Tujuh puluh empat tahun sudah republik ini berdiri. Kita meniup lilin di atas kue ulang tahun sambil merapalkan doa agar negeri tetap abadi. Doa itu tentu manis didengar, namun sejarah tidak pernah sudi tunduk pada bait doa semata. Negara bukanlah benda mati yang kekal karena takdir, melainkan organisme yang bisa membusuk dari dalam jika kita membiarkannya.
Pudar dan bubar selalu menjadi bayang-bayang yang enggan pergi.
Mahfud MD pernah menatap realitas ini dengan kacamata yang tidak terlalu ramah. Dia melihat paradoks yang menjijikkan di tengah pesta perayaan. Satu sisi, para pemangku kepentingan berteriak tentang visi gemilang tahun dua ribu empat puluh lima. Sisi lain, tumpukan masalah menimbun kaki kita hingga sulit melangkah.
Lima syarat dasar untuk menjadi bangsa besar yaitu merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur, masih tertahan di atas kertas. Realitas di lapangan justru berkhianat. Jutaan orang masih bergelut dengan kemiskinan saat para elite sibuk berdebat soal kursi jabatan. Angka statistik kemiskinan mungkin turun di atas meja kantor pemerintah, namun rasa lapar tidak pernah mengenal angka persentase.
Keadilan juga menjadi barang mewah. Rasio ketimpangan menunjukkan bahwa jurang antara mereka yang berpunya dan yang melarat makin menganga lebar. Kita tidak sedang membangun bangsa yang setara, melainkan membangun menara gading bagi segelintir orang.
Kebinekaan retak.
Orang-orang mabuk politik identitas mengobrak-abrik fondasi rumah kita sendiri. Mereka menganggap perbedaan sebagai ancaman yang harus ditumpas. Mereka ingin menyeragamkan warna pelangi menjadi satu warna kelabu yang membosankan. Korupsi merajalela, dilakukan oleh mereka yang mengaku paling berbakti pada tanah air.
Mereka mencuri dari perut rakyat sendiri.
Sebagian orang meminta kita untuk tidak perlu takut berlebihan. Mereka menyodorkan angka perbaikan yang mereka klaim sebagai bukti keberhasilan pemerintah. Mereka berjanji bahwa masa depan akan lebih cerah jika kita mau bersabar menunggu lompatan besar yang belum terlihat wujudnya.
Tunggu saja.
Menunggu adalah keahlian utama bangsa ini. Kita menunggu perbaikan, menunggu keadilan, menunggu kemakmuran, sampai akhirnya usia kita sendiri yang habis ditelan waktu. Jangan pernah menyerahkan nasib republik hanya pada pundak penguasa yang sering kali tidak tahu arah jalan pulang.
Kita harus berhenti berpangku tangan. Rajut kembali serpihan persatuan yang tercerai berai. Jangan biarkan republik ini menjadi sekadar catatan kaki dalam sejarah masa depan. Jika kita membiarkan bom waktu itu meledak, tidak akan ada lagi tempat untuk menyesal. Indonesia ada selama kita masih sanggup menjaga akal sehat dan harga diri di tengah gempuran ketidakadilan.