Sudah terlalu lama kita semua dicekoki dogma tua: delapan jam tidur adalah syarat mutlak bagi kesehatan. Jika kurang, kita dianggap mengundang obesitas, darah tinggi, hingga serangan jantung. Para ahli berteriak nyaring tentang angka tujuh sampai sembilan jam, seolah-olah tubuh manusia adalah mesin pabrik yang harus beroperasi dengan durasi seragam.
Tony Cunningham, seorang psikolog klinis yang bosan dengan hitung-hitungan kaku, tertawa melihat kegilaan ini.
Dia melihat tidur bukan sebagai angka di jam dinding, melainkan sebagai tarian dua kekuatan: tekanan tidur dan ritme sirkadian. Tekanan tidur adalah rasa kantuk yang menumpuk seiring jam demi jam kita terjaga. Ini sama seperti rasa lapar. Semakin lama perut kosong, semakin melengking bunyi keroncongan. Kita harus masuk ke tempat tidur tepat saat tekanan itu memuncak.
Ritme sirkadian adalah jam internal yang diputar oleh otak.
Jangan terkecoh oleh cahaya lampu atau jadwal kantor. Meskipun faktor luar bisa memengaruhi, pola dasar kita adalah perintah biologis yang tersembunyi di dalam kepala. Jika Anda pernah terjaga semalaman dan tiba-tiba merasa segar di tengah malam, itulah saat jam internal sedang menendang kesadaran. Kualitas tidur akan membaik jika tekanan tidur dan ritme sirkadian berjalan beriringan. Jangan melawan arus ini dengan jadwal yang berantakan.
Cunningham memberi petunjuk praktis. Mulailah bangun di jam yang sama setiap pagi.
Lupakan keharusan tidur di jam yang sama setiap malam jika mata belum juga terpejam. Memaksa diri berbaring saat tidak mengantuk adalah penyiksaan sia-sia. Jika mata masih menatap langit-langit kamar setelah tiga puluh menit, bangkitlah. Lakukan sesuatu yang membosankan. Meditasi atau berendam air hangat akan lebih berguna daripada berbaring sambil menghitung domba.
Lalu, bagaimana menemukan jatah tidur yang tepat?
Hapus semua jam di kamar. Tutup rapat tirai jendela. Singkirkan semua alat yang memberi tahu waktu. Biarkan tubuh terjaga hingga terlelap dan bangun tanpa disengaja oleh denting alarm.
Tiga hari pertama mungkin akan terasa aneh. Anda akan tidur selama belasan jam untuk membayar utang lelah yang selama ini dipupuk. Namun, setelah tubuh puas dengan rasa kantuknya, ia akan menetap pada satu titik stabil. Saat Anda terbangun di jam yang sama selama tiga atau empat hari berturut-turut tanpa bantuan cahaya matahari atau alarm, itulah durasi tidur asli yang Anda butuhkan.
Bisa jadi angkanya hanya lima atau enam jam. Atau mungkin sepuluh. Jangan memaksakan angka delapan jam yang dipaksakan oleh orang lain jika biologis Anda memang tidak menginginkannya. Tubuh tahu kapan ia harus berhenti. Kita saja yang terlalu sibuk mendengarkan omongan orang daripada mendengarkan detak jam di dalam diri sendiri.