Suhu udara dini hari itu menembus tulang. Salju yang turun sepanjang malam di pinggiran kota telah mengubah pekarangan rumah besar milik keluarga Bramantyo menjadi hamparan putih yang sunyi. Sunyi yang menekan, seolah bumi sedang menahan napas. Di atas salju itulah, tubuh Aditya, seorang perwira kepolisian yang baru saja menghabiskan malam dengan gelas-gelas minuman keras, tergeletak kaku.
Telepon genggamnya tidak lagi berdering. Beberapa jam sebelumnya, Aditya masih menjadi bagian dari kerumunan orang-orang yang tertawa di bar, lalu berpindah ke pesta pribadi di rumah megah itu. Sekarang, dia hanya menjadi bongkahan dingin yang tidak lagi peduli pada waktu.
Dewita, wanita yang selama ini menjalin kasih dengannya, berdiri di dekat mobil yang terparkir di halaman. Napasnya memburu, keluar sebagai uap putih yang hilang tertelan angin. Matanya menatap tubuh tak bernyawa itu dengan kekosongan yang mengerikan. Apakah dia baru saja melakukan kesalahan fatal? Ataukah dia baru saja menemukan sebuah mimpi buruk yang tidak seharusnya terjadi?
Jaksa penuntut melihatnya sebagai pelaku tunggal. Mereka memiliki skenario yang rapi. Setelah malam penuh alkohol dan luapan emosi, Dewita dianggap tidak sengaja menabrak Aditya dengan mobilnya saat hendak meninggalkan lokasi, lalu membiarkan pria itu tewas membeku di tengah badai. Bagi pihak berwenang, kasus ini adalah sebuah tragedi yang sudah lengkap. Ada pelaku. Ada korban. Ada jejak ban di salju.
Namun, pengacara Dewita menatap tumpukan bukti itu dengan kecurigaan yang tajam.
Bagi mereka, kasus ini adalah teka-teki yang sengaja dibuat untuk menutupi sesuatu yang jauh lebih busuk. Mereka yakin Aditya tidak tewas di pekarangan itu karena hantaman mobil. Mereka menduga Aditya terlibat perkelahian hebat di dalam rumah sebelum diseret keluar saat nyawanya sudah di ujung tanduk.
“Kalian tidak sedang mencari kebenaran,” ujar pengacara Dewita saat sidang praperadilan, suaranya menggelegar di ruang yang penuh dengan tatapan dingin para penegak hukum lainnya. “Kalian sedang menutupi dosa di balik tembok rumah itu.”
Pertarungan hukum ini bukan lagi sekadar perkara pembunuhan. Ini adalah perang antara dua realitas.
Di satu sisi, ada klaim mengenai kerusakan lampu belakang mobil Dewita sebagai bukti tabrakan. Di sisi lain, ada deretan kesaksian yang dianggap janggal, pesan-pesan telepon yang dihapus, dan kedekatan emosional para saksi yang merupakan sesama polisi. Semua orang di kota itu merasa saling mengenal. Teman dari teman, rekan kerja dari atasan, loyalitas yang saling mengunci hingga kebenaran pun menjadi sulit untuk dipisahkan dari kepentingan pribadi.
Setiap detail kecil mulai menjadi bahan perdebatan nasional.
Potongan lampu belakang yang ditemukan di salju bisa menjadi bukti telak. Namun, bagi yang lain, itu hanyalah jejak yang sengaja diletakkan di sana agar skenario tabrakan terlihat masuk akal. Luka pada tubuh Aditya pun diperiksa berulang kali oleh para ahli yang berdiri di kubu berlawanan. Apakah itu luka akibat hantaman kendaraan berat? Atau luka yang dihasilkan oleh pukulan benda tumpul di dalam ruangan?
Salju yang turun itu menjadi saksi bisu yang paling tidak bisa diandalkan. Dia menutup jejak, dia menghapus bukti, dia membiarkan semua orang menafsirkan kepergian Aditya sesuai dengan apa yang ingin mereka yakini.
Ketika sidang pertama berakhir tanpa vonis yang mutlak, kota itu tidak lantas tenang. Justru sebaliknya, perdebatan meledak di media sosial. Kasus ini berubah menjadi tontonan, tempat di mana setiap orang merasa berhak menjadi hakim. Mereka membedah klip video dari kamera pengawas, mereka membandingkan setiap kata yang diucapkan Dewita saat pertama kali ditemukan menangis di dekat tubuh Aditya.
Apakah tangisannya adalah ketakutan seorang wanita yang baru saja kehilangan kekasihnya? Atau ketakutan seorang pelaku yang menyadari permainannya akan segera terbongkar?
Kini, persidangan ulang menjadi harapan terakhir bagi mereka yang menggantungkan keadilan pada ruang pengadilan. Ini bukan sekadar tentang apakah Dewita bersalah atau tidak. Ini tentang apakah sebuah sistem yang sudah terlanjur memihak masih bisa membedakan narasi yang dibuat-buat dari kebenaran yang sebenarnya.
Di sebuah ruang sidang yang menyesakkan, di bawah sorot lampu yang dingin, semua orang menatap Dewita. Dia masih di sana, memikul beban dari satu pagi yang membeku. Sementara itu, di luar sana, orang-orang masih terus berdebat tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu rumah besar itu.
Aditya tidak akan pernah bisa menceritakan apa yang terjadi pada jam-jam terakhir hidupnya. Dia hanya meninggalkan jejak di salju, sebuah titik awal dari sebuah tragedi yang terus menghantui, menolak untuk selesai, dan menolak untuk dilupakan. Kebenaran, seperti salju yang mulai mencair di musim semi, mungkin akan segera muncul. Atau mungkin, dia akan terkubur lebih dalam lagi, terselip di antara kepentingan dan kebohongan yang sengaja dirawat oleh mereka yang berkuasa.