Cermin Masa Depan Republik Indonesia

Setiap Agustus, kita terjebak di dalam cermin. Kita berdiri di hadapan kaca, mematut diri, bertanya sudah seberapa jauh kaki melangkah sejak 1945. Tujuh puluh dua tahun. Usia yang cukup untuk membuat seseorang menjadi kakek yang bijak, atau justru menjadi pikun yang menyebalkan. Kita membanggakan pembangunan tujuh rezim, membandingkan diri dengan potret buram masa lalu yang kumuh. Kita merasa bangga karena jalanan lebih beraspal dan gedung lebih tinggi, seolah-olah kemerdekaan diukur dari berapa banyak beton yang kita tumpuk.

Berhentilah memuji diri sendiri di depan cermin kecil.

Coba tengok Korea Selatan. Mereka merdeka hanya dua hari sebelum kita. Mereka memulai sejarah sebagai negara yang jauh lebih miskin, tanah yang tidak punya apa-apa selain kemelaratan. Hari ini, mereka berlari begitu kencang meninggalkan kita jauh di belakang. Sepuluh tahun, bahkan lebih, mereka telah memenangkan perlombaan yang kita sendiri belum tahu garis finisnya di mana. Kita masih sibuk membenahi kerikil, sementara mereka sudah meluncur di atas rel kereta cepat.

Bangsa belum merdeka jika perut masih lapar dan pikiran masih terbelenggu keterbelakangan. Kemerdekaan fisik tidak ada gunanya jika mental kita tetap menjadi budak ketimpangan.

Ada mitos busuk yang meracuni pikiran kita. Kita percaya bahwa tanah ini dianugerahi kekayaan alam yang melimpah, sehingga kita merasa menjadi anak emas semesta. Kekayaan itu justru menjadi candu yang meninabobokan. Kita terlena. Kita lupa mengolah otak dan tenaga, lalu membiarkan potensi bumi habis dikeruk tanpa rencana. Kita mendidik generasi muda untuk menjadi pengikut, bukan pencipta. Sementara itu, zaman terus berputar dengan kejam tanpa mau menunggu kita siap.

Kita membutuhkan langkah yang lebih gesit. Semua orang berteriak soal ekonomi, seolah-olah kemajuan bisa dibeli dengan modal saja. Padahal, segalanya berawal dari keberanian politik. Kebijakan lahir dari meja-meja kekuasaan yang sering kali hanya memikirkan nasib kelompok sendiri.

Demokrasi yang kita pilih memerlukan pengawal yang jujur. Eksekutif harus bekerja dengan nalar, bukan sekadar memburu angka statistik yang indah di atas kertas. Legislatif semestinya menjadi pengawas yang galak, bukan sekadar gerombolan yang sibuk mencari celah untuk kepentingan kantong pribadi. Jika lembaga-lembaga itu berpenyakit, kebijakan apa pun yang lahir akan menjadi racun bagi rakyat.

Pendidikan memerlukan eksekusi nyata, bukan sekadar angka dua puluh persen yang sering kali bocor di tengah jalan. Vokasi harus benar-benar menghasilkan tangan terampil yang mampu bekerja, bukan sekadar menambah deretan pengangguran terdidik. Infrastruktur harus memangkas jarak yang menghambat keadilan, bukan sekadar monumen beton untuk ajang pamer kekuasaan.

Negara yang gagal menata politiknya akan menemui jalan buntu. Kita berdiri di tepi jurang antara menjadi bangsa yang disegani atau sekadar penonton yang riuh di tengah gelanggang dunia. Republik ini memiliki usia yang sudah dewasa, namun sikap kita masih sering kekanak-kanakan. Kita harus berhenti menipu diri sendiri. Kemerdekaan bukan upacara bendera, melainkan kerja keras untuk memastikan tidak ada lagi rakyat yang tertinggal dalam ketidaktahuan. Jika kita gagal melakukan itu, kemerdekaan hanyalah kata-kata hampa yang ditulis di atas kertas usang.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(