Malam minggu itu Jaka menepati ucapannya. Jarum jam menunjuk angka setengah delapan ketika langkah kakinya berdentum di tangga semen, membawa serta seorang perempuan asing. Mereka berjalan menghampiri Tirta yang sedang duduk selonjoran di atas tembok pembatas selasar.
“Nad, ini cowok yang gue ceritakan tadi.” Jaka menunjuk dada Tirta dengan jempolnya. “Tir, kenalin, ini Nadya.”
Tirta mengulurkan tangan, menyambut jemari Nadya yang terasa hangat.
“Nadya,” kata perempuan itu seraya melempar senyum ramah.
Sosok Nadya tergolong pendek, kepalanya hanya sebatas telinga Tirta kalau mereka berdiri sejajar. Kulitnya putih bersih dengan rambut hitam lurus sebahu. Wajahnya sebenarnya manis, hanya saja bedak dan gincu yang menempel di pipinya agak terlalu tebal untuk ukuran nongkrong di selasar kosan.
“Ya sudah, kalian ngobrol saja dulu. Gue mau berangkat ngapel.” Jaka meninju bahu Tirta pelan. “Ingat pesan gue tadi pagi, Tir.”
Tirta cuma mendengus sambil menyeringai kecut. Setelah mengedipkan mata pada Nadya, Jaka melenggang turun meniti anak tangga, meninggalkan keharusan sosialisasi yang mendadak canggung.
“Kalian punya pesan rahasia apa sih?” Nadya langsung membuka suara, matanya berkedip penuh selidik.
“Ah, tidak ada apa-apa kok. Jaka memang suka ngaco kalau bicara.” Tirta bangkit dari tembok pembatas, menarik kursi plastik di depan pintunya. “Silakan duduk.”
“Kamu sendiri tidak duduk?”
“Aku berdiri saja, tidak apa-apa.”
Nadya melirik pintu kamar Tirta yang sedikit terbuka. “Kita mengobrol di dalam kamarmu saja yuk, biar bisa sama-sama duduk santai.”
“Di luar saja, lebih enak. Aku lagi ingin melihat angin malam,” tolak Tirta halus sembari melayangkan pandangan ke arah luar pagar. Di kejauhan, lampu-lampu pabrik kawasan industri berkerlip mirip sekumpulan kunang-kunang besi yang terperangkap di tengah ladang gelap. Pemandangan semacam ini selalu berhasil memanggil rasa rindu Tirta pada rumah orang tuanya di kampung halaman.
“Kamu sudah lama kenal Jaka?” Nadya memulai obrolan baru, mencoba mencairkan kekakuan.
“Belum lama. Aku baru sebulan tinggal di sini,” jawab Tirta. Angin malam Karangwangsa yang biasanya gerah, mendadak terasa sedikit sejuk menyapu tengkuknya. “Kamu sendiri teman sekolahnya dulu, kan?”
Nadya tertawa renyah. Cahaya lampu neon koridor memantul berkilat pada kawat gigi yang dipakainya.
“Kenapa malah tertawa?” Tirta heran.
“Lucu saja kalau mengingat zaman sekolah dulu,” sahut Nadya. Perempuan itu kemudian meluncurkan cerita panjang tentang masa lalunya bersama Jaka. Mereka dahulu sering bertengkar mulut hanya karena perkara sepele. Jaka terkenal sebagai bandit pencontek di kelas, dan Nadya, dengan segala idealisme remaja berseragam, selalu menjadi orang pertama yang melaporkan tabiat buruk Jaka ke guru piket. Pertengkaran demi pertengkaran masa lalu itu mengalir lancar dari bibir Nadya.
Tirta menyimpulkan bahwa Nadya perempuan yang cerdas. Dia pandai menghidupkan suasana dengan banyolan-banyolan segar, sama sekali tidak menunjukkan gurat kesedihan atau kemurungan akibat patah hati seperti yang Jaka ceritakan tadi pagi.
Waktu bergulir cepat di antara tawa kecil mereka, tahu-tahu jarum jam sudah mendekati angka sepuluh malam. Kamar-kamar di lantai bawah yang tadinya bising oleh petikan gitar dan obrolan para buruh, kini perlahan sunyi. Penghuninya mulai beranjak tidur demi mengejar bis pagi. Di lantai tiga, hanya tersisa Tirta dan Nadya yang masih terjaga. Dua kamar buruh mobil masih kosong karena penghuninya lembur, sementara pasangan suami istri di seberang kamar Jaka sudah mengunci pintu sejak magrib. Kamar nomor dua puluh empat di depan Tirta tetap membisu.
“Aduh, keasyikan mengobrol sampai lupa menawarkan minum,” ujar Tirta menepuk jidat. “Mau minum apa? Tapi di kamar cuma ada air putih galonan.”
“Tidak usah repot-repot, Tir.”
Mereka kini berdiri berdampingan, bersandar pada tembok pembatas koridor sembari memandangi kerlip lampu pabrik di ujung cakrawala.
Saat itulah pandangan Tirta menangkap sesuatu yang janggal.
Di seberang sana, sepasang mata sedang mengintip dari balik celah robekan kertas koran yang menempel di kaca jendela kamar nomor dua puluh empat. Perempuan berstoking hitam itu sedang mengawasi mereka.
“Kenapa, Tir?” Nadya bertanya, menyadari perubahan drastis pada raut muka Tirta yang mendadak tegang.
“Ah, tidak. Bukan apa-apa,” Tirta menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debar dadanya yang mendadak berantakan. “Kita turun saja yuk? Cari makan keluar. Perutku mendadak lapar.”
“Mau makan di mana?”
“Pecel lele dekat wartel depan perumahan. Sambalnya mantap. Mau?”
“Boleh juga,” Nadya menyetujui.
Meski menyimpan tanya di kepalanya, Nadya tetap melangkah mengikuti Tirta turun menuju kedai tenda pinggir jalan. Di bawah nyala lampu petromaks yang mendesis, mereka melanjutkan obrolan sembari menyantap lele goreng. Malam itu akhirnya tuntas setelah Tirta mengantar Nadya sampai ke pertigaan jalan raya untuk mencegat angkutan umum yang akan membawanya pulang ke kosan sendiri.
Tirta kembali meniti anak tangga semen rumah sewa yang kini sudah gelap. Begitu mencapai anak tangga teratas, langkah kakinya langsung terkunci. Sosok perempuan itu kembali duduk di lantai selasar, melipat lutut, menatap kosong ke arah kegelapan malam. Angin malam yang semakin dingin dan gigitan nyamuk seolah tidak mampu menembus kulitnya. Dia mematung.
Tirta memilih melangkah lurus, membuka pintu kamarnya sendiri, lalu menutupnya rapat tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia merebahkan tubuh di atas kasur busa, berguling ke kiri dan ke kanan demi mencari posisi tidur yang nyaman. Lima menit berlalu, berubah menjadi dua puluh menit, hingga setengah jam kemudian matanya tetap menolak untuk terpejam.
Kesal pada dirinya sendiri, Tirta bangkit duduk. Setelah menatap langit-langit kamar yang berdebu, dia memutuskan keluar lagi mencari angin segar. Di luar, perempuan itu masih ada di posisi yang sama, persis seperti patung lilin yang tidak bergeser satu milimeter pun.
“Nih,” Tirta menyodorkan botol losion anti nyamuk ke hadapan wajah perempuan itu. Tirta melihat jelas ada lebih dari lima ekor nyamuk sedang hinggap, berpesta menyedot darah di lengan kiri sang perempuan.
Keheningan malam menjadi jawaban. Perempuan itu tidak bergeming, bahkan bola matanya tidak bergerak sedikit pun untuk melirik botol yang disodorkan Tirta.
“Ya sudah, aku saja yang pakai,” gumam Tirta pada diri sendiri. Dia menggosokkan cairan harum itu ke tangan dan kakinya yang mulai gatal.
Tirta menyandarkan tubuhnya ke tembok, mencoba menyamakan arah pandangan matanya dengan mata perempuan itu. Mereka berdua kini menatap deretan lampu pabrik yang sama di kejauhan.
“Sedang melihat apa sih, Mbak?” tanya Tirta membuka percakapan.
Sunyi.
“Lagi sariawan ya, makanya malas bicara?” Tirta mencoba bercanda.
Tetap sunyi.
“Mau aku buatkan kopi?”
Masih tidak ada jawaban.
“Malam ini dingin sekali ya?”
“Sandal jepitku putus.”
“Tadi di jalan tukang nasi gorengnya brewokan.”
Mulut Tirta rasanya hampir berbusa melontarkan kalimat-kalimat konyol, tetapi perempuan di sampingnya tetap mengunci rapat bibirnya.
Rasa jengkel mulai membakar dada Tirta. Dia masuk ke dalam kamar, menyambar gitar akustik milik Jaka, lalu kembali ke selasar dan duduk di tepian tembok pembatas. Tanpa memedulikan jam dinding yang sudah melewati tengah malam, Tirta mulai memetik senar, bernyanyi lantang demi menyindir kebisuan di sebelahnya. Dia memilih lagu yang sedang digandrungi anak muda masa itu, lagu milik grup band Jamrud. Dengan suara serak yang sesekali meleset dari nada, Tirta mendendangkan bait pertama.
“Tiga puluh menit kita di sini tanpa suara…”
Tirta sengaja menekankan intonasi pada kalimat tersebut, berharap sindirannya menembus telinga perempuan di dekatnya.
“Dan aku resah… harus menunggu lama… kata darimu…”
Tirta mendadak berhenti memetik senar. Suara lain muncul, terdengar rendah dan jernih di telinganya. Perempuan berstoking hitam di sampingnya ternyata melanjutkan lirik lagu tersebut. Tirta melongo, matanya membelalak menatap wajah perempuan itu. Sosok itu tetap duduk mematung tanpa menggeser tubuhnya, hanya bibir tipisnya yang bergerak perlahan melantunkan bait-bait selanjutnya.
Jari-jemari Tirta mendadak kaku di atas papan senar. Kehilangan kata-kata. Perempuan itu terus bernyanyi dengan tenang, mengabaikan fakta bahwa iringan gitar Tirta sudah terhenti.
Setelah berhasil menguasai keterkejutannya, Tirta kembali memetik gitar, menyelaraskan nada dengan suara perempuan itu. Ada beberapa kata dalam lirik yang dinyanyikan perempuan itu salah ucap, tetapi perpaduan suara mereka di tengah malam sunyi Karangwangsa terasa begitu hidup.
Tepat ketika lagu berakhir, perempuan itu langsung bangkit berdiri. Tanpa melirik Tirta sedikit pun, dia melangkah masuk ke dalam kamarnya sendiri. Detik berikutnya, suara klik saklar terdengar, dan lampu kamar nomor dua puluh empat padam seketika. Selasar kembali dilingkupi kegelapan dan kesunyian pekat.
Tirta masih termangu di atas tembok pembatas, memeluk gitarnya, sangsi apakah kejadian barusan benar-benar nyata atau sekadar bunga tidur.
“Woi! Belum tidur lo, Tir?” Suara Jaka mendadak menggelegar dari ujung tangga, membuyarkan lamunan Tirta.
“Jak! Tadi dia di sini, duduk di sebelah gue! Kami bernyanyi bareng, menyanyikan lagunya Jamrud!” Tirta mencecar Jaka yang baru berjalan mendekat dengan sisa tenaga setelah pulang apel.
Jaka menggeleng-gelengkan kepala sembari mengelus dadanya, menatap Tirta dengan pandangan kasihan.
“Gue sebenarnya pingin tertawa melihat tingkahmu,” kata Jaka, berdiri di depan Tirta. “Awalnya gue pikir lo cuma bercanda waktu bilang ketemu perempuan itu sebulan lalu. Tapi sekarang gue yakin.”
“Kan gue sudah bilang kalau dia…”
“Beneran gila lo, Tir!” potong Jaka cepat. “Mana orangnya? Mana perempuan yang lo maksud? Gue jadi ngeri melihat lo sekarang. Besok pagi kita harus cari psikiater, atau sekalian ke dukun biar otak lo yang geser itu bisa diperbaiki.”
“Gue serius, Jak. Dia manusia, tadi dia bernyanyi!”
“Serius gila maksudnya? Hahaha…” Jaka terbahak-bahak.
Tirta menarik napas dalam, memilih bungkam. Berdebat dengan Jaka saat ini hanya akan menguras energi yang tidak ada gunanya.
“Sudahlah, jangan membahas hantu lagi. Gimana tadi ngobrol sama Nadya?” Jaka mengalihkan pembicaraan sembari merogoh saku, mencari pemantik api.
“Biasa saja, nggak gimana-gimana.”
“Biasa saja gimana maksudnya?”
“Ya nggak ada yang spesial. Ngobrol biasa.”
“Itu kan kata lo. Kalau tebakan gue, lo sebenarnya suka kan sama dia?” Jaka menyalakan sebatang rokok, asapnya mengepul pelan ditiup angin malam.
“Ah, ngaco lo, Jak.”
“Halah, pakai rahasia-rahasiaan segala sama gue.” Jaka mengisap rokoknya dalam-dalam. “Lalu, kapan mau bertemu lagi?”
“Entahlah, tukaran nomor kontak saja nggak .”
“Makanya, cepat beli handphone biar bisa kirim SMS. Zaman sudah canggih, Tir. Jangan kuper. Lihat ini punya gue,” Jaka mengeluarkan ponsel Nokia seri terbarunya dari saku celana dengan bangga. Layar kecil monokrom berwarna kuning menyala, menampilkan logo nama Jaka yang dibuatnya sendiri melalui menu penyunting teks.
Tepat saat Jaka hendak memamerkan fitur lainnya, ponsel di tangannya bergetar dan mengeluarkan bunyi dering nyaring. Ada panggilan masuk. Jaka langsung berbalik arah, melangkah cepat menuju kamarnya sendiri untuk menerima telepon.
Tirta kembali dilingkupi kesendirian di atas selasar koridor. Matanya kembali menatap lurus ke arah pintu kayu kamar nomor dua puluh empat yang terkunci rapat dalam kegelapan. Di bawah langit malam Karangwangsa yang pekat, Tirta menghabiskan sisa malamnya dengan memetik gitar, mengulang-ulang lagu yang baru saja mereka nyanyikan bersama.