Rumah kita, dalam urusan kelamin, biasanya terbagi dalam tiga jenis selokan. Pertama, rumah yang menganggap seks sebagai bagian dari kesehatan, layaknya bernapas atau makan. Kedua, rumah yang menganggapnya sebagai dosa besar yang harus dikubur hidup-hidup di bawah tanah. Ketiga, yang paling banyak, rumah yang memilih pura-pura amnesia. Topik itu tidak pernah dibicarakan, seolah-olah membicarakan anatomi adalah kesalahan fatal yang membuat lantai rumah retak.
Hasilnya? Generasi yang gagap. Saat dewasa, mereka masuk ke kamar tidur dengan kepala kosong atau justru penuh dengan sampah visual.
Nicole McNichols, seorang dosen yang cukup nekat untuk mengajarkan keragaman seksualitas kepada ribuan mahasiswa setiap tahun, mencoba menambal lubang besar ini lewat bukunya. Dia menghadapi realitas pahit di mana anak muda kita tidak belajar tentang seks dari sekolah atau orang tua yang bijak, melainkan dari pornografi. Hasilnya adalah panggung sandiwara yang menyedihkan. Organ intim yang tampak tidak nyata, peran gender yang kaku, dan seks kasar yang dianggap sebagai standar emas.
“Pornografi merusak seks saya,” keluh para mahasiswanya.
Mereka membawa rasa minder, malu, dan ide-ide beracun ke dalam kamar tidur. McNichols berada dalam posisi sulit, karena dia harus mendukung kebebasan seksual sekaligus memperingatkan bahwa meniru adegan layar adalah resep untuk kehampaan. Seks tanpa kesadaran adalah aktivitas mekanis yang hambar.
Lalu ada budaya santai yang sebenarnya penuh dengan kepura-puraan. Orang takut terlihat butuh atau haus kasih sayang, sehingga mereka memilih hubungan tanpa label yang justru melahirkan kesepian baru. Mereka takut untuk jujur tentang apa yang diinginkan. Padahal, kejujuran adalah mata uang yang paling mahal dalam hubungan manusia.
McNichols menawarkan semacam tangga untuk mencapai kepuasan.
Jangan bermimpi membeli kostum aneh di toko khusus jika dasar-dasarnya saja belum beres. Kita harus memahami bagaimana tubuh bekerja. Kita harus sadar bahwa stres, kelelahan, dan rasa benci yang menumpuk bisa membajak siklus kesenangan. Setelah itu, barulah kita bicara tentang komunikasi. Jangan menyembunyikan dendam kecil yang membusuk di sudut hubungan. Terakhir, barulah bicara soal rasa ingin tahu dan pertumbuhan pikiran.
Dia berbicara tentang siklus kesenangan tiga babak. Keinginan, kesukaan, dan pembelajaran. Ketiganya saling mengunci. Jika kita tidak tahu apa yang membuat kita nyaman, bagaimana mungkin kita bisa memberi tahu pasangan?
Konsep konsen juga perlu didefinisikan ulang. Konsen bukan sekadar tanda tangan di atas kertas atau persetujuan fisik sesaat. Ini tentang kejujuran emosional. Bagaimana bisa ada konsen yang benar jika kita berbohong tentang status pernikahan atau penyakit menular? Memanipulasi makna sebuah pertemuan adalah bentuk pengkhianatan yang paling halus.
Banyak orang merasa tertekan harus selalu melakukan hal baru untuk menjaga api cinta. Padahal, kebaruan mikro jauh lebih masuk akal.
Kita tidak perlu menjadi orang lain setiap kali lampu kamar dipadamkan. Penelitian menunjukkan bahwa melakukan satu hal berbeda dalam sebulan sudah cukup untuk menjaga kehangatan. Tidak perlu melakukan atraksi sirkus. Mengganti posisi, mencoba alat sederhana, atau sekadar berpindah waktu dan tempat adalah cukup.
Kebaruan tidak harus selalu megah dan meriah. Ia bisa datang dalam bisikan kecil yang tidak menuntut kita untuk menjadi orang asing di mata pasangan sendiri. Seks bukanlah tentang mencetak rekor dunia. Seks adalah tentang menjadi manusia yang utuh, jujur, dan tidak merasa perlu berakting di hadapan orang lain.