Malam minggu di Karangwangsa. Tirta memetik senar gitar asal-asalan. Sumbang. Di kamar sebelah, televisi tabung Jaka meraung-raung. Dari ujung selasar, dangdut koplo buruh pabrik otomotif berdentum liar. Pintu-pintu terbuka. Semua orang merayakan kebebasan akhir pekan setelah mampus dihajar lembur.
Sandal jepit bergesek di tangga. Listy muncul. Rambutnya basah. Dia tersenyum melihat Tirta yang menyendiri di kursi rotan. Tirta membuang muka. Pura-pura khusyuk melantunkan lagu lawas yang dia sendiri lupa liriknya. Masih dongkol soal pagi tadi.
Listy mencondongkan tubuh. Dekat sekali. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari hidung Tirta.
“Halo? Ada orang di dalam?”
“Orangnya keluar.” Tirta menatap papan fret gitar.
“Sayang sekali. Padahal aku mau traktir.”
“Oh, yang itu barusan pulang. Aku orangnya.”
Listy terbahak. Renyah. Tangan halusnya menepuk pipi Tirta pelan sebelum berbalik. “Gratisan langsung tanggap.”
“Hei! Katanya mau traktir?”
“Batal!” Listy memegang gagang pintu kamar nomor dua puluh empat. Dia berhenti. Memutar tubuh, matanya menyipit penuh selidik. “Ngomong-ngomong, tadi siang kamu masuk kamarku, ya?”
Jantung Tirta berdesir. Wajahnya dibuat sedatar papan gilasan. “Kurang kerjaan amat. Memangnya ada emas batangan?”
“Siapa tahu kamu mencuri stoking hitamku yang belum dicuci.”
“Sialan.”
Listy terpingkal-pingkal. Telinga Tirta memerah. “Iya, cuma bercanda. Gampang amat naik darah. Kamu belum makan, kan? Ayo keluar. Aku yang bayar.”
“Boleh. Asal bukan mi ayam sisa semalam.” Tirta meletakkan gitar. Berdiri.
“Ajak Jaka sekalian.”
Tirta melongok ke kamar sebelah. Jaka memegang stik PS. Urat lehernya menegang. Kalah balapan.
“Jak, Listy mau traktir. Ikut nggak?”
“Sama perempuan aneh itu? Kalian saja. Kepala gue lagi panas. Titip lele goreng, sambal banyakin.”
“Gratis, Jak.”
“Malaikat maut menjemput pun gue tunda kalau balapan ini belum selesai, Tir. Sana pergi.”
Tirta mendengus.
Angin malam Karangwangsa langsung menyergap begitu mereka menuruni anak tangga semen yang lembap. Jalanan pemukiman lengang.
“Tumben kamu baik,” kata Tirta.
“Upah menggeser lemari tadi pagi. Aku tahu kamu menggerutu sepanjang hari.” Listy memasukkan tangan ke saku jaket. Langkahnya santai.
“Siapa yang menggerutu? Aku ikhlas membantu.”
“Ah, masa? Mukamu mirip kerbau dipaksa membajak sawah.” Listy terkekeh. Dia menunjuk tenda kaki lima. Asap bakaran lemak mengepul gurih. “Pecel lele?”
Kedai sepi. Hanya ada sepasang remaja di pojok dekat ember cuci piring. Aroma minyak goreng panas dan ulekan terasi menyengat hidung.
“Mas, lele dua. Nasi uduk, ya,” seru Tirta.
“Sama, Mas,” timpal Listy.
Mereka duduk di bangku kayu panjang. Meja dilapisi taplak plastik kotak-kotak. Tirta mengetuk-ngetuk jari. Dongkol di dada bergeser jadi rasa penasaran yang mendesak.
“Kuliah Teknik Sipil sesibuk itu? Sampai malam baru pulang?”
“Tugas gambar tidak ada habisnya. Aku belum punya komputer. Terpaksa numpang ngetik di kosan teman di daerah Mahoni.”
“Kenapa tidak beli komputer? Biar tidak perlu bolak-balik.”
Listy menggeleng. “Malas. Punya barang berharga di kosan cuma menambah beban pikiran. Lebih praktis pinjam punya orang.”
“Logika macam apa itu? Aku justru bermimpi punya komputer sendiri.”
“Bagus. Nanti kalau kamu beli, aku numpang ngetik setiap hari di kamarmu.”
Tirta mencibir. “Ujung-ujungnya mau gratisan.”
Tawa Listy mereda. Sepi mendadak turun. Tirta memajukan badan. “Ngomong-ngomong, kamu pintar bahasa Inggris?”
Listy mengernyit. Tatapannya menajam. “Tidak terlalu. Kenapa?”
“Tidak apa-apa. Hanya teringat kliping koran asing di dekat dispensermu siang tadi. Kamu suka mengoleksi berita luar negeri?” Tirta memancing. Matanya lurus menatap wajah Listy.
Ekspresi santai itu menguap. Ada garis tegang di sudut bibir Listy.
“Kamu bilang tadi tidak memeriksa kamarku, Tirta?”
“Hanya melihat sekilas dari pintu. Tumpukannya tinggi.”
“Melihat sekilas tidak akan membuatmu tahu bahasa klipingnya,” potong Listy. Nadanya dingin. Kerenyahannya lenyap. “Jangan membongkar barang orang tanpa izin. Tidak sopan.”
“Iya, maaf. Aku tidak bermaksud lancang.” Tirta mengalah. Suasana mendadak kikuk. “Tapi, tulisan tentang Children of God itu sebenarnya apa? Judulnya menarik.”
Listy diam. Matanya menatap penggorengan besar di depan tenda. Minyak meletup-letup. Dua ekor lele dicelupkan.
“Hanya tugas kuliah. Analisis gerakan sosial. Aku tidak paham isinya, cuma asal potong dan tempel.”
Jawabannya terlalu datar. Seperti naskah hafalan. Tirta manggut-manggut. Batinnya menolak percaya. Mahasiswi Teknik Sipil menganalisis sekte keagamaan ekstrem untuk mata kuliah umum? Janggal.
“Besok kamu lembur?” Listy mengalihkan pembicaraan. Nadanya melunak kembali.
“Tidak. Libur penuh.”
“Temani aku besok pagi. Jalan-jalan ke mal.”
“Aduh, malas bangun pagi lagi.”
“Tidak ada penolakan. Kamu sudah makan lele pakai uangku. Hukumnya wajib. Deal, ya?” Listy tersenyum menang saat dua piring pecel lele diletakkan di meja.
Perjalanan pulang tanpa banyak kata. Tirta menenteng sebungkus pecel lele pesanan Jaka. Listy berjalan dengan pandangan kosong. Menatap lurus seperti tersesat di labirin kepalanya sendiri. Sampai di kosan, perempuan itu langsung mengunci diri di kamar nomor dua puluh empat. Sepi kembali berkuasa.
Minggu pagi. Awan kelabu menggantung rendah di langit Karangwangsa. Tirta membuka mata. Jam dinding menunjuk angka setengah sebelas. Dingin. Hasrat meringkuk di bawah selimut begitu kuat, sebelum sebuah suara dari arah kamar mandi membuyarkan segalanya.
Ada suara perempuan bersenandung lirih di balik pintu kayu yang lapuk.
Tirta menegakkan duduk. Nyawa belum terkumpul sepenuhnya. Dia mengernyit. Sejak kapan Jaka bisa bersenandung dengan nada sopran yang mendayu-dayu?
Belum sempat Tirta memanggil, pintu terbuka. Listy muncul dari balik uap air. Hanya mengenakan selembar handuk putih dililit di dada. Pendek. Rambutnya basah terurai. Dia tersenyum tanpa dosa. Tapi sepasang stoking hitam masih membungkus rapat kakinya. Menyembunyikan guratan perih masa lalu yang tak pernah mereka bicarakan.
“Bagus, si kerbau akhirnya bangun,” sapa Listy riang.
Tirta spontan menarik selimut sampai dada. Wajahnya syok. “Buset! Sejak kapan kamar mandiku jadi pemandian umum?”
Listy tertawa terbahak-bahak melihat kepanikan itu. “Kamar mandiku mogok. Airnya tidak keluar. Tadi mau minta izin, tapi kamu tidur seperti orang mati. Ya sudah, aku ambil inisiatif.”
“Untung tadi aku tidak kebelet lalu mendobrak pintu.”
“Memangnya kenapa? Tinggal masuk saja. Mandi bersama juga tidak masalah, kan?” Listy mengedipkan sebelah mata.
“Sembarangan! Otakku masih waras!” seru Tirta. Wajahnya memerah. “Lain kali, biar aku pingsan sekalipun, ketuk pintu sampai aku bangun!”
“Iya, dasar pelit!” Listy menjulurkan lidah, lalu berlari kecil menyelinap ke kamarnya sendiri.
Tirta hendak merebahkan tubuh kembali, tapi pintu kamarnya digedor keras.
“Tirta! Cepat mandi! Jangan lupa janji ke mal!” teriak Listy dari luar.
Tirta menggerutu. Hari liburnya karam. Dia sengaja berlama-lama di kamar mandi. Lima belas menit penuh. Balas dendam. Begitu dia keluar dengan pakaian rapi, Listy sudah berdiri melipat tangan di depan dada. Wajahnya ditekuk masam.
“Lama sekali! Dandannya mengalahkan perawan.”
“Aku belum sarapan, Listy.”
“Makan di sana saja. Ayo cepat, keburu hujan!” Listy menarik lengan baju Tirta. Tanpa ampun.
Mereka naik angkot biru membelah jalanan Karangwangsa yang basah. Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di perempatan. Mal Karangwangsa sepi. Mendung membuat orang malas keluar.
“Makan mi ayam di sebelah sana saja,” tunjuk Listy ke gerobak kayu di sudut lapangan.
“Harusnya aku sudah kenyang makan nasi rames di depan gang kalau tadi kamu tidak buru-buru menyetop angkot,” sindir Tirta.
“Yang penting sekarang ada makanan,” jawab Listy santai.
Mereka duduk di bangku plastik di samping gerobak. Penjual datang. “Kuah atau goreng, Neng cantik?”
“Aku goreng, Bang,” jawab Listy. “Kamu apa, Tir?”
“Kasih kuah yang banyak, Bang,” ujar Tirta. Sengaja beda.
Sembari menunggu, Listy menunjuk deretan kandang besi di bawah pohon beringin tidak jauh dari mereka. Beberapa ekor monyet bergelantungan lesu. “Lihat ke sana, Tir. Kembaranmu sedang bermain.”
“Aku tidak menyangka kalau ternyata aku setampan itu,” balas Tirta datar.
Listy mendaratkan toyoran ringan di belakang kepala Tirta. “Dibilang mirip monyet malah bangga. Aneh.”
Urusan perut selesai. Semua dibayar Listy. Mereka pindah ke bangku taman di bawah pohon beringin. Angin dingin berembus, membawa aroma tanah basah.
“Aku selalu datang ke sini kalau pikiran sedang sumpek di kosan,” ujar Listy. Matanya menatap daun-daun beringin yang bergoyang.
“Memangnya kapan pikiranmu tidak sumpek? Setiap hari kamu kelihatan aneh,” timpal Tirta.
Listy menoleh. Binar matanya sulit diartikan. “Kapan ya? Mungkin kalau sedang duduk mengobrol denganmu seperti sekarang. Rasa bosannya hilang.”
Tirta tertegun. Kikuk. Dia menyembunyikannya dengan tawa hambar. “Berarti sekarang kamu sedang bosan, makanya mengajak aku ke sini?”
“Bukan begitu maksudnya, ah! Kamu merusak suasana!” Listy cemberut, menyandarkan punggung.
Hening. Keteduhan tempat itu perlahan membuat kelopak mata Tirta berat. Angin seperti lambaian selimut.
“Mau lihat kelinci ke sebelah sana tidak?” ajak Listy tiba-tiba. Menghancurkan kantuk.
“Malas. Lebih betah duduk di sini. Hawanya enak untuk tidur.”
Wajah Listy kecewa. “Ya sudah, aku ke sana sendiri. Kamu jangan ke mana-mana. Tunggu di sini.”
Listy berjalan menjauh menuju deretan kandang kelinci di sisi timur lapangan. Tirta memperhatikan punggung itu hingga matanya benar-benar terpejam. Tumbang oleh kantuk.
Sebuah tepukan agak keras di pipi memaksa matanya terbuka.
“Bangun! Benar-benar seperti kerbau,” ketus Listy yang sudah kembali duduk di sampingnya. Di tangannya ada kotak kardus kecil terbungkus plastik bening.
Tirta mengucek mata. “Beli di mana?”
“Tadi ada pedagang mainan keliling. Papan catur magnet. Lucu, jadi aku beli. Ayo main, daripada kamu tidur terus.”
Tirta menaikkan alis. “Kamu bisa main catur?”
“Tentu bisa! Waktu SMA dulu aku sering mengalahkan teman sekelas.”
“Itu cerita lama. Melawan aku, kamu tidak akan bertahan sampai sepuluh langkah,” tantang Tirta.
“Sombong amat. Grand Master saja mungkin sungkem melihat strategiku,” bual Listy.
“Ayo buktikan.” Tirta merebut kotak catur, merobek plastiknya, lalu menyusun bidak-bidak bermagnet di papan besi. “Yang kalah bayar makan malam di warung sate dekat gang kosan nanti malam. Setuju?”
“Setuju! Siap-siap saja dompetmu terkuras.”
Tirta memegang pion hitam. Listy memulai langkah pertama dengan pion putih. Di luar dugaan Tirta, gerakan tangan Listy mantap. Perempuan ini bukan cuma tahu cara melangkah, dia juga tahu cara menjebak. Permainan pertama, Tirta menderita kekalahan telak. Pertahanannya diobrak-abrik menteri dan kuda Listy. Raja hitamnya tersudut tanpa jalan keluar.
Babak kedua dimulai. Telinga Tirta panas mendengar ejekan Listy yang merayakan kemenangan pertama. Tirta mencoba memusatkan pikiran. Menggunakan strategi gerilya. Namun, tepat saat permainan mulai berpihak pada bidak hitamnya, beberapa tetes air jatuh dari langit. Gemuruh guntur berdentum di kejauhan. Hujan deras turun tanpa aba-aba.
Tirta buru-buru melipat papan catur, menarik tangan Listy untuk berlari. Mereka menyeberang jalan, naik ke teras masjid besar di seberang mal. Hujan tumpah seperti ember raksasa yang dibalik. Tirta melihat jam tangan di pergelangan tangan Listy. Setengah dua siang.
“Sudah masuk waktu zuhur, sekalian lewat jam makan siang. Aku mau salat dulu di dalam, kamu mau menunggu di sini?” ajak Tirta, matanya melirik pintu ruang utama masjid.
Listy terdiam. Perlahan, tangannya bergerak ke leher. Menarik sebuah rantai perak tipis yang selama ini tersembunyi di balik kerah jaket. Di ujung rantai, sebuah salib perak polos berukuran kecil menggantung. Berkilat pelan di bawah temaram langit mendung.
“Aku nonmuslim.”
“Oh… maaf, Listy. Aku benar-benar tidak tahu,” ucap Tirta. Suaranya merendah.
Listy tersenyum tipis. Tenang. Seperti sudah terbiasa dengan situasi ini. “Tidak apa-apa, santai saja. Kamu masuk saja salat, aku tunggu di bangku teras ini.”
Tirta melihat ke luar. Angin kencang meniupkan tampias air hujan ke area teras tempat Listy berdiri.
“Kalau begitu, kamu ikut masuk saja sampai batas suci. Di sini anginnya terlalu kencang, bajumu bisa basah semua kena cipratan.”
Tanpa menunggu jawaban, Tirta menggandeng pergelangan tangan Listy. Menuntunnya melewati selasar samping yang lebih terlindung dari serbuan angin, lalu meninggalkannya duduk di sebuah bangku panjang dekat pembatas area suci masjid. Tirta melangkah masuk ke dalam untuk menunaikan kewajibannya.
Di luar, suara hantaman air hujan pada atap seng berbaur dengan sunyi yang mendadak terasa pekat di antara mereka berdua.