Anak itu duduk di depan layar. Sendirian. Di kamarnya sendiri. Orang tuanya ada di ruangan sebelah.
Tidak ada yang tahu apa yang ia tonton.
Tahun 2008, Yayasan Kita dan Buah Hati mengadakan pertemuan dengan 1.625 siswa kelas empat sampai enam sekolah dasar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Hasilnya sederhana dan mengejutkan: 66 persen dari mereka sudah pernah menyaksikan materi pornografi.
Dari komik, 24 persen. Dari video games, 18 persen. Dari situs internet, 16 persen. Dari film, 14 persen. Sisanya dari VCD, DVD, telepon seluler, majalah, dan koran.
Dan di mana mereka melihatnya? Tiga puluh enam persen di rumah sendiri, di kamar pribadi. Dua belas persen di rumah teman.
Berarti satu dari dua anak melihatnya di dalam rumah. Bukan di tempat tersembunyi yang jauh. Di rumah. Di balik pintu kamar yang mungkin tertutup rapat, sementara orang tua duduk menonton televisi di luar.
Setahun sebelumnya, Komisi Nasional Perlindungan Anak melakukan survei terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar di Indonesia. Angkanya lebih berat lagi.
Sebanyak 97 persen responden pernah menonton film porno. Sebanyak 93,7 persen pernah melakukan ciuman, petting, atau oral seks. Sebanyak 62,7 persen remaja usia sekolah menengah pertama pernah berhubungan intim. Dan 21,2 persen siswi sekolah menengah umum pernah menggugurkan kandungan.
Angka-angka itu bukan dari tempat yang jauh. Bukan dari kota yang tidak kita kenal. Dari 12 kota besar. Dari sekolah-sekolah yang mungkin pernah kita lewati.
Elly Risman, Ketua Pelaksana Yayasan Kita dan Buah Hati, menyebut ini bencana. Bukan kecemasan biasa. Bencana.
“Kita berada dalam kultur abai pada anak sendiri,” katanya dalam seminar yang digelar di auditorium Departemen Kesehatan, Jakarta, Maret 2009. “Di sisi lain, kita semua belum menganggap bencana pornografi itu sama pentingnya dengan masalah flu burung, HIV/AIDS, narkoba, dan penyakit-penyakit menular lainnya.”
Ia juga menemukan sesuatu yang lebih mengkhawatirkan dari angka-angka itu. Dari puluhan ribu orang tua di 28 provinsi yang hadir dalam seminar-seminarnya, rata-rata hanya 10 persen yang bisa menggunakan peralatan atau permainan canggih yang mereka belikan untuk anak-anak mereka sendiri.
Orang tua membelikan alat. Tapi tidak tahu cara kerjanya. Tidak tahu apa yang bisa dilakukan alat itu. Tidak tahu ke mana alat itu membawa anak mereka.
Ada hal lain yang membuat persoalan ini sulit diantisipasi. Banyak situs dengan nama yang tidak ada hubungannya dengan konten seksual ternyata menyimpan materi pornografi di dalamnya. Beberapa bahkan menggunakan nama tokoh kartun yang digemari anak-anak, seperti Naruto. Ada juga yang memakai nama hewan seperti lalat atau nyamuk, yang justru biasa dibuka anak-anak ketika mengerjakan tugas sekolah.
Anak itu tidak sedang mencari sesuatu yang berbahaya. Ia hanya mengerjakan PR.
Saya takjub bukan hanya karena melihat angka-angkanya. Yang membuat saya heran adalah alasan mengapa anak-anak itu melihat materi tersebut.
Dua puluh tujuh persen karena iseng. Sepuluh persen terbawa teman. Empat persen takut dibilang kuper.
Takut dibilang kuper.
Di dalam kepala seorang anak, ada tekanan yang tidak selalu kelihatan dari luar. Ada rasa ingin diterima, ingin tidak terlihat berbeda, ingin tidak ketinggalan. Dan di titik yang paling rentan itulah sesuatu yang berbahaya bisa masuk dengan sangat mudah.
Elly Risman menyebut salah satu akar masalahnya: kurangnya peran ayah dalam pengasuhan anak sejak usia dini, khususnya pada anak laki-laki. Ketika jembatan komunikasi antara orang tua dan anak tidak terbangun sejak awal, anak akan mencari informasi dari tempat lain. Dan tempat lain itu tidak selalu aman.
Bukan berarti semua kesalahan ada pada orang tua. Tapi ada bagian yang memang menjadi tanggung jawab rumah, yang tidak bisa sepenuhnya diserahkan ke sekolah atau ke pemerintah.
Pemerintah pun punya perannya sendiri. Pemblokiran situs pornografi. Regulasi ketat terhadap video games yang tidak edukatif. Pengawasan terhadap peredaran materi yang seharusnya tidak sampai ke tangan anak-anak.
Semua itu perlu. Tapi tidak cukup kalau di rumah, pintu kamar tetap tertutup dan tidak ada yang bertanya: Tadi ko buka apa di komputer?
Anak itu masih duduk di depan layar.
Orang tuanya masih ada di ruangan sebelah.
Dan di antara keduanya, ada jarak yang tidak selalu terlihat, tapi terasa.

5 May 2011 at 02:01
pada dasarnya orang tua lah yg hrus brtanggung jwab dngan pergaulan anaknya dengan cara diperhatikan bukan di kekang, dengan cara dijelaskan bkan di sembunyikan agar anak tdak merasa penasaran yg akhirnya membuat anak mnjadi penasaran
5 February 2011 at 00:48
mohon ijin copy paste untuk dishare ke yang lain. saya seorang ibu yang (diam2) sering meerasa cemas dan sering merasa tidak PD dalam hal mendidik anak di era digital ini.
saya senang ada yayasan ini. semoga anak2 indonesia punya masa depan yang lebih cerah dibanding kita saat ini.
trimakasih
21 January 2010 at 20:48
Izin kopi paste ya
di blog nya pemuda anti porno grafi..
ini facebook anti pornografi mari gabung
http://www.facebook.com/group.php?gid=150783844127
5 February 2011 at 07:14
silakan. dengan senang hati