Urusan gengsi antar-bocah di kompleks perumahan Pondok Hijau selalu berputar pada perkara mainan atau kendaraan. Saat umur lima tahun, dunia terasa berputar di sekitar roda sepeda mini warna merah beroda bantu satu di sebelah kiri. Masalah besar muncul ketika pengurus RT mengumumkan festival sepeda hias dalam rangka agustusan.
Mardani, yang merasa punya darah seniman mengalir dalam tubuhnya, langsung mengambil alih urusan dekorasi. Beliau begadang semalaman, menggunting kertas krep, menempel kardus bekas wadah minyak goreng, dan memasang rumbai-rumbai plastik sisa bungkus detergen.
Pagi harinya, Boim sukses menangis meraung-raung melihat hasil mahakarya sang ayah. Sepeda mini kesayangannya berubah wujud menjadi tong sampah berjalan berhias rumbai-rumbai norak.
Anak-anak kompleks berbaris rapi memamerkan sepeda mereka yang cantik bagai pesawat tempur atau kereta kencana. Sementara Boim harus mengayuh rongsokan berjalan itu dengan muka ditekuk lima lipatan. Rasa malu berubah menjadi amarah. Boim mendadak menekan pedal sepedanya sekencang-kencang, melesat mendahului rombongan barisan.
Di depan rumah Haji Mansur, ada gundukan polisi tidur beton yang cukup tinggi. Boim melihat celah sempit di bagian paling kiri jalan, sebidang semen rata yang berbatasan langsung dengan bibir got pembuangan air warga. Sambil berdiri di atas pedal, Boim mengarahkan sepedanya ke celah sempit itu, melupakan fakta penting tentang keberadaan roda bantu di sisi kiri sepedanya.
Tragedi agustusan itu berjalan mulus tanpa hambatan. Roda bantu kiri menghantam pinggiran trotoar beton dengan keras, melempar tubuh Boim ke udara sebelum akhirnya mendarat dengan sukses di dalam got hitam berbau busuk. Posisi jatuhnya sangat epik, pantat mendarat duluan di atas lumpur comberan yang kental.
Seluruh peserta festival berhenti, menonton Boim yang menangis sejadi-jadinya dengan badan penuh lumuran air parit. Kepala Boim terbentur pipa besi pembatas got hingga bocor mengeluarkan darah segar. Tangisannya baru reda satu jam kemudian setelah sang ibu menyumbat mulutnya menggunakan es lilin rasa kelapa muda seharga lima ratus perak.
Setahun kemudian, saat Boim sudah berseragam putih merah kelas satu SD, urusan adu nyali ini kembali berulang. Siang itu dia sedang nongkrong bersama Gugun, anak tetangga berbadan bongsor yang tampangnya mirip preman pasar induk tapi punya satu kekurangan besar: tidak bisa mingkem. Gugun selalu berjalan dengan mulut menganga akibat amandel atau entah apa.
“Im, Boim, main gelantungan yuk,” ajak Gugun, air liurnya nyaris menetes di ujung bibir.
Boim yang sedang sibuk menggaruk celana monyetnya menggeleng malas. “Ogah, Gun. Panas.”
“Ya sudah, kita panjat pohon jambu di depan rumahmu saja.”
“Malah malas, banyak semut rangrangnya. Main boneka barbie saja di dalam rumah, adem.”
Gugun langsung melotot dongo. “Cemen kamu! Ikut aku sini, biar kamu jadi gagah mirip jagoan silat di televisi.”
Mereka berdua berjalan menuju lapangan voli warga kompleks. Entah karena malas atau kreatif berlebihan, para pembantu rumah tangga di kompleks itu menyulap tiang net voli menjadi tiang jemuran panjang berukuran lima meter. Tumpukan daster batik dan celana kolor berjejer rapi tertiup angin siang. Gugun dengan ringang melompat, memandangi palang besi jemuran, lalu bergelantungan mirip gorila kesasar yang kebingungan mencari pohon beringin.
“Ayo, Im! Naik sini! Masa kalah sama aku! Penakut kamu! Katro!” teriak Gugun dari atas jemuran.
Boim paling anti dituduh penakut oleh anak yang mulutnya tidak bisa mingkem. Dalam hati dia menggerutu, jangankan gelantungan di jemuran jempolan begini, melompat dari atap rumah juga dia jabanin. Boim langsung memanjat tiang besi, lalu ikut bergelantungan di samping Gugun.
Mereka berdua berayun maju mundur, membuat pakaian-pakaian basah di sekitarnya bergoyang heboh. Boim merasa dirinya sangat keren mirip kera sakti yang sedang menembus awan.
Detik berikutnya, pegangan tangan Boim yang licin oleh keringat terlepas. Tubuhnya meluncur bebas ke bawah dengan posisi kepala mendarat duluan di atas tanah keras berbatu. Bunyi benturannya terdengar cukup meyakinkan. Boim menjerit kesakitan, memegangi kepalanya yang mendadak basah oleh cairan kental berwarna merah.
Melihat temannya bersimbah darah, Gugun langsung melompat turun dengan muka pucat pasi. Ketakutannya pada amarah ayah Boim mengalahkan rasa setia kawannya.
“Gun, tolong, kepalaku sakit banget!” rintih Boim sambil bergulingan di tanah.
Gugun tidak menolong. Bocah bongsor itu justru mengambil langkah seribu, berlari sekencang-kencangnya meninggalkan lapangan voli sambil menangis ketakutan karena takut disalahkan. Persahabatan masa kecil mendadak terasa sangat murah dan tidak ada indahnya sama sekali.
Boim pulang ke rumah sambil meraba kepalanya yang terus mengucurkan darah. Ibunya yang sedang menyetrika pakaian langsung menjerit histeris melihat anak sulungnya pulang dalam kondisi mengenaskan. Sambil menangis panik, sang ibu memeluk Boim, lalu entah karena bingung atau refleks ibu-ibu jaman dulu, beliau justru menarik jempol tangan Boim lalu menciumnya berulang kali.
Anehnya, rasa nyut-nyutan di kepala Boim mendadak berkurang setelah jempol tangannya mendapat ciuman bertubi-tubi dari sang ibu. Logika medis mana pun jelas tidak akan pernah bisa menerangkan hubungan antara bocornya batok kepala dan pengobatan lewat jalur ibu jari tangan. Namun, kenyamanan pelukan seorang ibu siang itu jauh lebih manjur daripada obat merah mana pun di dunia.