Batavia, penghujung abad sembilan belas. Malam itu hujan tak jadi-jadi. Soma berdiri di bawah bayang-bayang pabrik yang mengembuskan asap, mesin-mesin milik Meneer Van Doorn, seorang penemu yang namanya disebut orang pribumi dengan nada setengah kagum, setengah waspada.
Soma enam belas tahun. Bapaknya tukang sol sepatu di Pasar Baru, emaknya buruh cuci di rumah-rumah Belanda. Tapi sejak kecil tangannya selalu gatal ingin membongkar apa saja yang berputar dan berdenting. Jam-jam rusak dulu ia bongkar sampai isi perutnya berserakan di lantai tanah, lalu dipasang kembali, kadang berhasil, lebih sering tidak.
Dua tahun ia magang pada Van Doorn.
Van Doorn bertubuh kurus, jenggotnya sudah berwarna garam dan merica. Orang-orang Belanda di klub bilang dia jenius. Orang-orang pribumi di kampung bilang dia agak gila. Bagi Soma, dua-duanya benar, dan itu bukan soal yang perlu dipersoalkan lagi.
“Soma, kunci inggrisnya!”
Suara Van Doorn menggema dari bawah rangka tembaga, berbahasa Melayu pasar yang kaku, dicampur sepatah dua patah Belanda kalau ia lupa. Soma menyerahkan alat itu. Tangannya sedikit gemetar, tapi ia diam saja soal itu. Mesin itu hampir selesai, roda-roda gigi, pegas, katrol yang saling mengunci. Van Doorn sering berdiri lama di depannya, menyentuh bagian yang belum jadi dengan ujung jari, seperti orang meraba luka yang belum sembuh betul. Soma tidak selalu tahu apa yang sedang dibayangkan gurunya. Ia hanya tahu tangan Van Doorn gemetar juga, meski beda alasan dari tangannya sendiri.
Beberapa minggu belakangan ada dua laki-laki berjas yang berdiri terlalu lama di seberang jalan, di bawah pohon asam yang rindang. Bicara mereka berlogat Inggris, jelas bukan orang dagang biasa yang mampir ke Batavia. Salah satu dari mereka pernah dilihat Soma keluar dari kantor firma dagang di dekat pelabuhan, firma yang belakangan ini sering mengirim surat ke bengkel, surat yang selalu dibakar Van Doorn begitu selesai dibaca, tanpa dijawab.
Soma mengingat wajah mereka. Ia tidak menyebutnya pada siapa-siapa.
Suatu malam, ketika Soma masih di bengkel, Van Doorn berdiri, mengusap minyak dari tangannya dengan kain yang sudah hitam.
“Soma.” Suaranya berbeda dari biasanya. “Ada yang perlu kau tahu.”
“Tahu apa, Meneer?”
“Orang-orang itu. Bukan mesin ini yang mereka incar.”
Soma diam.
“Sudah bertahun-tahun aku menggambar rancangan ini,” kata Van Doorn, matanya menerawang ke sudut ruangan yang temaram oleh lampu minyak. “Tapi ada sesuatu di dalamnya. Sesuatu yang belum pernah kuceritakan pada siapa pun. Firma itu sudah dua kali menawariku uang untuk menyerahkannya. Aku sudah dua kali menolak.”
Pintu diketuk. Bukan diketuk. Digedor.
“Sembunyi,” bisik Van Doorn. “Jangan sampai mereka lihat kau.”
Soma merunduk di balik tumpukan pipa tembaga. Napasnya ia tahan sebisa mungkin. Pintu berderit, dua orang masuk, jas gelap meski udara Batavia panas dan lembap, topi bundar yang aneh untuk cuaca seperti ini, langkah yang tahu ke mana harus pergi.
“Meneer Van Doorn.” Salah satu dari mereka bicara dengan logat Inggris yang kental. “Kami sudah cukup sabar. Sebentar lagi rancangan itu selesai, bukan? Sayang sekali kalau terjadi sesuatu. Pada rancangan itu. Atau pada Anda.”
“Kalian tidak akan dapat apa-apa dariku,” kata Van Doorn. “Pergi dari tanah ini.”
Yang satu lagi menyeringai. “Kami tahu Anda menyembunyikan sesuatu. Kalau tidak mau pabrik ini rata dengan tanah, tunjukkan.”
Soma menggigit bibirnya. Ia menoleh ke meja kerja. Di sana, di bawah kain, ada sesuatu yang bentuknya seperti arloji saku. Tapi ada yang tidak beres dengannya, seperti jam yang detaknya terlalu pelan untuk sebuah jam.
Ia mengerti sekarang. Mesin itu bukan cuma soal delman dan kapal. Ada sesuatu di baliknya yang lebih besar dari itu.
“Jangan ganggu dia!”
Soma melompat dari persembunyiannya sendiri sebelum sempat berpikir. Kedua orang itu berbalik, kaget oleh suara yang keluar dari balik pipa-pipa. Soma meraih benda dari meja, menggenggamnya erat-erat. Ia tidak tahu benda apa itu. Yang ia tahu, benda itu tidak boleh jatuh ke tangan mereka.
“Kau tidak tahu apa yang sedang kau pegang, jongos,” geram salah satu dari mereka, melangkah mendekat.
Soma tidak menjawab. Ia mundur satu langkah, menggenggam benda itu lebih erat, dan itu saja jawabannya.
Ia menoleh pada Van Doorn. Van Doorn mengangguk, lalu melangkah maju, berdiri di antara Soma dan kedua orang itu, tubuhnya menghalangi jalan yang sempit di antara rak-rak perkakas. Ia tidak melakukan apa pun selain berdiri di sana. Tapi itu cukup untuk memberi Soma satu tarikan napas jeda.
Soma berlari ke pintu samping, membantingnya terbuka, keluar ke udara malam yang basah oleh hujan tropis. Langkah kaki mengejar di belakangnya, tapi ia sudah menghafal gang-gang sempit di belakang toko-toko Cina sejak kecil. Ia berbelok, memanjat pagar tembok rendah, menyeberangi kanal kecil yang baunya sudah dikenalnya sejak lahir, menembus perut kota yang tidak pernah benar-benar tidur.
Ketika akhirnya ia sampai di ruang bawah tanah sebuah toko obat Tionghoa tua di Glodok, ia bersandar ke dinding, napasnya belum juga rata.
Benda itu masih di tangannya. Ia belum membukanya.
Di luar, hujan mulai turun lagi, pelan-pelan, seperti tidak terjadi apa-apa.