Ada satu adegan lama yang selalu muncul dalam ingatan saya setiap kali nama Lionel Messi disebut bersamaan dengan kata final. Tahun 2006, di Jerman, seorang bocah kurus bernomor punggung sembilan belas duduk di bangku cadangan menjelang perempat final melawan tuan rumah. Tangannya bersedekap. Sepatunya terlepas di sampingnya. Matanya menerawang ke lapangan yang tak kunjung memanggilnya turun. Pelatih saat itu menganggap keputusannya di lapangan belum cukup matang untuk dipercaya penuh. Argentina kalah lewat adu penalti sore itu.
Bocah itu pulang membawa kekecewaan yang barangkali menanam benih bagi segala yang terjadi dua puluh tahun kemudian.
Sekarang, di New Jersey, pada usia tiga puluh sembilan tahun, ia telah menjelma legenda yang namanya disandingkan dengan Pele dan Maradona. Malam itu, di final ketiga sepanjang kariernya, ia kembali duduk termenung menatap kosong, seakan waktu berputar penuh dan mengembalikannya ke titik semula. Rambutnya sudah memutih di beberapa bagian. Beban sejarah yang ia panggul jauh lebih berat dari dahulu.
Gema dari Rio de Janeiro
Dua belas tahun sebelumnya, di Rio de Janeiro, sebuah final pernah berjalan dengan skenario yang nyaris serupa persis. Argentina menghadapi Jerman, skor bertahan nol-nol hingga larut ke perpanjangan waktu, dan seorang pemain pengganti bernama Mario Gotze mencetak satu gol yang memupus mimpi juara yang telah dibawa Messi sejauh itu. Ia menangis di lapangan malam itu. Dunia menyaksikan air mata seorang jenius yang belum menuntaskan takdirnya bersama negeri kelahirannya.
Satu hal dari Rio masih menggelitik saya sampai sekarang. FIFA menganugerahkan Bola Emas kepada Messi seusai kekalahan itu, gelar pemain terbaik turnamen, keputusan yang banyak pengamat anggap ganjil. Bagaimana mungkin seseorang disebut yang terbaik dari sebuah pesta yang gagal dimenangkannya sendiri. Wajahnya tertunduk lesu ketika menerima trofi itu, menyimpan makna yang jauh lebih hampa daripada kemenangan yang gagal digenggamnya.
Di New Jersey, sejarah mengulang dirinya dengan kejam, kali ini tanpa sisa hiburan yang dulu pernah diberikannya.
Skor final sekali lagi ditentukan lewat satu gol di perpanjangan waktu. Kekalahan sekali lagi datang dari tim Eropa yang bermain lebih rapi dan lebih sabar. Bedanya, kali ini Messi tak membawa pulang penghargaan penghibur apa pun. Rodri, gelandang Spanyol yang sepanjang laga membayangi setiap langkahnya, membawa pulang gelar pemain terbaik turnamen itu. Dua belas tahun lalu, kekalahan Messi masih dibingkai kemuliaan oleh sebuah trofi individu. Kali ini kekalahannya telanjang, tanpa penghias apa pun.
Angka yang Tak Bisa Dibantah
Sepanjang turnamen ini, sebelum malam final tiba, Messi bermain bagai orang yang menolak tunduk pada usia. Delapan gol dan empat assist ia kumpulkan, cuma kalah dari raihan Mbappe dalam perburuan sepatu emas, dan dua assist paling menentukan lahir dari kakinya sendiri di semifinal melawan Inggris. Publik yang mengikuti perjalanannya sejak Jerman 2006 boleh jadi mengira, pada usia yang semestinya sudah lama pensiun, ia justru sedang menulis bab paling megah dalam riwayat panjangnya.
Final ini telah bekerja tanpa ampun menelanjangi seorang pemain, betapa pun besar nama yang disandangnya.
Messi menyentuh bola lima belas kali sepanjang laga, jauh di bawah dua puluh enam sentuhan milik Lamine Yamal, bocah yang usianya belum genap sembilan belas tahun dan bahkan belum lahir ketika Messi memulai debutnya di ajang yang sama. Peluang paling nyata baginya datang di menit kelima, saat ia melesat sendirian berhadap-hadapan dengan kiper Spanyol, Unai Simon. Simon sampai ke bola lebih dulu. Sesudah momen itu lewat, publik nyaris tak lagi menyaksikan Messi berkeliaran di wilayah yang membahayakan lawan sepanjang seratus menit tersisa.
Rodri mengawalnya begitu rapat, seperti seorang penggembala yang tak sekali pun melepaskan pandangan dari seekor domba yang paling berharga di kawanannya. Argentina, tim yang seluruh susunan serangannya dibangun di sekitar sosok Messi selama hampir dua dekade, kehilangan seluruh akal ketika jalan tunggal itu ditutup rapat oleh lawan.
Tiga Final, Satu Kesunyian yang Berulang
Messi menyamai catatan Cafu sebagai satu-satunya pemain yang tampil di tiga final Piala Dunia, rekor yang terdengar hebat bila dibaca sepintas lalu, tapi menyimpan ironi getir bila ditelusuri lebih dalam.
Dari tiga final itu, cuma satu yang berakhir dengan trofi di tangannya: Qatar 2022, saat ia mencetak tujuh gol sepanjang turnamen sebelum mengangkat trofi yang paling lama dikejarnya. Dua final lainnya, terpaut dua belas tahun, sama-sama berakhir dengan kekalahan tipis dari tim Eropa, sama-sama diputuskan di perpanjangan waktu, dan sama-sama menyisakan gambar seorang Messi yang duduk di rumput dengan tatapan jauh menerawang.
Ia pernah berkata, menjelang Piala Dunia sebelumnya, bahwa tim yang dibawanya ke Qatar mengingatkannya begitu kuat pada tim yang kalah di Rio delapan tahun sebelum itu. Kalimat itu terdengar seperti nubuat yang setengah disadarinya sendiri, sebab pada akhirnya bukan hanya susunan tim yang berulang, melainkan seluruh nasibnya sebagai pemain besar yang berkali-kali menatap trofi itu dari jarak begitu dekat, sebelum sesuatu merenggutnya kembali di detik-detik penghabisan.
Pulang tanpa Tepuk Tangan Terakhir
Ia duduk di atas rumput New York New Jersey Stadium ketika peluit panjang dibunyikan, persis seperti yang pernah dilakukannya di Rio de Janeiro dua belas tahun silam. Kali ini rambutnya sudah beruban di beberapa bagian, tubuhnya menyimpan lelah dari ribuan pertandingan sepanjang hidupnya.
Satu demi satu pemain Spanyol menghampirinya untuk berpelukan. Mereka tahu benar, mereka baru saja mengalahkan bukan sekadar sebelas orang berseragam biru muda, melainkan seorang yang sudah menjadi bagian dari ingatan kolektif sepak bola dunia selama dua dekade penuh.
Ketika para pemain Spanyol membentuk barisan penghormatan bagi rombongan Argentina yang naik podium mengambil medali perak, Messi mencoba tersenyum. Ia gagal.
Ia berjalan pelan menyusuri barisan itu, sesekali menepuk bahu pemain yang ia lewati, tatapannya tetap kosong, tertuju entah ke mana, seperti orang yang sedang menghitung sesuatu di kepalanya sendiri dan tak kunjung menemukan angkanya.
Esai ini adalah opini personal penulis, ditulis berdasarkan data dan fakta pertandingan yang telah diverifikasi, bukan laporan berita.