ibu banyak diam, sesekali menjawab “nggih, Bu”, nada suaranya lebih rendah dari biasa.

Sesudah ditutup, ia menaruh ponsel di meja, menatap layar yang sudah gelap itu cukup lama.

“Ada yang bilang ke mereka,” katanya, “kalau Eyang kakungmu dulu sempat ditahan. Tahun enam lima.”

Aku tidak tahu harus bertanya apa dulu.

“Ditahan kenapa?”

“Katanya dicurigai ikut rapat-rapat itu. Aku juga nggak tahu pasti, Bapakmu juga nggak pernah cerita detail. Eyang putrimu dulu selalu bilang, itu sudah lewat, nggak usah diungkit.”

“Terus sekarang gimana?”

Ibu mengangkat bahu, gestur yang biasanya dia pakai kalau memang tidak tahu jawabannya, bukan cuma pura-pura tidak tahu.


Rafi menelepon malam itu juga, suaranya seperti biasa, tidak ada yang berubah dari caranya menyapa.

“Kamu udah makan?” tanyanya, seperti hari-hari lain.

Aku bilang sudah, padahal belum. Kami bicara soal hal-hal kecil, rencana akhir pekan, teman kantornya yang baru resign. Tidak ada yang menyinggung soal telepon ibunya tadi siang. Aku juga tidak menyinggung.

Menjelang tutup telepon, ada jeda yang agak lama, lebih lama dari jeda-jeda biasa di antara kami.

“Ada apa?” tanyaku.

“Nggak ada apa-apa,” katanya. “Cuma capek aja hari ini.”

Aku tidak memaksa lebih jauh. Ia juga tidak melanjutkan.


Seminggu berlalu tanpa kabar dari pihak Rafi. Ibu tidak membahasnya lagi, aku juga tidak bertanya lagi, seperti ada kesepakatan tak tertulis di antara kami berdua untuk menunggu, tanpa perlu membicarakan apa yang sedang ditunggu.

Rafi masih menelepon tiap malam, masih tanya sudah makan atau belum, masih cerita soal kantornya. Suaranya sama seperti sebelumnya.

Tapi ia belum lagi menyebut, seperti biasa ia sebut tiap minggu, kapan keluarganya akan datang untuk lamaran resmi.

Aku juga belum berani tanya.

Bagikan

Leave a Reply