Dunia sering kali terasa begitu kejam bagi mereka yang kehilangan. Kehilangan kekasih, buah hati, istri, ibu, atau sahabat setia, menyisakan lubang menganga yang sulit ditutup. Namun, jika kesedihan itu kini menyesakkan dadamu, ingatlah bahwa jalan terjal ini pernah Rasulullah ﷺ lalui. Beliau yang paling dicintai Allah ﷻ justru menjadi manusia yang paling akrab dengan perpisahan.
Allah ﷻ memberikan ujian hidup lewat rasa takut, kelaparan, dan kehilangan jiwa. Ujian ini bukan pertanda Allah ﷻ membuang hamba-Nya, melainkan sebuah saringan iman. Semakin tinggi derajat seseorang di sisi Tuhan, semakin berat pula beban yang harus Beliau pikul di pundaknya.
Kisah kesedihan Rasulullah ﷺ dimulai jauh sebelum kenabian. Beliau kehilangan ayah bahkan sebelum sempat melihat senyumnya. Saat menginjak usia enam tahun, ibunda tercinta menutup mata selamanya di sebuah tempat bernama Abwaa saat perjalanan pulang ke Mekah.
Bayangkan seorang anak kecil yang harus menyaksikan ibu yang paling ia sayangi terbujur kaku di hadapan matanya. Itu baru permulaan dari rangkaian kesedihan yang harus Beliau telan sepanjang hayat.
Beliau pernah merasakan pedihnya kehilangan anak. Beliau dikaruniai enam putra-putri, namun hampir semuanya pergi mendahului Beliau. Saat Ibrahim lahir dari rahim Maariyah, kegembiraan membuncah di hati Beliau. Beliau bahkan berjalan jauh ke daerah awali hanya untuk mencium putra kesayangannya itu. Namun, maut tidak memandang kasih sayang manusia. Ibrahim berpulang saat usianya belum genap dua tahun.
Beliau masuk ke rumah ibu susuan Ibrahim saat napas sang anak tersengal di ambang kematian. Air mata Beliau mengalir deras membasahi pipi. Saat Abdurrahman bin ‘Auf bertanya dengan heran, Beliau menjawab bahwa itu adalah rahmat dari kasih sayang.
Mata menangis dan hati bersedih, namun Beliau tetap menjaga lisan agar tidak melampaui keridaan Tuhannya. Beliau memeluk perpisahan itu dengan air mata, tetapi tetap tegar dengan keimanan.
Kehilangan putri tercinta, Ummu Kaltsuum, juga meninggalkan duka mendalam. Saat jasad sang putri diturunkan ke liang lahat, Beliau duduk di tepi kuburan dengan mata yang terus berair. Beliau tampak rapuh namun tetap menjadi mercusuar ketenangan bagi para sahabat.
Duka lain datang saat Beliau menerima kabar kematian cucunya yang sedang sakaratul maut. Meski dalam kondisi duka, Beliau tetap mengirimkan pesan pengingat kepada putrinya untuk bersabar dan mengharapkan pahala.
Saat cucu itu dipangkuan Beliau dan mulai meronta, air mata Beliau kembali pecah. Beliau menjelaskan kepada para sahabat yang heran, bahwa tangisan itu adalah fitrah kasih sayang yang AllahAllah ﷻ tanamkan di dalam hati setiap hamba-Nya.
Puncak duka yang lain terjadi saat Beliau melihat jasad paman tercinta, Hamzah bin Abdil Muththolib, di medan Uhud. Hamzah bukan sekadar paman, melainkan saudara sepersusuan dan singa di medan jihad. Saat Beliau melihat tubuh yang tercabik-cabik oleh tombak Wahsyi itu, Beliau tidak sekadar menangis. Beliau terisak keras hingga mengguncang jiwa siapa pun yang mendengarnya.
Beliau menjalani hidup bukan sebagai sosok yang kebal terhadap duka. Beliau merasakan sakit, gembira, lelah, dan kehilangan seperti manusia biasa.
Perbedaannya terletak pada cara Beliau merespons semua badai tersebut. Beliau tidak pernah memaki takdir meski hatinya perih. Beliau tetap menjadi hamba yang bersyukur dan bersabar di tengah badai kesedihan yang luar biasa.
Jika Beliau saja menangis saat berpisah dengan orang-orang yang dicintai, mengapa kita merasa harus malu jika air mata kita pun jatuh saat menghadapi kehilangan yang sama?