Hujan baru saja membasuh sisa-sisa debu di Pelabuhan Tanjung Perak ketika pelanggan terakhir melangkah keluar dari toko buku kecil milik Doni. Bunyi tetes air yang menghantam kaca tua berirama, seolah mengetuk-ngetuk minta izin untuk masuk. Doni memutar papan gantung di pintu dari Buka menjadi Tutup, lalu menghela napas panjang. Toko buku ini warisan kakeknya, tempat di mana ribuan buku berdebu menumpuk layaknya fosil ingatan, termasuk sebuah wasiat aneh yang dulu dia anggap omong kosong belaka.
“Jangan pernah buang peta, betapapun ganjil bentuknya.”
Doni semula mengira kakeknya sedang melantur dalam senjakala usia. Anggapannya pecah berkeping-keping saat selembar perkamen tua meluncur jatuh dari balik halaman atlas yang mulai rapuh. Kertas itu tidak sekadar diam. Tinta di atasnya bergetar, membentuk garis-garis yang bergerak mirip cacing tanah mencari jalan di bawah tanah. Pegunungan muncul, bergeser, lalu hilang.
Pintu toko diketuk keras.
Sari berdiri di sana, basah kuyup oleh hujan yang tak kenal ampun. Dia kawan lama Doni yang bekerja sebagai kurator museum. Payungnya sudah menyerah pada angin, terlipat kaku seperti bangkai burung.
“Doni! Kamu belum tidur?” teriak Sari dari balik kaca yang berembun.
Doni membuka pintu. Udara dingin langsung menyerbu masuk.
“Cuaca begini kok nekat keluar rumah,” sahut Doni.
“Aku menemukan sesuatu yang perlu kamu lihat,” tawa Sari, memeras air dari lengan jaketnya.
Doni menggeser perkamen itu ke atas meja. “Aku pun punya sesuatu.”
Sari mendekat. Matanya membelalak. “Tadi benda ini tidak bergerak, kan?”
“Tepat sekali.”
Sari menahan napas. Di tengah perkamen, sebuah titik merah berkedip pelan. Di bawahnya, huruf-huruf muncul dengan elegan, lalu sirna begitu saja setelah dibaca: Temukan Kompas Pasang Surut sebelum matahari ketiga terbit.
“Ini tidak normal,” bisik Sari.
“Tolong katakan sebaliknya,” sahut Doni.
Sari mengingat arsip museum tentang Kapten Aldren, seorang penjelajah yang dalam dongeng penduduk pesisir memiliki kompas ajaib. Kompas itu konon tidak menunjuk utara, melainkan menunjuk arah menuju apa yang paling didambakan hati manusia. Alat itu menghilang berabad-abad silam, terkubur bersama mitos.
Doni menatap Sari dengan seringai gugup. “Jadi, kita memang akan memburunya?”
“Kamu tidak harus ikut.”
“Aku tahu, tapi kakekku pasti sudah merencanakan ini.”
Besok paginya, mereka menumpang kapal feri kecil menuju Pulau Karang Hitam, sebuah tempat terpencil yang hanya muncul di peta saat matahari baru saja menyembul. Tak satu pun pelaut di pelabuhan mengenal pulau itu. Nahkoda kapal menggaruk jenggotnya dengan gusar saat Doni menunjuk koordinat kosong di laut lepas.
“Laut senang mempermainkan orang, anak muda,” gumam sang nahkoda.
Kabut tebal menelan dunia hingga kapal bergerak meraba-raba. Tiba-tiba kabut itu terbelah. Di depan mata mereka, sebuah pulau bertebing curam muncul seperti punggung raksasa yang terbangun dari tidur panjang. Pantai sempit yang dipagari pohon pinus bengkok tampak seolah menarik-narik perhatian.
Nahkoda itu menggelengkan kepala. “Aku tidak akan pernah mau menepi di sana.”
Mereka ditinggalkan di pesisir dengan perbekalan seadanya. Pulau itu tidak ramah. Hutan lebat menyimpan suara burung berwarna biru menyala yang bernyanyi dalam nada asing. Doni mengikuti arah kompas yang melayang di tangannya, menyesuaikan jalur setiap kali mereka melangkah salah.
“Aku berhenti bertanya-tanya soal logika sejak sejam lalu,” kata Sari.
Doni tertawa getir. “Aku baru saja melakukannya.”
Menjelang senja, mereka menemukan reruntuhan batu kuno yang tertutup jalinan akar. Di tengah pelataran, berdiri tiga pintu identik yang dipahat langsung ke badan gunung. Tidak ada gagang pintu, tidak ada celah. Peta di tangan Doni membara, menampilkan kalimat baru: Hanya mereka yang memilih bersama yang dapat melangkah lebih jauh.
Di bawahnya ada tiga simbol: api, ombak, dan pohon.
Sari mengamati pahatan dengan teliti. “Api artinya keberanian. Ombak melambangkan kebijaksanaan. Lalu pohon?”
Doni menatap Sari. “Mungkin kepercayaan.”
Mereka menempelkan tangan pada simbol pohon secara bersamaan. Gunung bergetar. Pintu berukir pohon terbuka perlahan, menyambut dengan bau batu lembap yang dingin. Lorong-lorong moss yang bercahaya menuntun mereka jauh ke kedalaman pulau, sampai mereka sampai di sebuah gua raksasa dengan danau bawah tanah yang tenang.
Di tengah pulau kecil di tengah danau, seorang pria tua duduk diam. Dia tidak tampak kaget sama sekali.
“Aku menunggu pengunjung,” katanya tenang.
“Anda tinggal di sini?” Doni bertanya dengan suara yang bergetar.
“Aku menjaga sesuatu.”
Sari melangkah maju. “Kompas Pasang Surut?”
Pria itu mengangguk. Dia menunjukkan tiga meja batu. Satu berisi sekarung emas, satu berisi pedang permata, dan satu lagi hanya berupa lentera kayu tanpa api.
“Pilih dengan bijak,” perintahnya.
Doni ingat pesan kakeknya. Harta tidak ada gunanya jika kamu tidak tahu jalan pulang. Dia mengambil lentera itu.
Seketika lentera itu menyala. Emas dan pedang lenyap menjadi debu berkilau. Di dalam lentera, sebuah kompas kuno melayang.
“Kompas ini menunjukkan tujuan, bukan arah,” ujar pria tua itu.
Saat kompas itu berpindah ke tangan Doni, pulau mulai meruntuhkan dirinya sendiri. Tanah terbelah, langit-langit gua jatuh seperti kiamat kecil. Mereka berlari menembus terowongan yang runtuh, mengikuti cahaya kompas yang menuntun mereka ke jalan keluar yang tidak pernah mereka sadari keberadaannya.
Begitu mereka sampai di tebing, pulau itu lenyap dalam kabut, menyisakan laut kosong yang tak berpenghuni.
Kembali ke toko, kompas itu duduk manis di lemari kaca. Namun, ketenangan itu hanya bertahan seminggu. Suatu siang, jarumnya mulai bergerak liar lagi, menunjuk ke arah tumpukan jurnal tua. Di antara lipatan kertas, sebuah peta baru terjatuh.
Kali ini peta itu menunjukkan pegunungan tinggi di balik padang pasir yang tak tercatat di atlas modern. Sebuah kalimat muncul: Kota di Atas Awan menunggu mereka yang berani mendaki.
Sari datang dengan dua gelas kopi. Dia melihat Doni menatap peta itu dengan seringai yang sama.
“Tolong katakan bahwa itu bukan peta ajaib lainnya,” desah Sari.
Doni tidak menjawab. Dia hanya menyambar tas ranselnya. Petualangan terbesar selalu dimulai dari satu penemuan yang tidak direncanakan, dan untuk kesekian kalinya, mereka membiarkan dunia membawa mereka ke mana pun peta itu mau, jauh melampaui jalan-jalan yang mereka kenal.