Ponsel tergeletak di atas meja kayu. Getarannya pelan. Lela menatapnya. Jemarinya terbiasa membuka layar itu. Di seberang kota, Ringga mematikan lampu meja. Janggut dan cambangnya putih, menipis. Hanya teh hangat dan buku catatan tua yang menemaninya.
Mereka mulai bicara melalui ketikan. Tentang pohon lemon di pekarangan, tentang lukisan cat air. Sampai akhirnya, Ringga mengirim pesan: “Mari bertemu. Di bangku taman. Tanpa ponsel.”
Hari itu, taman kota sepi. Bunga kamboja gugur di dekat kaki mereka. Lela duduk di bangku kayu. Langkah kaki mendekat. Berat dan ragu. Ia tidak menoleh. Saat laki-laki itu duduk, bahunya yang bungkuk dan kemeja yang sudah dicuci berkali-kali itu terasa nyata. Lebih nyata daripada ribuan foto yang pernah dikirimnya.
Di warung kopi dekat terminal, mereka memesan kopi pahit. Uap kopi menari di udara. Mereka tidak bicara tentang masa depan. Mereka bicara tentang rumah yang terasa terlalu luas, tentang cucu yang mulai bertanya-tanya, tentang lelah yang tidak hilang meski sudah tidur cukup. Mereka membiarkan kopi itu mendingin. Bunyi sendok yang beradu dengan gelas kaca menjadi satu-satunya musik di antara mereka.
Malam-malam setelahnya, dapur Lela menjadi tempat berlindung. Aroma bawang goreng memenuhi ruangan. Mereka makan nasi hangat dan soto ayam. Hanya suara cicak dan gesekan sendok di piring. Saat Ringga menyentuh tangan Lela, kulit tua bertemu kulit tua.
Beberapa bulan kemudian, di bawah pohon kamboja yang sama, Ringga mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Bukan kotak beludru, melainkan logam perak sederhana yang dibungkus kertas. Ia menaruhnya di meja.
Lela menatapnya. Ia mengangguk pelan.
Sore turun. Langit berubah warna menjadi abu-abu yang teduh. Mereka duduk berdua, membiarkan malam menelan mereka dalam sunyi. Tidak ada lagi yang perlu dikatakan.