Perempuan Berstoking Hitam

Akhir September tahun 2000 menampar Tirta dengan kenyataan kering kerontang. Tiga tahun luntang-lantung bermodal ijazah Diploma Tiga dari Kalisari, pemuda itu cuma bisa menumpuk map cokelat di pojok kamar. Pengangguran memang bajingan; dia pelan-pelan membunuh harga diri lelaki di hadapan muka tua orang tuanya.

Beruntung, sepucuk surat pos mengubah segalanya pertengahan Agustus. Panggilan kerja dari pabrik perakitan komponen elektronik di Karangwangsa. Tirta heran, kapan dia pernah melamar ke sarang penyamun berdebu itu? Masa bodoh, isi perut tidak butuh gengsi.

Karangwangsa menyambutnya dengan lengkingan klakson truk kontainer. Tirta terdampar, menggelandang di selasar masjid agung tiga hari berturut-turut demi lolos seleksi pemagang. Atas petunjuk Kang Toto, tukang ojek pangkalan yang kasihan melihat tampangnya, Tirta berakhir di rumah sewa berlantai tiga milik Haji Slamet.

“Tinggal nomor dua puluh tiga, pojok atas,” ketus Haji Slamet, melempar anak kunci karatan.

Seratus ribu sebulan untuk petak pengap ukuran tiga kali tiga meter berbau lumut kering. Tirta bergegas menyapu sarang laba-laba sore itu juga. Tepat pukul setengah lima sore, kamar sebelah kanan menghajar dinding dengan dentuman musik cadas. Tirta mengalah, memilih keluar mencari nasi rames demi menenangkan cacing di perutnya.

Langkah kakinya kembali meniti tangga semen lima belas menit kemudian. Koridor lantai tiga mendadak senyap. Pintu kamar nomor dua puluh empat tepat di depan kamarnya terbuka lebar.

Seorang perempuan duduk melipat lutut di lantai teras. Rambut hitam panjangnya acak-acakan, membentengi wajah berhidung lancip yang menatap kosong ke lantai semen. Celana jins pendeknya kontras dengan sepasang stoking hitam tebal yang membungkus rapat sepasang kaki hingga melewati lutut. Karangwangsa sedang membara oleh hawa panas, namun penampilan perempuan itu waras pun tidak.

“Sore, Mbak,” sapa Tirta, mencoba berbaur.

Perempuan itu membatu.

Jangankan menjawab, menengok pun dia enggan. Tirta berdeham, mengulang sapaan dengan volume naik dua kali lipat. Hasilnya nihil, perempuan berstoking hitam itu tetap bergeming layaknya arca pelonco. Tirta mendengus jengkel, menggebrak pintunya sendiri lalu mengunci diri di dalam kamar.

Pukul delapan malam, badai kegelapan datang. Listrik padam total. Tirta melempar tubuhnya ke atas kasur busa tipis tanpa sprei, bersyukur dalam hati karena musik cadas di sebelah akhirnya mampus.

Hening mencekik ruangan. Tengah malam, kesadaran Tirta yang hampir tumbang mendadak ditarik paksa oleh suara asing dari lubang ventilasi. Suara isak tangis perempuan. Pelan, tertahan, penuh kepedihan yang menyayat kulit ari. Bulu kuduk Tirta meremang seketika. Dibayangi cerita mistis kota industri, dia menarik selimut sampai ke ubun-ubun, menahan napas dalam bungkusan kain pengap sampai tangisan misterius itu gaib ditelan malam.

Pagi buta, Tirta terbangun dengan leher kaku. Sebagai kacung magang di PT Kilat Nusantara, dia harus tiba sebelum pukul tujuh pagi. Di gerbang kos, Bi Romlah sudah mengacungkan centong nasi uduk di depan kerumunan buruh yang kelaparan.

“Ayo Mas, antre! Jangan serobot jatah orang!” semprot Bi Romlah galak.

Sembari menunggu bungkusan daun pisang, Tirta mendongak ke lantai tiga. Perempuan berstoking hitam itu berdiri di balik tembok pembatas koridor, menatap lurus ke jalanan dengan sorot mata mati yang sama persis seperti kemarin sore. Otak Tirta langsung menghubungkan perempuan itu dengan tangisan keparat semalam. Ada yang tidak beres di kamar dua puluh empat.

Sayangnya, jam pertama kerja di departemen urusan umum berjalan membosankan. Tugas Tirta cuma mencocokkan data inventaris barang karyawan. Bosan melototi kertas, pikirannya malah melesat kembali ke misteri stoking hitam seberang kamar.

Sore hari, rasa penasaran itu membawanya nongkrong di teras lantai atas. Jaka, penghuni kamar sebelah yang bertubuh tambun, sedang asyik menyemburkan asap rokok ke udara.

“Kerja di bagian mana lo, Tir?” tanya Jaka membuka obrolan, asyik menggoyangkan kaki mengikuti lagu pop di radio mininya.

“Urusan umum, Jak. Baru hari pertama nih,” jawab Tirta sambil mendaratkan pantat di bangku kayu.

Asap rokok mengepul, mencairkan kecanggungan. Tirta condong ke depan, berbisik pelan. “Jak, lo tahu gak siapa cewek yang punya kamar di depan gue?”

Jaka menghentikan goyangan kakinya, dahi lelaki itu berkerut dalam. “Memangnya kamar seberang lo ada orangnya, Tir?”

“Ada, kemarin sore gue lihat sendiri. Dia pakai stoking hitam panjang sampai lutut.”

Tawa Jaka meledak seketika, membuat rokoknya hampir jatuh. “Hahaha! Jangan-jangan lo lihat lelembut penunggu kosan ini, Tir! Gue kalau balik kerja langsung tepar kayak kerbau, keluar cuma pas kelaparan. Jangankan kamar depan lo, penghuni kamar sebelah kiri gue aja gue kagak tahu namanya!”

Tirta tersenyum kecut. Tetangganya ternyata payah sebagai mata-mata. Malam itu, Tirta nekat menyibak sedikit tirai jendela, duduk bersila di lantai semen dingin sembari melototi pintu kamar nomor dua puluh empat yang tetap bungkam seribu bahasa hingga matanya terpejam paksa akibat didera kantuk luar biasa.

Bagikan

Leave a Reply