Bekas Luka Sayatan Kulit Betis

Coretan nomor kendaraan di atas sobekan kertas kusam membayangi benak Tirta. B 1608 WRJ. Lembaran tipis itu bergetar di sela jemarinya saat angin sore Karangwangsa membawa bau debu semen. Petugas Polsek memberikan kepastian bahwa pelaku tabrak lari mendiang Nadya menunggangi sepeda motor sport lawas asal Jakarta. Kode plat B.

Mata Tirta selalu bergerak liar setiap kali mendengar deru knalpot. Dia menyisir angka demi angka, berharap penabrak itu melintas agar bisa dia remukkan kepalanya saat itu juga.

“Berdoa saja semoga penabrak itu mendadak mampir lalu mengajakmu bersalaman,” suara Jaka memecah lamunan Tirta dari selasar.

Tirta cuma tersenyum tipis. “Lo nggak paham rasanya, Jak.”

“Gue memang nggak paham rasanya kehilangan kekasih dengan cara sekasar ini. Tapi gue paham rasanya kehilangan kawan,” Jaka menatap lurus. “Zaman merantau di Jogja dulu, gue dan Nadya lebih mirip kucing dan tikus. Tapi gue beruntung bisa mengenal dia.”

“Gue pikir lo asli Jogja, Jak.”

“Gue besar di Solo. SMA ikut Pakde di Jogja, lalu merantau ke sini.”

Tirta membisu lagi, pikirannya masih berkecamuk. Hutang nyawa harus dibayar nyawa, batinnya tegas.

Jaka membaca gejolak di kepala sahabatnya. “Tidak semua pembunuh berakhir di tiang gantungan, Tir. Hutang nyawa layak dibayar serupa, tapi bukan tangan kita yang berhak memutuskannya. Kalau hukum manusia membuatmu muak, kita masih punya Tuhan. Dia tidak tidur.”

Tirta memilih bungkam.

“Pinjam pick gitar lo, Tir,” pinta Jaka kemudian.

“Bukannya lo punya pick keberuntungan yang selalu ada di saku?” Tirta heran. Jaka memiliki sebuah pick jingga bertandatangan Dewa Budjana.

“Lupa naruhnya. Gue kurang sreg kalau memetik senar pakai jempol saja,” kata Jaka.

Tirta merogoh saku jins, menyerahkan plastik tipis pemetik senar murahan. Jaka menerimanya, lalu memetik intro lagu. Baru tiga ketukan, petikan terhenti.

Sebuah suara tangisan perempuan memotong keheningan sore. Lirih dan menyayat hati. Suara itu berasal dari kamar nomor dua puluh empat. Kamar wanita berstoking hitam.

Tirta bangkit. Baru dua langkah berjalan, Jaka menarik kaos Tirta dengan wajah pias.

“Tir, lihat bawah pintunya,” suara Jaka bergetar.

Sejalur cairan merah pekat mengalir lambat dari celah bawah pintu, mengental di atas lantai semen. Aroma amis menyengat hidung. Darah.

“Mbak! Mbak di dalam! Kamu baik-baik saja?!” Tirta menggedor pintu berkali-kali. Handle pintu digoyang kasar, namun grendel di dalam mengunci mati. Suara tangisan mendadak senyap.

“Minggir, Tir!” Jaka mengambil ancang-ancang, menghantamkan bahunya ke pintu kayu.

“Aaaah!” Jaka mengerang kesakitan, terhuyung mundur memegangi lutut kanannya yang belum sembuh akibat hantaman besi pabrik tempo hari.

“Malah bergaya seperti aktor film laga,” ketus Tirta di tengah kepanikan. Cairan merah semakin melebar. “Bongkar jendelanya saja, Jak!”

“Ambil obeng di bagasi motor gue di bawah,” Jaka melemparkan seikat kunci yang langsung ditangkap Tirta dengan gugup.

Tirta berlari kencang menuruni tangga semen. Dengan tangan gemetar, dia membuka bagasi motor, mengambil obeng, lalu kembali berlari ke lantai atas.

“Biar gue saja,” Tirta mencongkel engsel jendela kayu di samping pintu. Kurang dari dua menit, daun jendela berhasil dilepas.

Tirta menyibak gorden merah tua yang menghalangi pandangan. Bau amis darah menghantam hidungnya. Kamar remang-remang itu hanya diterangi sebutir bohlam kuning kusam. Tirta melompat melewati ambang jendela, disusul Jaka yang bergerak tertatih.

Jejak seretan merah yang basah berujung ke arah kamar mandi.

Pintu triplek yang setengah terbuka didorong perlahan. Di sana, seorang perempuan terduduk lemas menyandarkan punggung pada bak mandi semen. Kulit kakinya dibanjiri darah segar yang mengucur deras. Sebuah pisau cutter tergeletak di samping pahanya.

Tirta merasakan lututnya gemetar hebat. Rambut panjang perempuan itu berantakan, menutupi sebagian wajah pucatnya.

“Bopong dia keluar sekarang, Tir,” perintah Jaka.

Saat Tirta mendekat, perempuan itu menyambar pisau cutter di lantai, mengacungkannya tepat ke arah wajah Tirta.

“Jangan berani-berani menyentuh aku!” teriaknya parau, nafasnya tercekat.

Tirta dan Jaka membeku.

“Keluar kalian semua dari sini! Kalian semua brengsek! Sama saja dengan mereka! Pergi…” tangisnya pecah. Perempuan itu memukulkan gagang pisau ke dinding bak mandi berulang kali.

Tirta bergerak cepat, menyergap pergelangan tangan perempuan itu hingga pisau cutter jatuh bergemerincing. Dekapan Tirta mengunci gerakannya. Untuk mencegah kegaduhan, Tirta membekap mulutnya pelan.

“Bawa ke kamar gue saja dulu,” kata Jaka, membuka jalan.

Mereka membopong tubuh lemas itu ke atas kasur busa di kamar Jaka. Begitu diletakkan, perempuan itu kembali meronta dan menendang histeris.

Plak!

Sebuah tamparan mendarat telak di pipi kiri perempuan itu.

Ruangan mendadak sunyi. Perempuan itu berhenti bergerak, membelalak menatap Jaka yang berdiri dengan nafas memburu. Tirta terkejut melihat tindakan keras Jaka.

“Aku mau menolong. Tolong jangan mempersulit keadaan,” suara Jaka bergetar. Seprai putih milik Jaka mulai berubah warna menjadi merah pekat.

“Tir, bersihkan dulu sisa darahnya. Gue buatkan kain balutan,” Jaka mengambil selembar kaos lama lalu mengguntingnya menjadi potongan panjang.

“Maaf ya, Mbak,” Tirta berlutut, menyeka aliran darah di betis perempuan itu.

Perempuan itu meringis. Bulu kuduk Tirta meremang melihat pemandangan di sekujur kaki sang perempuan; ada begitu banyak bekas luka sayatan lama yang berjejer tidak beraturan dari pangkal paha hingga pergelangan kaki. Kebanyakan mengering menjadi jaringan parut, dan tiga di antaranya menganga lebar menjadi sumber banjir darah hari ini.

Jaka dengan cekatan membalut luka di betis perempuan itu menggunakan potongan kaos. Tirta beralih membersihkan noda merah di jemari tangan si perempuan yang kini mulai lebih tenang.

Perempuan berstoking hitam. Sekarang Tirta paham mengapa dia selalu mengenakan stoking panjang di cuaca segerah ini. Benda itu adalah tameng pelindung penderitaannya.

Tirta menyandarkan punggung ke dinding kamar. Jaka keluar dari kamar mandi setelah mencuci tangan yang berlumuran warna merah.

“Cepat mandi dan ganti baju, Tir. Kita bawa dia ke rumah sakit sekarang juga,” kata Jaka sembari menyambar jaket.

“Jangan… Jangan bawa aku ke rumah sakit. Tolong, jangan ke sana,” sebuah suara lirih terdengar dari atas kasur.

“Jangan konyol, Mbak. Lukamu itu dalam, butuh jahitan dokter,” protes Jaka, mengernyitkan dahi.

“Namaku Listy. Bukan Mbak,” bisiknya tegas.

Listy. Akhirnya nama itu terucap.

“Oke, Listy. Siapa pun namamu, kita tetap harus ke rumah sakit. Titik!” Jaka bersikeras.

“Aku tidak apa-apa! Aku sudah biasa dengan luka begini!” Listy membantah keras, matanya menatap tajam penuh penolakan.

“Kamu pikir menyayat kaki sendiri membuatmu terlihat keren? Kamu sedang pamer ilmu debus?” sindir Jaka ketus.

Listy tidak membalas, dia malah menyembunyikan wajah di antara kedua lutut, menangis sesenggukan. Tirta mendekat, menyodorkan segelas air putih dari atas dispenser. Tangannya menerima gelas itu dengan gemetar hebat.

“Minum dulu,” kata Tirta lembut.

Listy meneguk air itu. “Terima kasih.”

“Kamu tiduran saja lagi, jangan banyak bergerak dahulu agar balutannya tidak lepas,” Tirta membimbing pundak Listy agar kembali bersandar di bantal.

Tirta kembali duduk di lantai, menyandarkan kepala ke dinding semen yang dingin. Sore itu terasa seperti fragmen mimpi buruk yang terlempar ke dunia nyata. Rasa penasarannya selama sebulan ini berakhir dengan perkenalan yang sebersimbah darah.

Bagikan

Leave a Reply