Banyak orang di negeri ini gemar memamerkan mimpi setinggi langit. Mereka menyusun batu bata ke awan, menamainya pusat teknologi, lalu berharap keajaiban turun dari surga.
Bukit Algoritma di Sukabumi menjadi monumen terbaru bagi nafsu besar yang kehilangan pijakan. Sang politisi mengusung gagasan muluk, meminjam nama besar Silicon Valley, seolah teknologi lahir dari sekadar papan pengumuman dan pidato yang berapi-api.
Pemandangannya kontras. Ratusan hektar tanah masih berupa perkebunan kelapa sawit yang sunyi. Sinyal internet enggan menyapa, jalan menuju pusat kota terasa seperti menempuh perjalanan lintas abad.
Sukabumi memang punya pelabuhan, tapi ia bukan Palo Alto. Bekasi dan Karawang pun jauh lebih menggoda bagi para investor yang punya akal sehat.
Silicon Valley tidak muncul dari instruksi presiden. Lembah Santa Clara itu tumbuh perlahan lewat rahim Universitas Stanford. Mahasiswa teknik keluar kampus, bereksperimen dengan transistor, lalu mendirikan perusahaan di garasi rumah.
William Shockley tidak menunggu dana hibah negara untuk menemukan Sillicon. Mereka bekerja bertahun-tahun, jatuh bangun dalam kesenyapan laboratorium, bukan dalam sorotan kamera wartawan.
Kita malah sering terbalik. Proyek industri besar dikerjakan dari atas, tanpa akar, tanpa ekosistem ilmu pengetahuan yang memadai. Universitas di sini lebih sibuk dengan administrasi daripada riset yang mengubah dunia.
Jika pemerintah menginginkan sesuatu yang nyata, mereka perlu berhenti menjual mimpi tentang pusat antariksa atau teknologi kuantum di tanah yang baru saja dibersihkan dari pohon sawit.
Mengapa tidak membumikan riset pada apa yang sudah ada? Kelapa sawit bisa menjadi laboratorium energi terbarukan atau industri tanpa limbah. Riset yang lahir dari tanah sendiri jauh lebih jujur daripada meniru gaya hidup orang asing.
Bermimpi memang gratis. Namun, membangun peradaban butuh keringat, bukan sekadar tanda tangan di atas proposal megaproyek. Kemajuan tidak datang dari perintah, ia datang dari kerja keras di ruang-ruang gelap laboratorium yang sepi.
Kecil saja dulu. Pelan namun pasti. Tanpa perlu gembar-gembor tentang kejayaan yang belum tentu tiba.