Sorot lampu ruangan bawah tanah berkedip redup menyorot wajah Jung Ji An saat menduduki kursi kepemimpinan baru situs belanja senjata gelap Murthehelp. Kembalinya sang paman, Jung Jin Man, dari kematian palsu membawa gejolak baru di tengah kepungan musuh.
Dua orang ini langsung menyusun strategi serangan balik untuk menghantam markas besar organisasi Babylon. Dentuman ledakan dan desing peluru kembali memenuhi tiap sudut tempat pembunuhan massal berlangsung. Ji An memakai seluruh sisa kemampuan bertahan hidupnya, berdiri sejajar dengan Jin Man demi membalas dendam atas kekacauan yang menghancurkan masa mudanya.
Musim kedua selalu menyimpan jebakan mematikan bagi serial sukses.
Musim perdana menghadirkan kejutan manis lewat adegan pemakaman Jin Man dan kode hijau yang mewajibkan seluruh pembunuh bayaran melindungi Ji An. Landasan fondasi yang begitu kokoh tersebut rupanya menyebabkan babak lanjutan ini kewalahan menjaga kerapian alur. Rasa kagum saat pertama kali menonton mirip seperti pengalaman menyaksikan bentrokan berdarah dalam Kill Bill: Vol. 1, sebuah impresi segar yang mustahil terulang dua kali.
Penulis naskah sadar betul akan batasan tersebut, sehingga mereka mengalihkan fokus pada pembongkaran asal-usul organisasi, latar belakang karakter, serta pelipatgandaan jumlah mayat yang bergelimpangan. Daging terkelupas dan pecahan kaca bercampur aduk di layar tanpa henti. Karakter antagonis perempuan utama tampil gila-gilaan, menyebarkan amarah dahsyat yang lahir dari pengkhianatan dan penderitaan masa lalu. Amukan perempuan-perempuan bertangan dingin menjadi penggerak utama yang membakar tempo pertarungan.
Jangan pernah berharap memetik pesan moral yang luhur di sini.
Porsi tampil Ji An sedikit menyusut demi memberikan panggung lebih luas bagi aktor utama pria, tetapi keputusan ini terbayar lewat aksi laga yang lebih brutal. Naskah cerita menanggalkan logika akal sehat, membiarkan para karakter saling membantai dengan cara-cara paling tidak masuk akal. Tayangan ini murni hiburan pengocok adrenalin untuk dinikmati bersama semangkuk camilan di atas sofa.