Wahai manusia, betapa sering kita meratap di hadapan takdir. Kita menuntut hidup yang melaju mulus di atas jalan tol tanpa lubang, seolah dunia ini adalah taman bunga yang mekar abadi di bawah naungan surga. Padahal, dunia ini diciptakan sebagai medan tempur yang penuh dengan onak duri.
Tuhan memang sengaja merancang kehidupan ini sebagai rentetan ujian yang tak henti-henti, sebuah proses pendewasaan yang sering kali terasa mencekik leher.
Tidak ada kebahagiaan yang menetap selamanya di sini. Kesenangan hanyalah tamu yang datang berkunjung sesekali, layaknya kemeriahan hari raya yang segera berlalu. Selebihnya, hari-hari kita adalah tumpukan kepayahan, kekhawatiran, dan keinginan yang sering kali kandas di tengah jalan.
Kita dipaksa untuk belajar satu hal: berdamai dengan rasa sakit.
Mari kita tengok catatan tua dalam kitab suci. Ada sebuah kaidah yang sering kita lupakan tatkala emosi menguasai kepala. Sesuatu yang kita benci bisa jadi merupakan berkah yang tersembunyi. Sebaliknya, hal yang kita puja setengah mati bisa jadi adalah racun yang siap melumpuhkan kita.
Tuhan tahu apa yang tersembunyi, sementara kita hanya meraba dalam kegelapan.
Pernahkah kita merasa enggan saat diwajibkan melakukan sesuatu? Mungkin kewajiban salat berjamaah terasa berat saat kasur empuk memanggil. Mungkin menginfakkan harta terasa seperti kehilangan nyawa.
Jiwa kita sering kali memberontak, menolak syariat dengan berbagai alasan. Namun, bukankah rasa berat itu hanyalah riak kecil di permukaan? Di balik rasa malas itu, ada hakikat kebaikan yang jauh lebih besar dari sekadar kenyamanan tubuh.
Kaidah ini melampaui batas-batas ibadah. Lihatlah bagaimana seorang suami menghadapi istrinya. Terkadang, ada hal dari pasangan yang membuat hati perih. Wajah, perangai, atau lisan yang tidak selaras dengan kehendak hati.
Tuhan berpesan untuk bersabar. Di balik ketidaksukaan itu, Tuhan sedang menitipkan kebaikan yang agung bagi mereka yang mampu bertahan. Sabar adalah ladang pahala yang tak pernah kering bagi orang-orang yang tetap setia.
Masih ingat dengan kisah Aisyah yang dituduh berzina dalam peristiwa fitnah besar? Tuduhan itu begitu keji dan menghancurkan martabat keluarga Nabi. Kaum munafik bersorak, dunia terasa runtuh bagi orang-orang yang mencintai kebenaran. Siapa yang sudi dituduh dengan perkara nista seperti itu?
Namun, lihatlah bagaimana Tuhan memutar balik keadaan. Melalui fitnah itu, kemuliaan Aisyah justru terangkat tinggi ke langit. Harum kayu gaharu tidak akan tercium jika ia tidak dibakar oleh api.
Mari kita bergeser pada kisah Musa kecil. Ibu mana yang tega menghanyutkan bayinya ke sungai yang ganas? Itu adalah tindakan yang melawan naluri paling dalam seorang manusia. Hati sang ibu kosong, nyaris gila oleh rasa cemas.
Tapi Tuhan tidak sedang bermain-main. Justru melalui tangan musuh besarnya, Firaun, Musa diselamatkan. Sang bayi kembali ke pelukan ibunya dengan status baru sebagai anak angkat raja, bahkan ibunya pun dibayar untuk menyusui anaknya sendiri di istana yang mewah.
Apa yang tampak seperti malapetaka bagi kita, sering kali adalah cara Tuhan menuntun kita pulang. Musa yang melarikan diri dari Mesir dalam keadaan lapar, akhirnya menemukan kedamaian, jodoh, dan persiapan dakwah di Madyan. Yusuf yang dibuang saudaranya ke sumur, dijual sebagai budak, dan dipenjara, pada akhirnya menduduki singgasana kemuliaan.
Semua itu pahit di awal. Semua itu menyakitkan untuk dirasakan.
Pernahkah kita berpikir tentang seorang anak yang diambil nyawanya oleh Tuhan? Bagi orang tua, itu adalah bencana yang tak tertahankan. Namun, Tuhan tahu apa yang tidak diketahui manusia. Mungkin saja, jika anak itu hidup lebih lama, ia akan membawa kedua orang tuanya terjerembab ke dalam jurang kekafiran. Kehilangan itu, sesakit apa pun, adalah perisai bagi iman mereka.
Begitu pula dengan Perang Badar. Para sahabat awalnya hanya ingin mencegat kafilah dagang Abu Sufyan karena mudah dan menguntungkan. Siapa yang ingin berhadapan dengan pasukan besar Abu Jahal yang bersenjatakan lengkap? Mereka merasa digiring menuju kematian.
Namun, justru dalam ketakutan itulah, Tuhan hendak membersihkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan sampai ke akar-akarnya. Lihatlah, hari itu justru menjadi puncak kemuliaan bagi mereka yang bergelar Ahli Badar, sebuah gelar yang menjanjikan pintu surga.
Kisah Ummu Salamah pun menjadi bukti nyata. Ia hancur lebur saat Abu Salamah wafat. Ia merasa tidak akan ada laki-laki lain yang bisa menggantikan posisi suaminya. Namun, doa kesabaran membawanya ke pelukan sang Nabi sendiri. Tuhan menggantikan yang hilang dengan sosok yang jauh lebih mulia.
Fathimah binti Qais pun serupa. Ia awalnya menolak dipersunting Usamah bin Zaid, menganggap laki-laki itu tidak sepadan dengan derajatnya. Namun, ketaatan pada perintah Rasul membuktikan bahwa apa yang kita anggap rendah justru menyimpan berkah yang melimpah.
Dunia ini penuh dengan tipu daya persepsi. Seorang panglima perang yang kakinya patah mungkin meratapi nasibnya karena tidak bisa terjun ke medan tempur. Namun, patah kaki itulah yang menjauhkannya dari dosa membunuh cucu Nabi di Karbala. Emas yang hilang di Zamzam, kembali kepadanya bertahun-tahun kemudian karena ia tersandung dan menjatuhkan barang dagangannya.
Pesawat yang tertinggal karena macet, justru menjadi tiket penyelamat bagi mereka yang seharusnya menjadi korban ledakan di udara.
Tuhan sering kali menutup satu pintu dengan kasar agar kita tidak berjalan menuju jurang.
Kita perlu berhenti merasa paling tahu tentang apa yang baik bagi diri kita sendiri. Tuhan adalah arsitek yang lebih memahami konstruksi hidup kita daripada kita yang sekadar penghuni.
Berhentilah mengeluh jika rencana kita berantakan. Berhenti pula menuntut agar dunia tunduk pada keinginan kita.
Jadilah seperti hamba yang berserah. Kita perlu kembali pada ritme sederhana: istigfar, takwa, dan prasangka baik. Jika segala keinginan kita selalu terkabul, mungkin kita akan menjadi manusia paling angkuh di muka bumi.
Tuhan membiarkan kita gagal, menangis, dan merasa kekurangan agar kita tidak lupa menundukkan kepala.
Dunia ini adalah kepayahan yang berputar. Dari sejak kita masih janin yang menyiksa rahim ibu, hingga masa tua yang tertatih-tatih, kita tidak akan pernah luput dari beban. Semua orang, dari raja hingga pengemis, memiliki jatah penderitaannya masing-masing.
Berhenti menghitung beban orang lain, dan mulailah belajar mengelola duka sendiri sebagai tangga menuju kedewasaan jiwa.
Pada akhirnya, semua akan masuk ke liang kubur dengan beban yang terselesaikan. Tuhan tidak akan bertanya berapa banyak keinginan kita yang tercapai, melainkan bagaimana kita merespons setiap pahit yang ditaburkan-Nya di jalan hidup kita.