Tut, Tut, Tut

Kotak besi menempel di dinding stasiun, di bawah atap seng yang bocor kalau hujan turun deras. Cat oranyenya mengelupas di sana-sini, meninggalkan bercak lebih gelap seperti kulit yang lama terpanggang matahari. Di bawahnya seorang lelaki berjongkok, menyapu debu dengan lap yang warnanya sudah tak jelas lagi.

Karto. Tiga puluh tahun ia berjualan koran dan rokok eceran di depan telepon umum itu. Tak pernah ia menghitung berapa kali orang berdiri di situ, gagang telepon menempel ke telinga, sesekali menoleh ke arahnya seolah minta izin bicara lebih keras.

Dua orang datang pagi itu. Tas kamera menggantung di bahu satu, tas alat pertukangan di tangan yang lain. Yang satu memotret dinding dari beberapa sudut. Yang satu lagi mengetuk kotak telepon dengan buku jari, tiga kali, seperti memeriksa dada.

“Masih bisa dilepas ini, Bang?”

Karto mengelap gelas kopinya yang sudah kosong sejak tadi. Diam sebentar.

“Punya Telkom ini.”

“Sudah dilepas resmi kok, Bang. Casing-nya doang. Buat kafe, biar ada nuansa jadulnya.”

Karto mengangguk. Tak ada yang bertanya anggukan itu berarti setuju atau sekadar gerak leher orang tua yang malas berdebat.

Dulu kotak itu berbunyi keras kalau pulsa hampir habis. Tut. Tut. Tut. Tiga kali, lalu putus. Orang-orang merogoh saku buru-buru, mencari logam lima ratusan, kadang menjatuhkan receh lain ke lantai yang lantas dipunguti sendiri, karena tak ada yang mau membantu orang gugup.

Karto sendiri pernah berdiri di situ. Bukan menjual koran.

Umurnya dua puluh dua waktu itu. Ada nomor Solo yang ia hafal luar kepala, tak pernah ditulis di mana pun. Setiap Jumat sore sehabis gajian, logam-logam sudah disusun rapi di kantong kemeja sejak pagi.

Percakapan tak pernah panjang. Nada tut selalu datang lebih cepat dari yang ia mau.

“Aku kangen,” katanya sekali, setengah berbisik, karena di belakangnya tiga orang antre mendengus tak sabar.

Tawa kecil di ujung sana. Tak ada kalimat balasan yang sama. Nada tut keburu memutus sebelum ia sempat bertanya kenapa.

Kabar pernikahan itu sampai dua tahun kemudian, bukan lewat telepon, lewat seorang teman yang kebetulan lewat menjual koran.

Tukang obeng membuka baut di sisi kotak sekarang. Karat berjatuhan seperti serbuk, menempel di sepatu Karto yang butut. Ia tidak bergeser.

“Ini nomor lama masih ada, lho, Bang.” Si pemotret menunjuk pelat kecil berkarat di dalam kotak yang baru terbuka, angka-angka nyaris tak terbaca.

Karto memandanginya sebentar. Bukan nomor yang ia hafal. Nomor itu sudah luruh dari kepalanya entah kapan.

“Nggak tahu. Saya jual koran doang di sini.”

Kotak lepas dari dinding, menyisakan empat lubang baut dan bercak cat yang lebih terang dari sekelilingnya.

Kedua orang membawanya ke bak mobil terbuka, mengganjal dengan kain. Salah satu menyalami Karto, menyelipkan uang dua puluh ribuan.

Karto menerimanya, memasukkannya ke kotak uang, di antara koran yang belum laku.

Mobil berjalan pelan meninggalkan halaman stasiun. Debu tipis mengepul dari ban, lalu hilang diterbangkan angin.

Karto duduk kembali di kursi plastiknya. Dinding di depan polos sekarang, empat lubang kecil dan bercak oranye pudar berbentuk kotak.

Ia menyalakan rokok, menghitung recehan. Lima ratus, seratus, lima ratus lagi. Disusunnya rapi, kebiasaan lama yang tak juga hilang meski tak ada lagi yang perlu dibayar dengan logam itu.

Kereta datang. Orang-orang turun, berjalan tergesa menatap layar telepon masing-masing. Tak satu pun menoleh ke dinding kosong di sudut stasiun.

Karto menghisap rokoknya sekali lagi, membiarkan asapnya naik, bubar di udara. Tanpa suara. Tanpa tut, tut, tut yang dulu selalu memberi tahu waktu sudah hampir habis.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(