Rencana Cadangan

Matahari baru saja turun ketika Nyimas keluar dari kantor kejaksaan, meninggalkan bayang-bayang panjang di trotoar. Besok sidang. Sidang yang sudah disiapkan bertahun-tahun, melawan Rendra Wijaya, bos jaringan narkoba yang namanya lebih sering muncul di berita kriminal daripada di daftar pajak. Satu orang jadi penentu semuanya: Marwan, saksi kunci, yang bersedia bicara soal jalur pengiriman, soal siapa membunuh siapa. Tanpa Marwan, berkas setebal itu tinggal kertas.

Ponselnya berdering saat ia baru membuka pintu mobil.

“Bu, ini gawat. Marwan hilang,” suara Bripka Yusuf di seberang, agak terburu.

“Hilang gimana?”

“Terakhir kelihatan semalam. Rumahnya kosong. Yang jaga juga nggak ada kabar. Nggak ada tanda perkelahian.”

Tidak ada waktu untuk berpikir lama. Nyimas masuk mobil, menuju alamat terakhir Marwan. Seseorang menemukannya. Seseorang dengan kemampuan menembus pengamanan yang katanya paling ketat se-provinsi.

Pintu rumah kontrakan itu terbuka lebar. Bau kopi dingin masih tertinggal di ruang tamu. Kursi terbalik. Kertas berserakan di lantai. Marwan sendiri tidak ada.

Nyimas berjongkok di dekat meja yang terguling. Sehelai kertas kecil, terlipat, tersangkut di kaki meja. Tulisannya buru-buru, hurufnya miring-miring.

Mereka tahu. Jangan percaya siapa pun. Mereka akan datang.

Marwan sempat mencoba memperingatkan seseorang. Tapi siapa?

Nyimas keluar, meminta bantuan lewat radio. Ia butuh jawaban, dan butuh cepat. Di tangga rumah, ia berhenti sebentar. Jalanan sepi seperti sengaja dikosongkan.

Di kantor, potongan-potongan mulai tersambung. Marwan cukup takut sampai menulis catatan seperti itu. Dan seseorang di dalam lingkaran, seseorang yang dekat, membocorkan posisinya ke jaringan Rendra. Siapa.

Ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal. Suaranya diubah, tapi pesannya jelas.

“Pelabuhan. Jam dua belas malam. Kalau mau ketemu Marwan, jangan sampai kesiangan.”

Nyimas menimbang dua pilihan: datang ke pelabuhan dan mempertaruhkan diri masuk jebakan, atau terus mencari petunjuk lain sambil berharap ada waktu. Ia tidak yakin ada waktu. Kalau Marwan masih hidup, ia tidak mau kehilangan kesempatan ini.

Ia berangkat ke pelabuhan.

Wilayah itu kosong, hanya suara air menampar dermaga. Lampu mobil menyapu gelap. Ia berhenti, turun dengan senjata terhunus, matanya menyapu tiap sudut peti kemas.

Sesuatu bergerak di balik salah satu kontainer. Nyimas diam, memperhatikan. Sosok itu muncul, tinggi, jalannya pincang sebelah. Marwan.

“Marwan!” Nyimas berlari mendekat.

Marwan menoleh, wajahnya pucat, kelelahan. “Bu… mereka di mana-mana. Ibu harus hentikan mereka. Mereka—”

Suara letusan memotong kalimatnya. Peluru menghantam kontainer di samping Nyimas. Ia menjatuhkan diri ke tanah. Marwan ambruk, memegangi lambungnya.

“Tiarap!” teriak Nyimas. Ia melepaskan satu tembakan peringatan ke arah bayangan.

Tidak ada gunanya. Sosok itu keluar dari kegelapan, seorang pria berjas panjang, wajahnya separuh tertutup. Nyimas mengenalinya sebelum pria itu bicara.

“Rendra Wijaya.” Nyimas bergumam, berharap salah.

Rendra tersenyum. “Harusnya kau tahu dari awal. Marwan memang saya siapkan sebagai rencana cadangan. Sekarang, kau dan saksi kesayanganmu bisa hilang bareng.”

Nyimas bangkit, menembak ke arah suara itu. Tapi Rendra sudah menghilang lagi ke balik kontainer.

Sunyi yang menyusul terasa terlalu penuh. Marwan terengah, darah merembes dari sela jarinya.

“Bertahan, Marwan.” Nyimas berlutut di sampingnya, menekan luka itu dengan telapak tangan. “Kita keluar dari sini sekarang.”

Marwan menyeringai, memaksakan senyum. “Ibu bakal tangkap mereka. Saya yakin.”

Nyimas mengangguk. Rendra pikir sudah menang. Tapi dia belum pernah berhadapan dengan Nyimas yang benar-benar marah.

Pengejaran ini belum selesai. Baru saja dimulai.

Bagikan

Leave a Reply