Malam minggu di Karangwangsa. Tirta memetik senar gitarnya asal-asalan, mencoba menenggelamkan gemuruh dalam dadanya sendiri ke dalam petikan nada yang sumbang. Di dalam kamar sebelah, Jaka sudah tenggelam dalam riuh balap mobil di layar televisi tabungnya sejak maghrib berlalu. Riuh rendah itu bersahut-sahutan dengan dentum musik remix dari dua kamar buruh pabrik otomotif di ujung selasar yang malam ini pintunya terbuka lebar, memamerkan kebebasan akhir pekan setelah didera lembur berhari-hari.
Gesekan sandal jepit di anak tangga membuyarkan konsentrasi Tirta. Sosok Listy muncul, rambutnya agak basah dan senyumnya terkembang begitu menangkap sosok Tirta yang duduk menyendiri di atas kursi rotan. Tirta, yang masih menyimpan sisa kekesalan akibat tamparan jalur militer tadi pagi, sengaja membuang muka, berpura-pura khusyuk menyanyikan sebait lirik lagu lawas yang liriknya pun dia lupakan.
“Malam minggu merana amat, Tir? Tidak pergi mengencani gadis mana gitu?” suara Listy renyah, kontras dengan udara malam yang mulai mendingin.
Tirta diam. Tangannya pura-pura sibuk menyetel ulang putaran senar gitar.
Listy gemas. Perempuan itu mendadak mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak hingga wajahnya berada tepat beberapa senti di depan hidung Tirta. “Halo? Ada orang di dalam sana? Atau aku sedang bicara dengan patung?”
“Orangnya sedang keluar,” jawab Tirta pendek, matanya tetap menatap papan fret gitar.
“Wah, akung sekali. Padahal malam ini aku berniat baik, mau mentraktir makan laki-laki yang namanya Tirta.”
“Oh, kalau yang itu kebetulan barusan pulang. aku sendiri orangnya.”
Listy terbahak, tawa yang lepas dan tanpa beban, lalu tangan halusnya menepuk pipi Tirta pelan sebelum berbalik menuju kamarnya sendiri. “Giliran gratisan saja langsung tanggap.”
“Hei! Mau ke mana? Katanya mau traktir?” teriak Tirta.
“Batal! Kan tadi katanya orangnya sedang keluar,” sahut Listy tanpa menoleh, tangannya sudah memegang kenop pintu kamar nomor dua puluh empat. Namun, sebelum mendorong pintu, dia menghentikan langkah dan memutar tubuhnya kembali. Matanya menyipit, menatap Tirta penuh selidik. “Ngomong-ngomong, tadi siang waktu aku pergi kuliah, kamu masuk ke kamar aku, ya?”
Jantung Tirta berdesir agak cepat, namun wajahnya tetap diusahakan sedatar papan gilasan. “Kurang kerjaan amat. Untuk apa aku masuk ke kamarmu? Memangnya ada emas batangan yang bisa dicuri?”
“Siapa tahu kamu iseng, lalu mencuri stoking hitamku yang belum dicuci.”
“Sialan. Dikira aku mengidap kelainan apa? Masih banyak barang lain yang lebih bermartabat untuk diambil.”
Listy terpingkal-pingkal melihat telinga Tirta yang memerah. “Iya, iya, cuma bercanda. Begitu saja langsung naik darah.”
Perempuan itu masuk ke kamarnya, namun belum genap setengah menit, kepalanya sudah menyembul kembali dari balik pintu. “Kamu benar-benar belum makan, kan? Ayo keluar, aku yang bayar.”
“Boleh, asal bukan mi ayam sisa semalam.” Tirta meletakkan gitarnya di atas kasur lalu berdiri.
“Ajak Jaka sekalian, biar ramai,” cetus Listy.
Tirta melangkah ke kamar sebelah, menemukan Jaka yang sedang memegang stik PS dengan urat leher yang menegang akibat kalah balapan. “Jak, Listy mau traktir makan di depan. Ikut nggak?”
Jaka tidak mengalihkan pandangannya dari layar kaca yang berkedip-kedip. “Sama perempuan aneh itu? Kalian berdua saja lah. Kepala gue lagi panas gara-gara mesin sialan ini. Titip bungkus saja, lele goreng pakai sambal yang banyak.”
“Benar nggak mau ikut? Gratis ini.”
“Malaikat maut menjemput pun gue tunda dulu kalau balapan ini belum selesai, Tir. Sudah, sana pergi.”
Tirta mendengus, lalu kembali ke selasar di mana Listy sudah menunggu di dekat pagar pembatas balkon. Angin malam Karangwangsa langsung menyergap begitu mereka menuruni anak tangga semen yang lembap. Jalanan pemukiman di sekitar kosan terasa lengang, menjauh dari riuh jalan utama yang berjarak beberapa ratus meter di depan.
“Tumben-tumbenan kamu berbaik hati mengajak makan,” buka Tirta memecah keheningan jalanan.
“Anggap saja upah karena kamu sudah membantu menggeser lemari dan menyapu debu tadi pagi. Aku tahu kamu mengumpat sepanjang hari karena kutinggal pergi.” Listy berjalan dengan langkah santai, tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket.
“Siapa yang mengumpat? Aku ini ikhlas membantu tetangga yang kesusahan,” dusta Tirta, meskipun dalam hati dia membenarkan ucapan perempuan itu.
“Ah, masa? Mukamu tadi pagi itu mirip sekali dengan kerbau yang dipaksa membajak sawah.” Listy terkekeh, lalu menunjuk sebuah tenda kaki lima yang mengeluarkan asap beraroma gurih dari bakaran lemak. “Pecel lele saja, bagaimana?”
Kedai itu lumayan luas, hanya diisi oleh sepasang remaja yang duduk di pojok dekat ember cuci piring. Aroma minyak goreng panas dan ulekan terasi langsung menyambut indra penciuman mereka begitu menyibak kain tenda.
“Mas, lele dua porsi, nasinya pakai nasi uduk, ya,” seru Tirta pada pemuda di balik cowek batu besar.
“Aku juga disamakan saja, Mas,” timpal Listy.
Mereka mengambil tempat duduk di atas bangku kayu panjang. Tirta mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja yang dilapisi taplak plastik bermotif kotak-kotak. Rasa penasaran yang tertanam sejak siang tadi mendadak mendesak untuk dikeluarkan.
“Kuliah Teknik Sipil itu memangnya sesibuk itu, ya? Sampai malam baru pulang?” tanya Tirta membuka percakapan.
“Biasa, tugas gambar dari dosen tidak ada habisnya. Kebetulan aku belum punya komputer sendiri di kamar, jadi terpaksa numpang ngetik tugas di tempat kos teman di daerah Mahoni.”
“Kenapa tidak minta kirim uang ke orang tuamu saja untuk beli komputer? Biar tidak perlu bolak-balik.”
Listy menggelengkan kepala, helai rambutnya bergerak mengikuti gerakan. “Malas. Memiliki barang berharga di kamar kos itu hanya menambah beban pikiran. Aku lebih suka meminjam milik orang lain. Lebih praktis.”
“Logika macam apa itu. Aku justru bermimpi punya komputer sendiri suatu hari nanti.”
“Bagus kalau begitu. Nanti kalau kamu sudah beli, aku bisa numpang ngetik setiap hari di kamarmu.”
Tirta mencibir. “Sudah kuduga, ujung-ujungnya pasti mau gratisan.”
Tawa Listy mereda, dan di sela-sela keheningan yang mendadak turun, Tirta memajukan badannya sedikit. “Ngomong-ngomong, kamu pintar bahasa Inggris, ya?”
Listy mengernyitkan dahi, tatapannya mendadak menajam. “Tidak terlalu. Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?”
“Tidak apa-apa. Hanya teringat kliping-kliping koran asing yang berserakan di dekat dispensermu siang tadi. Kelihatannya kamu suka sekali mengoleksi berita luar negeri.” Tirta memancing, matanya memperhatikan setiap perubahan kecil di wajah Listy.
Ekspresi santai di wajah Listy menguap seketika. Ada garis tegang yang mendadak muncul di sudut bibirnya yang semula tersenyum. “Kamu bilang tadi tidak memeriksa kamarku, Tirta?”
“Hanya melihat sekilas dari pintu yang terbuka, kan tumpukannya tinggi sekali,” kilah Tirta cepat, mencoba menyelamatkan diri dari kecurigaan. “Buku-buku tebal itu menarik perhatian.”
“Melihat sekilas tidak akan membuatmu tahu isi klipingnya berbahasa apa,” potong Listy, nadanya mendadak dingin, kehilangan seluruh kerenyahan yang ada sejak di kosan tadi. “Jangan biasakan membongkar barang orang lain tanpa izin. Itu tidak sopan.”
“Iya, maaf. Aku tidak bermaksud lancang,” Tirta mengalah, merasa atmosfer di antara mereka berubah menjadi tidak nyaman. “Tapi, tulisan tentang Children of God itu sebenarnya apa? Judulnya mencolok sekali.”
Listy terdiam cukup lama. Pandangannya beralih pada penggorengan besar di depan tenda, tempat minyak panas sedang meletup-letup mencelupkan dua ekor lele segar. “Hanya tugas kuliah untuk mata kuliah umum. Analisis gerakan sosial atau semacamnya. Aku sendiri tidak terlalu paham isinya, cuma asal potong dan tempel saja.”
Jawaban itu terdengar terlalu datar, seperti sebuah naskah yang sudah dihafal luar kepala. Tirta memilih untuk manggut-manggut saja, meski batinnya menolak percaya. Seorang mahasiswi Teknik Sipil mengumpulkan artikel tentang sekte keagamaan ekstrem luar negeri untuk tugas kuliah? Alasan itu terasa sangat aneh.
“Besok kamu ada jadwal lembur di pabrik?” Listy mengalihkan pembicaraan, nadanya kembali melunak, seolah ingin menghapus ketegangan yang baru saja tercipta.
“Tidak, besok giliran aku libur penuh.”
“Kalau begitu, temani aku besok pagi. Aku mau jalan-jalan ke mal.”
“Aduh, malas sekali kalau harus bangun pagi lagi besok,” keluh Tirta.
“Tidak ada penolakan. Kamu sudah makan lele dari uang aku, jadi besok hukumnya wajib ikut. Deal, ya?” Listy tersenyum penuh kemenangan begitu dua piring pecel lele hangat diletakkan di atas meja mereka.
Perjalanan pulang malam itu dilalui tanpa banyak kata. Tirta menenteng sebungkus pecel lele pesanan Jaka, sementara Listy berjalan di sampingnya dengan pandangan yang kosong, menatap lurus ke depan seolah tenggelam dalam labirin pikirannya sendiri. Sesampainya di kosan, perempuan itu langsung mengunci diri di kamar nomor dua puluh empat, meninggalkan sepi yang kembali berkuasa di selasar.
Minggu pagi tiba dengan membawa hamparan awan kelabu yang menggantung rendah di langit Karangwangsa. Tirta membuka mata saat jarum jam dinding kamarnya menunjuk angka setengah sebelas. Udara di luar terasa dingin, membuat hasrat untuk meringkuk di bawah selimut semakin kuat. Namun, sebuah suara samar dari arah kamar mandi dalam kamarnya membuat kantuknya hilang seketika.
Ada suara perempuan sedang bersenandung lirih di balik pintu kayu yang lapuk itu.
Tirta menegakkan duduknya, nyawanya baru terkumpul separuh. Dia menatap pintu kamar mandi dengan dahi berkerut. Sejak kapan Jaka, pemuda berambut cepak itu, bisa bersenandung dengan nada sopran yang mendayu-dayu?
Belum sempat Tirta memanggil, pintu kamar mandi terbuka. Sosok Listy muncul dari balik uap air yang tipis. Dia hanya mengenakan selembar handuk putih yang dililitkan di dada, panjangnya bahkan tidak menyentuh lutut. Rambutnya basah terurai, dan seulas senyum tanpa dosa terukir di wajahnya yang segar. Satu-satunya hal yang konisten adalah sepasang stoking hitam yang masih membungkus rapat kedua kakinya, menyembunyikan guratan perih masa lalu yang tidak pernah mereka bahas.
“Bagus, si kerbau akhirnya terbangun juga,” sapa Listy riang.
Tirta spontan menarik selimut untuk menutupi dadanya sendiri, wajahnya syok. “Buset! Sejak kapan kamar mandi aku berubah fungsi jadi pemandian umum?”
Listy tertawa terbahak-bahak melihat kepanikan Tirta. “Kamar mandi di tempat aku mendadak mogok, airnya tidak mau keluar sama sekali. Tadi mau minta izin, tapi kamu tidurnya seperti orang mati. Ya sudah, aku ambil inisiatif sendiri.”
“Untung saja tadi aku tidak kebelet buang air dan langsung mendobrak pintu.”
“Memangnya kenapa? Tinggal masuk saja, mandi bersama juga tidak masalah, kan?” goda Listy sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Sembarangan! Otak aku masih normal, Listy!” seru Tirta, wajahnya semakin memerah. “Lain kali, biar aku sedang tidur atau pingsan sekalipun, kamu harus ketuk pintu sampai aku bangun kalau mau numpang mandi. Mengerti?”
“Iya, iya, dasar pelit dan cerewet!” Listy menjulurkan lidahnya lalu berlari kecil keluar dari kamar Tirta, menyelinap masuk ke kamarnya sendiri yang berada tepat di sebelah.
Tirta baru saja hendak merebahkan tubuhnya kembali ke bantal ketika pintu kamarnya digedor dengan keras dari luar.
“Tirta! Cepat mandi! Jangan lupa janji kita ke mal pagi ini!” teriak Listy dari balik pintu.
Tirta menggerutu dalam hati, merutuki nasibnya yang tidak pernah bisa tenang di hari libur. Dia sengaja mengulur waktu, berlama-lama di dalam kamar mandi selama lima belas menit penuh hanya untuk membalas dendam dan memancing kemarahan perempuan itu. Ketika dia keluar dengan pakaian rapi, Listy sudah berdiri di depan pintu dengan melipat tangan di dada, wajahnya ditekuk masam.
“Lama sekali! Laki-laki tapi dandannya mengalahkan perawan,” semprot Listy.
“Aku belum makan pagi, Listy. Perut aku bisa demo kalau langsung pergi.”
“Makan di sana saja, banyak penjual makanan di sekitar mal. Ayo cepat, keburu hujan!” Listy menarik lengan baju Tirta tanpa memberi kesempatan untuk mendebat.
Tirta sempat melirik ke kamar Jaka sebelum pergi, berharap temannya itu bisa menjadi alasan untuk membatalkan kepergian ini. Namun, Jaka tampak masih mendengkur hebat dengan bantal yang memeluk kepalanya, lengkap dengan sisa air liur di sudut pipi. Rencana konspirasi penyelamatan diri itu gagal total.
Mereka menaiki angkutan kota berwarna biru yang melaju membelah jalanan Karangwangsa yang basah oleh sisa gerimis semalam. Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah perempatan. Mal Karangwangsa hari itu tidak terlalu ramai karena langit yang mendung.
“Kita makan mi ayam di sebelah sana saja,” tunjuk Listy ke sebuah gerobak kayu di sudut lapangan, tepat di depan mal.
“Harusnya aku sudah kenyang makan nasi rames di warung depan gang kalau tadi kamu tidak buru-buru menyetop angkot,” sindir Tirta.
“Sudahlah, yang penting sekarang ada makanan di depan mata,” jawab Listy santai.
Mereka duduk di atas bangku bakso di samping gerobak. Si abang penjual mi mendatangi mereka dengan senyum yang dipaksakan ramah. “Kuah atau goreng, Neng cantik?”
“Aku goreng saja, Bang,” jawab Listy, lalu menoleh ke samping. “Kamu apa, Tir?”
“Kasih kuah yang banyak, Bang,” ujar Tirta sengaja memilih menu yang berbeda, sekadar untuk tidak terlihat kompak dengan perempuan di sebelahnya.
Sembari menunggu makanan datang, Listy menunjuk ke arah deretan kandang besi di bawah pohon beringin yang berada tak jauh dari tempat mereka duduk. Di dalamnya, beberapa ekor monyet tampak bergelantungan lesu. “Lihat ke sana, Tir. Ada kembaranmu sedang bermain.”
“Aku tidak menyangka kalau ternyata aku setampan itu,” balas Tirta datar.
Listy tertawa geli lalu mendaratkan sebuah toyoran ringan di belakang kepala Tirta. “Dibilang mirip monyet malah bangga. Aneh.”
Setelah menyelesaikan urusan perut yang seluruh biayanya ditanggung oleh dompet Listy, mereka berpindah ke sebuah bangku taman yang terbuat dari cetakan semen permanen di bawah rindangnya pohon beringin. Udara dingin berembus perlahan, membawa aroma tanah basah yang menenangkan. Beberapa kelompok orang tampak duduk tersebar di bangku lain, mengobrol diselingi tawa pelan.
“Aku selalu datang ke tempat ini kalau pikiran sedang penuh atau sedang bosan di kosan,” ujar Listy, matanya menatap daun-daun beringin yang bergoyang ditiup angin.
“Memangnya kapan pikiranmu tidak penuh? Setiap hari rasanya kamu selalu kelihatan aneh,” timpal Tirta.
Listy menoleh, menatap Tirta dengan binar mata yang sulit diartikan. “Kapan ya? Mungkin kalau sedang duduk mengobrol denganmu seperti sekarang ini. Rasa bosannya hilang.”
Tirta tertegun sejenak, namun segera menyembunyikan rasa kikuknya dengan tawa hambar. “Berarti sekarang kamu sedang bosan, makanya mengajak aku ke sini?”
“Bukan begitu maksudnya, ah! Kamu ini merusak suasana saja,” Listy cemberut, menyandarkan punggungnya ke sandaran semen.
Suasana kembali hening. Keteduhan tempat itu perlahan-lahan mulai membuat kelopak mata Tirta terasa berat. Embusan angin seolah menjelma menjadi lambaian selimut yang memanggilnya untuk tidur.
“Mau lihat kelinci ke sebelah sana tidak?” ajak Listy tiba-tiba, merusak kantuk yang baru saja merayap di kepala Tirta.
“Malas ah, aku lebih betah duduk di sini. Hawanya enak untuk tidur.”
Wajah Listy memperlihatkan guratan kekecewaan. “Ya sudah, aku ke sana sendiri saja. Kamu jangan ke mana-mana, tunggu di sini.”
Listy berjalan menjauh menuju deretan kandang kelinci di sisi timur lapangan. Tirta memperhatikan punggung perempuan itu hingga akhirnya matanya benar-benar terpejam, menyerah pada rasa kantuk yang teramat sangat. Dia tidak tahu berapa lama dia tertidur, sampai sebuah tepukan agak keras di pipinya memaksa matanya terbuka kembali.
“Bangun! Benar-benar seperti kerbau, di mana pun tempatnya pasti langsung tidur,” ketus Listy yang sudah kembali duduk di sampingnya. Di tangannya, dia memegang sebuah kotak kardus kecil panjang bermotif kotak-kotak hitam putih yang masih terbungkus plastik bening.
“Hawanya dingin begini, wajar kalau mengantuk,” Tirta mengucek matanya, lalu fokus pada benda di tangan Listy. “Beli di mana itu?”
“Tadi di dekat kandang kelinci ada pedagang mainan keliling. Aku lihat ada papan catur magnet kecil ini, kelihatan lucu jadi aku beli saja. Ayo main, daripada kamu tidur terus.”
Tirta menaikkan sebelah alisnya. “Kamu memangnya bisa main catur?”
“Tentu saja bisa! Waktu SMA dulu aku sering mengalahkan teman-teman sekelas.”
“Itu kan cerita lama. Melawan aku, kamu tidak akan bertahan sampai sepuluh langkah,” tantang Tirta, rasa kantuknya menguap digantikan harga diri laki-laki yang terusik.
“Sombong amat. Grand Master saja mungkin sungkem kalau melihat strategi aku,” bual Listy dengan percaya diri yang meluap-luap.
“Masa bodoh. Ayo kita buktikan.” Tirta merebut kotak catur itu, merobek plastiknya, dan mulai menyusun bidak-bidak kecil bermagnet di atas papan besi. “Yang kalah harus membayar makan malam di warung sate dekat gang kosan nanti malam. Setuju?”
“Setuju! Bersiaplah dompetmu terkuras.”
Tirta memegang pion hitam, sementara Listy memulai langkah pertama dengan pion putihnya. Di luar dugaan Tirta, gerakan tangan Listy saat menggeser bidak terasa sangat mantap. Perempuan ini bukan sekadar tahu cara melangkah; dia tahu cara menjebak. Pada permainan pertama, Tirta menderita kekalahan telak. Pertahanannya diobrak-abrik oleh kombinasi menteri dan kuda milik Listy hingga raja hitamnya tersudut tanpa jalan keluar.
Sepanjang babak kedua dimulai, telinga Tirta panas mendengar rentetan ejekan dari bibir Listy yang tak henti-hentinya merayakan kemenangan pertamanya. Tirta mencoba memusatkan pikiran, menggunakan strategi gerilya untuk membalikkan keadaan. Namun, tepat saat permainan mulai berpihak pada bidak hitamnya, beberapa tetes air berukuran besar mendadak jatuh dari langit, disusul oleh gemuruh guntur yang berdentum di kejauhan. Hujan deras turun tanpa aba-aba.
Dengan rasa dongkol yang menumpuk di dada karena gagal membalas kekalahan, Tirta buru-buru melipat papan catur magnet itu dan menarik tangan Listy untuk berlari mencari tempat berteduh. Mereka menyeberang jalanan dan naik ke teras sebuah masjid besar yang berada tepat di seberang mal. Hujan tumpah seperti ditumpahkan dari ember raksasa, menciptakan tirai air yang tebal di depan mereka. Tirta melihat jam tangan di pergelangan tangan Listy menunjukkan pukul setengah dua siang.
“Sudah masuk waktu zuhur, sekalian lewat jam makan siang. Aku mau salat dulu di dalam, kamu mau menunggu di sini?” ajak Tirta, matanya melirik ke arah pintu ruang utama masjid.
Listy terdiam sebentar. Perlahan, tangannya bergerak ke leher, menarik sebuah rantai perak tipis yang selama ini tersembunyi di balik kerah jaketnya. Di ujung rantai itu, sebuah salib perak polos berukuran kecil menggantung, berkilat pelan di bawah temaram langit mendung. “Maaf, Tirta… aku nonmuslim.”
Tirta tercekat. Lidahnya mendadak terasa kaku dan rasa bersalah langsung menyergap relung hatinya. Dia merasa bodoh karena telah melontarkan pertanyaan sensitif tanpa memikirkan latar belakang perempuan di sebelahnya. Selama ini mereka hanya mengobrol tentang hal-hal remeh di selasar, dan Tirta tidak pernah sekalipun terpikir untuk menanyakan perihal keyakinan.
“Oh… maaf, Listy. Aku benar-benar tidak tahu,” ucap Tirta, suaranya merendah, dipenuhi rasa tidak enak yang kentara.
Listy tersenyum tipis, jenis senyuman yang tenang dan seolah sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini. “Tidak apa-apa, santai saja. Kamu masuk saja salat, aku tunggu di bangku teras ini.”
Tirta melihat ke arah luar di mana angin kencang mulai meniupkan tampias air hujan ke area teras tempat Listy berdiri. “Kalau begitu, kamu ikut masuk saja sampai batas batas suci di selasar dalam. Di sini anginnya terlalu kencang, baju jepitanmu bisa basah semua kena cipratan.”
Tanpa menunggu jawaban, Tirta menggandeng pergelangan tangan Listy, menuntunnya melewati selasar samping yang lebih terlindung dari serbuan angin malam, lalu meninggalkannya duduk di sebuah bangku panjang dekat pembatas area suci masjid. Tirta melangkah masuk ke dalam untuk menunaikan kewajibannya, sementara di luar, suara hantaman air hujan pada atap seng berbaur dengan sunyi yang mendadak terasa begitu pekat di antara mereka berdua.