Sinema Sejati Selalu Terjadi di Ruang Tunggu, Bukan di Panggung Utama

Pukul tiga dini hari, ketika kebanyakan orang di negeri ini masih terlelap, saya duduk sendirian menghadap layar, menunggu satu malam yang saya kira akan menjadi penutup agung bagi sebuah musim raya sepak bola dunia. Kopi di cangkir telah dingin sebelum babak pertama usai. Mata saya perih, tetapi hati saya masih menyimpan harap bahwa yang bakal saya saksikan adalah pertarungan yang pantas dikenang anak cucu. Dua jam kemudian, harapan itu tinggal ampas, sepahit kopi yang saya biarkan membeku di meja. Spanyol mengalahkan Argentina satu gol tanpa balas, lewat sepakan Ferran Torres pada menit ke-106, dan saya masih bertanya-tanya kepada siapa sesungguhnya laga semacam ini dipersembahkan.

Angka-angka yang tersaji seusai pertandingan membuat kekesalan saya kian menjadi. Spanyol melepaskan dua puluh tembakan ke gawang lawan, Argentina cuma dua kali. Tim finalis yang konon mewakili keperkasaan sepak bola Amerika Selatan itu baru mencatatkan tembakan pertamanya pada babak kedua perpanjangan waktu, setelah hampir seratus menit tak berdaya menembus pertahanan lawan. Angka gol yang diharapkan berbicara jujur: 0,20 milik Argentina berbanding 1,94 milik Spanyol.

Itu bukan potret laga yang berimbang lalu diputus keberuntungan tipis. Itu catatan sebuah bangsa yang dikuburkan perlahan, sepanjang120 menit lebih, di hadapan mata dunia.

Emiliano Martínez melakukan sebelas penyelamatan, rekor terbanyak dalam sejarah final Piala Dunia. Banyak yang memujinya sebagai kepahlawanan seorang penjaga gawang. Bagi saya, angka itu adalah saksi paling jujur tentang berapa lama sebuah tim bertahan hidup di ambang kematian, sebelum gawangnya juga jebol jua.

Kartu Merah, Kepanikan, dan Sebuah Keputusan yang Meruntuhkan Segalanya

Pada menit 90+3, Enzo Fernández menerima kartu kuning kedua sebab tekelnya yang keras menghantam Pau Cubarsí. Argentina harus menjalani seluruh babak tambahan dengan sepuluh orang saja, seperti seorang petani yang kehilangan seekor kerbau tepat ketika sawahnya sangat membutuhkan tenaga bajak. Di titik itulah saya menduga Lionel Scaloni segera memanggil Lautaro Martínez turun ke lapangan, sebab pemain inilah yang tiga kali berturut-turut menjadi penentu nasib timnya di babak gugur. Ia memberi assist bagi gol kemenangan melawan Mesir. Ia mencetak gol penenang melawan Swiss. Ia menanduk bola dengan gemilang pada menit 90+2 melawan Inggris, gol yang membawa Argentina melangkah ke final ini.

Yang terjadi justru sebaliknya, dan di situlah letak kepedihan yang sesungguhnya.

Ketika timnya kehilangan satu pemain dan tengah membutuhkan gol lebih dari apa pun, Scaloni menarik keluar Julián Álvarez, satu-satunya penyerang murni yang tersisa di lapangan, lalu memasukkan Marcos Senesi, seorang bek tengah, demi memperkokoh pertahanan. Lautaro tetap duduk di bangku cadangan sepanjang malam itu. Tak sekali pun kakinya menjejak rumput New York New Jersey Stadium.

Kapten Inter Milan itu dibawa jauh-jauh menyeberangi lautan, ditempa untuk menjadi senjata rahasia pada babak kedua. Pada malam yang barangkali paling menentukan dalam sejarah sepak bola Argentina empat tahun terakhir, senjata itu dibiarkan berkarat di pinggir lapangan, disaksikan berjuta pasang mata yang menanti keajaibannya. Saya paham logika taktis di balik keputusan menjaga keseimbangan ketika bermain dengan sepuluh orang. Logika itu tak pernah bisa saya terima bila diterapkan pada seorang pemain yang seluruh reputasinya dibangun dari kesanggupannya mengubah nasib laga pada menit-menit paling genting. Kalau ada saat yang tepat mempercayakan senjata pamungkas, saat itu adalah ketika tim sedang berdarah-darah mencari gol dan kehabisan pilihan di lini depan.

Scaloni sendiri, seusai laga, berbicara dengan nada sarat keharuan tentang masa depannya sebagai pelatih. Kabar cepat menyebar bahwa ia akan mengundurkan diri begitu kontraknya berakhir pada penghujung tahun ini. Jika benar malam itu laga terakhirnya, ia meninggalkan Argentina dengan sebuah warisan berupa keputusan substitusi yang niscaya diperdebatkan para pendukungnya bertahun-tahun ke depan, seperti luka lama yang tak pernah benar-benar mengering.

Partai yang Dianggap Sekadar Basa-basi

Semalam sebelumnya, di Miami, dua kesebelasan yang sama-sama patah hati karena tersingkir di semifinal, dua kesebelasan yang menurunkan pemain lapis kedua sebab tak seorang pun di antara mereka benar-benar berhasrat bertanding, justru menyuguhkan salah satu pertunjukan terindah yang pernah saya saksikan sepanjang hidup menonton sepak bola.

Inggris unggul empat gol tanpa balas pada babak pertama. Declan Rice membuka keran gol lewat sepakan jarak jauh pada menit ketiga, secantik busur panah yang melesat lurus ke sasaran. Bukayo Saka mencetak tiga gol, termasuk lewat titik putih pada menit 87. Prancis, yang menurut pengakuan pelatihnya sendiri, Didier Deschamps, sesungguhnya tak berhasrat bermain di laga ini, bangkit dengan kegilaan yang jarang terjadi, mengejar ketertinggalan menjadi empat berbanding tiga hanya dalam hitungan menit di babak kedua. Kylian Mbappé menyumbang dua di antaranya, sekaligus melampaui catatan gol sepanjang masa Piala Dunia yang selama ini dipegang Lionel Messi. Laga itu berakhir enam berbanding empat untuk kemenangan Inggris, sepuluh gol tercipta dalam satu pertandingan, jumlah terbanyak sejak tahun 1982, dan yang paling banyak yang pernah tercatat dalam sejarah perebutan juara ketiga.

Bayangkan keadaannya. Kedua pelatih menurunkan pemain cadangan. Harry Kane dan Jude Bellingham duduk termenung di bangku pinggir lapangan. Kiper utama Inggris diistirahatkan. Dunia menyebutnya laga yang tak seorang pun sudi memainkannya dengan sepenuh hati.

Justru laga itulah yang menghadiahkan lebih banyak darah, keringat, dan drama dalam 90 menit, dibandingkan segala yang mampu diberikan sang final dalam 120 menitnya.

Pola yang Sama, Setahun Silam, di Benua yang Berbeda

Bila pola semacam ini terasa akrab di ingatan, memang sepatutnya begitu adanya. Liga Champions Eropa tahun 2025 lebih dahulu memberi saya gambaran yang persis serupa.

Final antara Paris Saint-Germain dan Inter Milan di Munich berakhir lima gol tanpa balas untuk kemenangan Paris, selisih terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah final kompetisi itu. Désiré Doué mencetak dua gol, Paris unggul tiga gol hanya dalam dua puluh menit pertama, dan para pemain Inter tampak seperti tengah menyaksikan pertandingan milik orang lain dari kejauhan. Sebelum peluit ditiup, para pendukung Italia masih menyanyikan lagu kebanggaan klub mereka dengan penuh semangat. Sembilan puluh menit kemudian, mereka pulang membawa kekalahan terbesar sepanjang sejarah partai puncak Eropa.

Bandingkan dengan semifinal mereka melawan Barcelona beberapa pekan sebelum itu. Inter menang empat berbanding tiga sesudah perpanjangan waktu, unggul agregat tujuh berbanding enam, dengan tiga belas gol tercipta dalam dua leg. Barcelona sempat tertinggal dua gol di babak pertama, bangkit hingga unggul tiga berbanding dua pada menit 87, sebelum Francesco Acerbi menyamakan kedudukan di masa injury time kedua, dan Davide Frattesi menutup laga dengan gol penentu pada menit 99 perpanjangan waktu. Frattesi sendiri mengaku tak paham betul bagaimana ia mencetak gol itu. Dua kali Barcelona bangkit dari keterpurukan, dua kali pula harapan mereka dipadamkan kembali, seperti lilin yang terus-menerus ditiup angin yang sama.

Dua kompetisi yang berlainan, dua tahun yang berurutan, satu pola yang serupa benar. Partai puncak yang dijual mahal berubah menjadi upacara pemakaman satu pihak. Partai pembuka jalan menuju ke sana justru menjelma tontonan yang layak disebut sinema sejati.

Sepak bola, rupanya, memiliki selera yang aneh dalam mengatur jadwal drama terbaiknya.

Esai ini adalah opini personal penulis, ditulis berdasarkan data dan fakta pertandingan yang telah diverifikasi, bukan laporan berita.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(