Orgasme kerap dianggap sebagai puncak gunung es dari sebuah ritual ranjang. Jika seseorang tidak mencapai titik itu, dunia seolah kiamat. Banyak orang dengan bangga melabeli ketidakmampuan wanita mencapai klimaks sebagai tanda kerusakan mesin atau malfungsi tubuh. Mereka menyebutnya anorgasmia. Padahal, kita sedang berhadapan dengan mitos-mitos yang dipelihara oleh ego pria yang merasa gagal jika pasangannya tidak meledak di pelukan mereka.
Anggapan bahwa setiap wanita wajib mencapai puncak melalui penetrasi adalah kebohongan medis yang paling awet. Kenyataan di lapangan jauh lebih sederhana dan manusiawi. Sepertiga wanita memang bisa mencapai klimaks hanya dengan penetrasi. Sepertiga lainnya membutuhkan bantuan rangsangan tambahan. Sisanya, mereka harus mengandalkan sentuhan tangan atau mulut agar bisa merasakan sensasi itu. Tidak ada yang salah dengan keragaman ini.
Banyak orang suka menunjuk hidung bahwa masalah ini bersumber dari pikiran yang kusut. Mereka bilang wanita yang tidak mencapai klimaks pasti sedang stres atau kurang fokus. Ini adalah penyederhanaan yang menghina. Anorgasmia memang nyata dan memiliki akar fisik maupun mental yang kompleks. Seseorang bisa saja tidak pernah merasakan orgasme seumur hidupnya, atau hanya di situasi tertentu. Label psikologis sering menjadi tempat pelarian bagi mereka yang enggan melihat realitas biologis yang lebih dalam.
Frigiditas adalah kata kotor lain yang dilemparkan kepada wanita.
Jika seorang wanita tidak mencapai puncak, orang langsung menuduh hubungan asmaranya sedang retak. Tuduhan ini sangat tidak adil. Seseorang bisa hidup bahagia dengan pasangannya, tertawa di meja makan, berbagi mimpi, namun tetap tidak mencapai klimaks karena alasan yang jauh dari drama hubungan. Efek samping obat-obatan atau penyakit kronis sering menjadi tersangka utama yang luput dari pengamatan.
Orang bilang tidak ada jalan keluar untuk masalah ini.
Dusta besar. Wanita bisa mencoba teknik relaksasi untuk melepaskan ketegangan yang membelenggu syaraf. Pasangan pun memiliki peran untuk berhenti terobsesi pada durasi penetrasi. Mereka bisa mengeksplorasi cara lain yang lebih efektif dan manusiawi melalui stimulasi manual atau oral. Intimasi bukan tentang seberapa keras Anda berusaha mencapai target, melainkan tentang keterbukaan untuk mengomunikasikan kebutuhan di atas ranjang.
Berbicaralah dengan dokter jika masalah ini terasa membebani. Cari bantuan konseling untuk menjembatani jarak emosional dengan pasangan. Berhentilah menyalahkan tubuh sendiri atau menuntut tubuh pasangan mengikuti skenario yang ditulis oleh literatur murahan. Tubuh manusia bukan mesin yang bekerja berdasarkan tombol. Ia adalah cermin dari kelelahan, kesehatan, dan kejujuran emosi yang tidak bisa dipaksa.