Setiap tanggal dua puluh satu April, kita kembali memainkan sandiwara tahunan. Para pejabat mengenakan kebaya atau batik terbaik mereka. Mereka berbaris rapi. Mereka membacakan pidato tentang emansipasi perempuan. Lalu, mereka pulang. Kartini menjadi sekadar pajangan dinding yang disucikan tetapi dilupakan maknanya.
Seratus enam belas tahun berlalu sejak jantung Kartini berhenti berdenyut. Dia merobek tirai feodalisme dengan pena. Dia menolak menjadi budak poligami meski harus menelan pil pahit takdirnya sendiri. Kini kita menatap cermin yang retak. Kebaya tetap dipakai. Namun ribuan anak perempuan justru terjerembap ke dalam pelaminan paksa sebelum usia mereka cukup matang.
Angka-angka bicara dengan bahasa yang dingin. Mahkamah Agung memberi restu kepada puluhan ribu pernikahan anak dalam waktu singkat. Hukum seolah menjadi mesin pengeksekusi mimpi anak-anak perempuan tersebut. Hakim mengetuk palu. Masa depan mereka runtuh.
Rumah tidak lagi menjadi tempat berlindung. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan mencatat lonjakan laporan kekerasan dalam rumah tangga yang gila. Istri-istri merintih di balik pintu tertutup. Sementara di luar sana, orang-orang sibuk berlari mengejar kemakmuran tanpa peduli pada jeritan yang teredam.
Kartini mengirim surat-suratnya dari Jepara ke negeri Belanda. Dia bermimpi tentang cahaya. Kini, cahaya itu tampak redup. Kita hanya meminjam namanya untuk merayakan formalitas. Kita mengabaikan realitas perempuan yang terperangkap dalam eksploitasi sistemik.
Jangan bicara tentang kemajuan jika kita membiarkan kegelapan tetap bertahta. Jangan pula membanggakan kebijakan jika nyawa perempuan menjadi taruhan dalam permainan ekonomi. Perempuan bukan sekadar objek untuk dipamerkan dalam perayaan tahunan.
Tepuk tangan untuk pidato sudah selesai. Kebaya segera masuk ke lemari. Besok pagi, realitas akan kembali menggigit. Anak-anak perempuan itu tetap harus berjuang menghadapi kenyataan yang belum pernah berubah sejak Kartini tiada. Perubahan membutuhkan nyali, bukan sekadar simbol yang dipakai setahun sekali.