Kikuyo Nakamura menatap punggung putranya. Benjolan-benjolan kecil tumbuh di sana, tampak remeh, sekadar bisul atau alergi yang lekas hilang. Begitu pikirnya. Namun, rasa cemas tidak pernah benar-benar mati. Hiroshi, anak keduanya yang lahir pada tahun 1948, adalah anak seorang hibakusha. Nakamura tahu benar bayang-bayang bom atom yang meluluhlantakkan Nagasaki tiga tahun sebelum Hiroshi lahir selalu mengintai. Dia takut warisan radiasi itu mengalir dalam darah anaknya.
Hiroshi pergi ke rumah sakit pada tahun 2003. Dua hari berlalu tanpa kabar. Kemudian tiga hari. Seminggu kemudian, Nakamura menyusulnya ke bangsal putih yang dingin itu. Dokter memberikan vonis kejam: leukemia stadium empat. Kanker darah itu sudah menjalar ke seluruh tubuh. Dokter itu, dengan enteng dan tanpa beban moral, mengatakan bahwa dialah penyebabnya. Radiasi yang diserap Nakamura saat menyusui bayi itu dulu, kata dokter tersebut, adalah racun yang membunuh putranya.
Hiroshi mati enam bulan kemudian. Dunia Nakamura runtuh seketika. Dia membawa beban sebagai pembunuh putranya sendiri selama lebih dari dua dekade. Guilt, rasa bersalah, menjadi napasnya sehari-hari. Pada usianya yang ke-101, dia masih mendengar suara dokter itu bergaung di kepalanya. Dia masih meminta maaf kepada Hiroshi di setiap sujudnya yang gemetar. Bahwa secara sains klaim dokter itu tidak memiliki bukti kuat, tidak mengubah apa pun. Trauma tidak butuh bukti. Trauma hanya butuh tempat untuk bersemayam.
Jepang adalah ladang stigma yang subur bagi perempuan. Para penyintas bom atom, perempuan-perempuan yang saat itu sedang hamil atau beranjak dewasa, dipaksa hidup di bawah bayang-bayang ketakutan. Mereka dicap sebagai produk gagal oleh tetangga, teman, bahkan keluarga sendiri. Radiasi dianggap kutukan. Jika seorang perempuan terkena paparan nuklir, dia dianggap tidak akan sanggup melahirkan anak yang normal, atau lebih parahnya, tidak akan sanggup mengandung sama sekali.
Nilai seorang perempuan pada masa itu hanyalah rahim dan pernikahan.
Ketika tubuh mereka membawa bekas luka bakar yang tidak bisa disembunyikan, martabat mereka menguap di mata masyarakat yang patriarkal. Menikah menjadi kemewahan yang mustahil bagi banyak penyintas. Mereka bersembunyi. Mereka menyembunyikan fakta bahwa mereka adalah hibakusha hanya agar bisa diterima sebagai manusia biasa. Diskriminasi gender berpadu dengan ketakutan akan radiasi, menciptakan penjara sosial yang jauh lebih menyiksa daripada luka fisik itu sendiri.
Memang, ada dampak biologis yang nyata. Janin yang terpapar radiasi pada masa kehamilan antara minggu kelima hingga kelima belas mengalami gangguan perkembangan otak dan organ. Riset-riset setelah Perang Dunia II mencatat kelahiran dengan disabilitas intelektual serta mikrosefali. Namun, stigma yang menghancurkan hidup para ibu ini melampaui statistik medis. Stigma adalah penyakit mental yang sengaja dipelihara oleh masyarakat yang penakut.
Nakamura adalah bukti bagaimana sejarah memperlakukan korbannya.
Saat bom jatuh pada Agustus 1945, dia sedang menjemur pakaian lima kilometer dari pusat ledakan. Dia melihat kilatan cahaya yang membutakan, lalu angin kencang melemparkannya ke udara. Dia selamat secara fisik, namun secara psikis dia dikubur hidup-hidup oleh rasa malu. Dia menyembunyikan kematian Hiroshi dari cucu-cucunya selama bertahun-tahun, takut pernikahan mereka akan terhalang oleh sejarah kanker dalam keluarga.
Mitsuko Yoshimura mengalami nasib yang setali tiga uang. Usianya kini 102 tahun. Dia adalah penyintas yang kehilangan segalanya kecuali hidupnya. Dia melihat orang-orang dengan kulit yang terkelupas di punggung, darah yang memancar dari kepala, dan kengerian yang tidak sanggup dicerna logika.
Rambutnya rontok saat disisir, darah dimuntahkan dari tenggorokannya selama berbulan-bulan. Dia menikah, namun rahimnya tidak pernah membawa kehidupan. Dua kali keguguran, satu kali bayi lahir mati. Di rumahnya, boneka-boneka menjadi pengganti bisu bagi anak yang tidak pernah hadir.
Kedua perempuan tua ini menunggu ajal dengan kesadaran penuh.
Mereka berbicara bukan karena ingin dikasihani, melainkan karena mereka muak dengan kebodohan perang. Untuk apa kekuasaan? Untuk apa perluasan wilayah? Pertanyaan itu terdengar kecil di tengah gemuruh sejarah, namun itulah satu-satunya kebenaran yang tersisa. Mereka menyaksikan bagaimana negara bertaruh nyawa demi ego, meninggalkan perempuan-perempuan seperti mereka untuk menanggung beban kesepian dan rasa bersalah yang tidak berkesudahan.
Perang tidak pernah benar-benar usai bagi mereka yang rahimnya kering atau hatinya hancur oleh bayang-bayang radiasi. Perang adalah cara manusia membuktikan bahwa mereka lebih rendah daripada binatang, karena binatang tidak pernah menciptakan senjata yang sanggup merusak masa depan keturunannya sendiri. Dan di sini, di antara foto-foto lama dan boneka-boneka bisu, mereka hanya bisa tertawa getir melihat dunia yang terus sibuk mencari alasan untuk membinasakan diri sendiri.







