Ruang persegi panjang itu tertutup rapat. Empat kursi. Empat orang duduk diam. Jam dinding menunjukkan pukul 8.59. Begitu jarum detik bergeser ke angka sembilan, lampu di ruangan sebelah menyala. Seorang pria berpakaian rapi berdiri di balik dinding kaca. Ia menatap ke dalam ruangan. Tidak ada senyum di bibirnya. Suaranya terdengar dari pengeras suara, datar dan lambat.
“Selamat pagi. Hanya empat dari kalian yang lolos ujian sejauh ini. Ini tes terakhir untuk menguji kemampuan pribadi kalian. Ini adalah kesempatan terakhir untuk bergabung. Kami butuh jawaban yang masuk akal. Jika jawaban diulang, yang pertama bicara yang dianggap benar. Hanya satu dari kalian yang akan melewati pintu di belakang. Sisanya keluar lewat pintu kiri. Semoga berhasil.”
Lampu di ruangan depan mereka menyala. Sebuah meja dengan amplop abu-abu dan timer yang mulai menghitung mundur dari lima menit.
“Kampret,” umpat Monti. Ia berlari ke meja. Tiga orang lainnya menyusul.
Ningrum menahan mereka. “Jangan berebut. Mereka menguji perilaku kita juga. Waktu kita lima menit. Dua puluh detik sudah lewat. Kita bagi rata waktu ini. Satu menit untuk setiap orang.”
Mereka setuju.
“Jadi, siapa yang mau maju lebih dulu?”, tanya Ningrum.
Tidak ada yang bergerak. Mulut terkunci rapat.
Ningrum melangkah ke meja. Timer menunjukkan 4:00. Ia membuka amplop abu-abu itu. Ada selembar foto dan catatan di dalamnya. Foto itu memperlihatkan tiga remaja dalam ruangan yang mewah. Catatan itu berbunyi: Selamat pagi, Rekan-Rekan. Tiga remaja ini bernama Randi, Oyong, dan Ongky. Oyong tewas di rumahnya saat merayakan ulang tahun ke-18. Ia ditikam di punggung kiri hingga menembus tulang belakang. Salah satu dari Randi atau Ongky adalah pembunuhnya.

Ningrum menatap foto itu. Tiga remaja laki-laki berdiri menghadap kamera. Mereka tampak bahagia. Ada salah satu remaja mengenakan kaos dengan huruf O. Timer menunjukkan 20 detik tersisa bagi Ningrum. Ia kehilangan ketenangannya.
Timer berdetak ke angka 3:00. Monti menarik Ningrum ke belakang. Ia menyambar catatan itu, matanya bergerak cepat. Ia mengambil foto itu, mengamatinya.
Timer menunjukkan 2:30. Samsul bangkit. Ia merogoh saku, mengeluarkan kaca pembesar kecil. Saat timer mencapai 2:10, Monti mengambil foto dan catatan itu, lalu memasukkannya kembali ke dalam amplop. Ia ingin Samsul kehilangan waktu untuk mengeluarkannya lagi. Monti kembali ke kursinya pada 2:01.
“Saya gagal,” ujar Ningrum.
“Saya juga,” sahut Monti. Ia menatap meja. “Saya bahkan tidak bisa menemukan yang mana korbannya.”
Samsul tidak menyerah. Ia membiarkan matanya menjelajahi foto itu melalui kaca pembesar. Ia memutar tubuhnya sendiri, bukan memutar foto itu, agar sudut pandangnya tepat. Timer menyentuh 1:00.
Tegar bangkit perlahan. Ia berjalan ke meja, mengangkat catatan itu setinggi mata. Ia berpikir sejenak, lalu menatap foto itu. Timer tepat di angka 00:00.
Lampu di ruangan sebelah menyala.
“Tes selesai. Silakan berikan jawaban kalian,” kata pria di balik kaca.
“Bagaimana kami bisa menemukan pembunuhnya hanya lewat foto?” teriak Ningrum. Pria itu tidak bereaksi. Matanya tertuju pada Monti.
“Selamat pagi, Ndan,” kata Monti. “Catatan menyebut Oyong ditikam di punggung kiri. Luka itu hanya terjadi jika pembunuhnya kidal. Di foto, anak di tengah memegang pisau dengan tangan kiri, tapi itu untuk memotong kue. Dia bertopi kerucut dan berkaos O, maka dia adalah Oyong. Anak di sebelah kanan memakai jam di tangan kiri. Itu berarti dia tidak kidal. Maka, sudah pasti anak di sebelah kiri adalah pembunuhnya.”
Monti melangkah mundur dengan bangga.
“Maaf, Letnan Monti,” jawab pria di balik kaca. “Jawaban Anda salah. Ada bingkai foto di dinding sebelah kiri foto itu. Bingkainya sedikit terpotong, tapi jika diperhatikan, ada foto keluarga di sana. Anak di dalam bingkai foto itu mengenakan pakaian yang sama dengan anak yang berdiri di sisi kiri. Artinya, anak di kiri adalah Oyong.”
Samsul maju. Dia tersenyum mengejek Monti. “Satu-satunya orang kidal yang tersisa di foto itu adalah anak di tengah, Ongky. Pembunuhnya adalah Ongky, Ndan.”
Samsul kembali ke kursinya. Monti tampak kesal.
Tegar tampak seperti sedang memikirkan sesuatu. Ia maju ke depan.
“Saya.”
Semua orang bingung. Samsul tersenyum sinis. “Jadi, kau mengaku membunuh Oyong?”
Ruangan sunyi. Tegar menatap pria di balik kaca. “Selamat pagi, Ndan. Catatan itu bukan pertanyaan. Itu tugas. Satu-satunya pertanyaan yang diajukan selama tes ini adalah pertanyaan Letnan Ningrum tentang siapa yang ingin maju lebih dulu. Jawaban saya adalah ‘saya’. Saya ingin maju lebih dulu.”
Pria di balik kaca tersenyum. Ningrum maju dan bersalaman dengan Tegar. Mereka berjalan menuju pintu belakang.
“Tapi saya memecahkan kasus pembunuhan itu! Itu lebih penting, bukan?” teriak Samsul.
“Sersan Tegar, apakah Anda punya jawaban untuk itu?” tanya pria di balik kaca.
Tegar berhenti. Ia berbalik. “The Starry Night, Ndan.”
Samsul tampak bingung.
“Apa maksudmu?”
“Lukisan di dalam foto itu terbalik, maka sudah pasti fotonya lah yang sengaja dibalik. Anak di tengah, Ongky, bukan pembunuhnya. Pembunuhnya adalah Randi.”
Tegar tersenyum, lalu pergi bersama Ningrum. Samsul dan Monti berdiri mematung. Kecewa.