Perempuan Berstoking Hitam

Akhir September tahun 2000 terasa gersang bagi Tirta. Tiga tahun silam dia menanggalkan seragam abu-abu, melanjutkan kuliah ringkas demi selembar ijazah Diploma Tiga dari kampus lokal di Kalisari. Pemuda tersebut melempar puluhan map cokelat berisi surat lamaran ke pusat metropolitan, berharap nasib baik sudi meliriknya. Nihil. Berbulan-bulan lembaran kertas tersebut lenyap tanpa kabar, meninggalkan dirinya membusuk di sudut kamar, menjadi beban moral bagi kedua orang tuanya yang kian menua.

Pengangguran adalah jenis penyakit kutukan yang perlahan menggerogoti harga diri lelaki.

Pertengahan Agustus membawa kejutan ganjil. Sebuah pucuk surat pos mampir ke rumah, berisi panggilan kerja dari pabrik perakitan komponen elektronik di Karangwangsa, kawasan industri yang terkenal membakar kulit. Tirta bingung, seingatnya dia tak pernah mengirim berkas ke sana. Akan tetapi urusan perut tidak mengenal gengsi; tawaran tersebut dia sambar tanpa pikir panjang.

Karangwangsa menyambut Tirta dengan debu jalanan yang pekat dan deru truk kontainer. Tanpa kerabat, tanpa koneksi, dia terpaksa menumpang tidur di selasar masjid agung selama tiga hari menjalani proses seleksi. Beruntung nasibnya mujur, status pemagang berhasil dia amankan. Berbekal petunjuk dari Kang Toto, seorang penarik ojek pangkalan yang kerap mangkal dekat area ibadah tersebut, Tirta menemukan rumah sewa di Perumahan Muara Jati.

Bangunan rumah sewa milik Haji Slamet berlantai tiga, tampak kokoh sekaligus pengap. Kamar-kamar lantai bawah penuh sesak oleh kaum pekerja pabrik, menyisakan satu petak kosong di ujung lorong lantai teratas.

“Cuma sisa kamar nomor dua puluh tiga ini, Mas,” ujar Haji Slamet sembari memutar anak kunci yang berkarat.

Tirta menatap ruangan berukuran tiga kali tiga meter tersebut. Tarif seratus ribu rupiah sebulan rasanya masuk akal untuk kantung tipisnya, lengkap dengan kamar mandi dalam yang beraroma lumut kering. Koridor lantai atas memisahkan enam kamar yang saling berhadapan; pembatas ujung lorong berupa tembok rendah setinggi pinggang dewasa. Kamar nomor dua puluh tiga berada di posisi paling sudut, memberi sedikit privasi yang dia dambakan.

Esok hari kesibukan baru dimulai, maka Tirta bergegas membersihkan sarang laba-laba dan debu tebal yang mengendap lama di lantai. Jam dinding menunjukkan pukul setengah lima sore ketika ruangan sebelah kanan mulai menghentak dengan dentuman musik cadas bervolume tinggi. Sebagai pendatang baru, Tirta memilih mengalah, mengistirahatkan tubuhnya di kursi plastik kecil dekat pintu.

Perut yang keroncongan memaksa Tirta turun mencari warung makan terdekat. Seperempat jam berlalu, dia kembali meniti anak tangga semen sembari menenteng sebungkus nasi rames hangat. Sunyi mulai merayap; sebagian besar penghuni kos tampaknya masih terlelap demi menyongsong jadwal kerja malam di kawasan pabrik.

Pintu kamar nomor dua puluh empat, tepat di seberang kamarnya, terbuka lebar. Seorang perempuan duduk di lantai teras depan pintu, melipat kedua lututnya dekat ke dada, tatapannya kosong menghujam lantai semen. Rambut hitam panjangnya terurai berantakan, menutupi sebagian wajah yang berhidung lancip. Dia mengenakan celana jins pendek sebatas paha, tetapi pandangan Tirta tertuju pada sepasang stoking hitam tebal yang membungkus kakinya hingga melewati lutut. Karangwangsa terkenal dengan hawa panas yang menyengat, membuat penampilan perempuan tersebut terasa ganjil sekaligus keliru.

“Sore, Mbak,” sapa Tirta, mencoba ramah demi sopan santun lingkungan baru.

Keheningan pekat membalas sapaan tersebut.

Perempuan tersebut bergeming, bahkan tidak sudi menggeser arah pandangannya seinci pun untuk melihat siapa yang berbicara. Tirta berdeham, mencoba mengulangi sapaannya dengan nada suara yang sengaja dia tinggikan. Perempuan berstoking hitam tersebut tetap membatu, seolah Tirta sebatas embusan angin malam yang lewat. Jengkel, Tirta masuk ke dalam kamar, mengunci pintu, lalu melahap makan malamnya dengan gusar.

Malam pertama berlalu hambar sebelum badai kegelapan datang melanda pada pukul delapan malam; aliran listrik padam total. Tirta memilih segera merebahkan diri di atas kasur busa tipis tanpa sprei, bersyukur dalam hati karena padamnya lampu memaksa kamar sebelah menghentikan kegaduhan musik mereka.

Kesunyian pekat mencekam ruangan. Tengah malam, saat kantuk mulai menguasai kesadaran, sebuah suara asing menembus celah ventilasi kamar Tirta. Suara isak tangis perempuan, pelan namun sarat akan kepedihan yang mendalam, menyayat keheningan malam. Bulu kuduk Tirta berdiri tegak; imajinasinya liar menggambarkan sosok-sosok mengerikan yang kerap menghuni cerita mistis perkotaan. Dia menarik selimut hingga menutupi seluruh kepala, menahan napas dalam kegelapan yang pengap. Detik jam dinding berkejaran dengan detak jantungnya yang bertalu-talu; suara tangisan misterius tersebut perlahan lenyap ditelan kesunyian malam.

Pagi hari menyapa dengan rasa pening yang menusuk ubun-ubun akibat posisi tidur yang salah. Tirta bergegas mandi, bersiap menuju pabrik; hari pertama kerja sebagai tenaga magang menuntutnya tiba sebelum pukul tujuh pagi demi kesan pertama yang sempurna di mata atasan. Di depan gerbang kos, Bi Romlah, seorang penjual nasi uduk paruh baya yang bermulut ceriwis, sudah dikerumuni antrean buruh pabrik yang hendak berangkat kerja.

“Ayo Mas, antre yang tertib, jangan serobot jatah sarapan orang!” seru Bi Romlah sembari tangannya cekatan membungkus nasi ke dalam daun pisang.

Sembari menunggu giliran, Tirta melayangkan pandangan ke arah lantai tiga bangunan kos. Di balik tembok pembatas koridor atas, perempuan berstoking hitam tersebut kembali berdiri, menatap kosong ke arah jalanan dengan ekspresi hampa yang persis sama seperti kemarin sore. Ingatan Tirta langsung melayang pada suara tangisan pilu semalam; keyakinannya menguat bahwa perempuan itulah sumber dari segala kesedihan yang mengambang di udara.

Jam-jam pertama di kantor PT Kilat Nusantara berjalan lambat bagi Tirta. Sebagai lulusan baru yang menempati posisi magang di departemen urusan umum, tugasnya cuma memeriksa lembar data inventaris barang karyawan; pekerjaan ringan yang menyisakan banyak waktu luang untuk melamun. Pikirannya terus berputar pada misteri perempuan berstoking hitam di seberang kamarnya. Apakah dia korban depresi akut, ataukah ada rahasia kelam yang menyelimuti kamar nomor dua puluh empat tersebut?

Hasrat ingin tahu memaksa Tirta untuk mencari informasi setibanya di kos pada sore hari. Dia menghampiri Jaka, penghuni kamar sebelah yang sore tersebut sedang asyik merokok di teras depan sembari mendengarkan lagu pop yang sedang populer.

“Kerja di pabrik bagian mana, Mas?” tanya Jaka membuka obrolan.

“Urusan umum, Mas Jaka. Baru mulai hari ini,” jawab Tirta sembari menerima tawaran duduk di bangku kayu.

Percakapan mengalir santai di antara kepulan asap rokok. Merasa suasana sudah cukup akrab, Tirta menurunkan nada suaranya, mencoba mengarahkan pembicaraan pada rasa penasarannya yang terpendam.

“Mas Jaka tahu siapa perempuan yang tinggal di kamar depan saya?”

“Memangnya kamar seberangmu ada penghuninya?” Jaka mengernyitkan dahi, tampak heran.

“Ada, Kemarin sore saya lihat sendiri. Dia pakai stoking hitam panjang sampai lutut.”

Jaka terbahak-bahak hingga terbatuk kecil. “Jangan-jangan kamu lihat lelembut penghuni kos ini! Saya kalau pulang kerja langsung tidur seperti kerbau, keluar cuma cari makan. Jangankan kamar depanmu, penghuni kamar sebelah kiri saya saja saya tidak kenal namanya.”

Tirta tersenyum kecut, menyadari bahwa tetangganya bukanlah informan yang berguna. Rasa penasaran justru kian mencengkeram benaknya; malam tersebut Tirta sengaja menyibak sedikit tirai jendela kamarnya, duduk terpaku di lantai sembari mengawasi pintu kamar nomor dua puluh empat yang tetap tertutup rapat sepanjang malam. Kantuk akhirnya menumbangkan pertahanan Tirta, membuat pemuda tersebut tertidur dalam posisi meringkuk di bawah jendela hingga fajar kembali menyembul dengan rasa sakit yang menjalar di sekujur lehernya.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(