Celengan itu terbuat dari tanah liat, bentuknya babi gemuk dengan cat yang sudah mengelupas di bagian telinga. Icang mengeluarkannya dari balik tumpukan baju di lemari, meletakkannya di atas ubin kamar yang dingin. Ia mengangkat celengan itu tinggi-tinggi, lalu menjatuhkannya. Pecahannya berserak sampai ke bawah ranjang.
Ia berjongkok, memunguti recehan satu per satu dari sela-sela pecahan tanah liat dan debu. Uang logam itu ditumpuknya di atas sprei, dihitung. Bibirnya bergerak tanpa suara mengikuti angka. Selesai menghitung, ia mengacak tumpukan itu, menghitungnya lagi dari awal. Jarinya berhenti sejenak di angka terakhir, lalu ia ulangi sekali lagi, kali ini sambil menahan napas sampai hitungan penuh.
Diraihnya toples selai kosong bekas di rak dapur. Ia menuangkan recehan ke dalamnya, memutar tutupnya sampai bunyi decitnya berhenti. Toples itu diselipkannya ke dalam tas sekolah, dan ia keluar lewat pintu belakang, melewati jemuran yang masih menetes bekas hujan tadi pagi.
Jalan menuju apotek berbatu, becek di beberapa titik. Kaki kecilnya melangkah setengah berlari, sandalnya berkali-kali nyaris terlepas di tanah yang lembek. Enam blok, ia hitung dalam hati setiap kali melewati pos ronda dan warung kelontong yang catnya sudah pudar jadi abu-abu.
Apotek itu sempit, raknya penuh kotak obat yang tersusun rapat, sebagian labelnya sudah menguning. Kipas angin di sudut berputar miring, bunyinya berdenting setiap putaran ketiga. Ada bau alkohol dan minyak kayu putih bercampur jadi satu.
Icang berdiri di depan meja kaca, toples dipeluk di dada. Apoteker sedang melayani seorang ibu yang membeli obat batuk, lalu seorang kakek yang bertanya-tanya soal harga vitamin sambil membolak-balik dus obat. Icang menunggu, bergeser dari kaki kiri ke kaki kanan. Sekali ia membuka mulut, tapi tak ada yang menoleh. Ia mencoba lagi. Suaranya kalah oleh radio yang menyala di sudut ruangan.
Ia membuka tutup toples, mengambil satu keping lima ratusan, dan mengetukkannya ke kaca meja. Tiga kali.
“Mau beli apa, Dek?”
“Kakakku sakit. Aku mau beli mukjizat.”
Tangan apoteker berhenti di tengah menghitung uang kembalian untuk kakek tadi, koin masih terjepit di antara jarinya.
“Apa?”
“Kakakku sakit keras. Kata Bapak cuma mukjizat yang bisa nyembuhin dia. Aku mau beli. Ada, kan? Harganya berapa?”
“Kami tidak jual mukjizat di sini, Dek.”
“Aku punya uang, kok. Kalau kurang, aku cari lagi. Bilang aja berapa harganya.”
Di sebelahnya berdiri seorang laki-laki berkemeja rapi, jam tangan berkilat di pergelangan tangannya, menunggu gilirannya dari tadi dengan sabar. Ia membungkuk, sejajar tinggi Icang.
“Kakakmu sakit apa, Dek?”
Icang diam dulu, menggeser toplesnya ke tangan yang lain. Ditatapnya laki-laki itu, dari sepatu sampai kancing kemeja paling atas, sebelum akhirnya menjawab, pelan.
“Nggak tahu sakit apa. Ada yang tumbuh di kepalanya. Gede.” Ia mengukur dengan dua telapak tangan, jaraknya lebih lebar dari yang masuk akal. “Kata dokter harus dioperasi. Tapi Bapak nggak punya uangnya.”
“Terus uang itu buat apa?” Ia menunjuk toples di dada Icang.
“Buat beli mukjizat. Aku bawa semua tabunganku.”
“Berapa banyak?”
Icang mengintip ke dalam toples dulu, seolah angkanya bisa berubah kalau tidak dicek ulang.
“Sembilan ribu. Tiga ratus. Nggak, tunggu.” Ia membuka tutup toples, jarinya mengaduk recehan sebentar. “Iya. Sembilan ribu tiga ratus. Itu uang celenganku semua. Tapi aku bisa cari lagi kalau kurang.”
Laki-laki itu memandangi toples itu lama, lalu tersenyum, bukan pada Icang, pada sesuatu di kepalanya sendiri.
“Kebetulan sekali, Dek. Sembilan ribu tiga ratus itu pas harganya. Harga mukjizat buat kakakmu.”
Ia mengambil toples itu dengan satu tangan. Tangan yang lain menggenggam jemari mungil Icang, pelan, seperti menggenggam sesuatu yang gampang pecah.
“Yuk, antar Om ke rumahmu. Om mau ketemu Bapak sama Ibu, liat kakakmu juga. Mudah-mudahan ada mukjizat buat kakakmu.”
Rumah itu sederhana, catnya mengelupas di sekitar jendela, ada bekas rembesan air di plafon ruang tamu berbentuk peta yang menguning. Di kamar paling ujung, kakaknya berbaring, kepala dibalut kain basah.
Icang duduk di lantai dekat pintu, punggung menempel dinding. Dari situ ia hanya bisa melihat punggung laki-laki berkemeja rapi yang membungkuk di tepi ranjang, dan sesekali cahaya kecil menyorot, memantul ke dinding kamar seperti kunang-kunang yang diam sebentar lalu padam. Suara bapaknya menjawab sesuatu, pelan, dari ambang pintu, tapi kata-katanya tak sampai jelas ke telinganya, tenggelam oleh detak jam dinding yang terlalu keras untuk ruangan sekecil itu.
Matanya berat. Kepalanya miring ke bahu sendiri, dan yang terakhir ia ingat hanyalah bunyi decit sepatu kulit di lantai kayu, menjauh, lalu tak ada apa-apa lagi.
Minggu-minggu berikutnya berlalu tanpa banyak yang Icang pahami. Ia diantar menginap di rumah tantenya beberapa malam. Ketika ia pulang, kamar kakaknya kosong, sprei terlipat rapi, dan di meja dekat jendela ada botol obat berlabel yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Suatu sore, kakaknya berjalan masuk rumah sendiri, pelan, satu tangan menempel dinding, tapi berjalan. Ia duduk di tepi ranjangnya, tempat yang sama seperti dulu sebelum semua ini terjadi.
Malam itu di dapur, ibu mencuci piring di bawah lampu neon yang berkedip dua kali sebelum menyala stabil. Bapak duduk di kursi kayu dekat pintu, mengaduk kopi yang sudah dingin, sendoknya berdenting pelan ke dinding gelas.
“Operasi itu,” ibu berhenti membilas, air masih menetes dari jarinya, “beneran mukjizat ya. Coba kalau harus bayar, berapa ya kira-kira?”
Icang duduk di ambang pintu dapur, memeluk lutut, kaki telanjang menempel ubin yang dingin. Ia menggigiti ujung kuku ibu jarinya.
Ia tidak menjawab.