Dua tahun sudah berlalu sejak air keras merenggut mata Novel Baswedan di lorong gelap. Selama itu pula, kita disuguhi tontonan drama kepolisian yang tak kunjung menemukan ujung jalan. Tiba-tiba saja, tepat sebelum panggung debat calon presiden dimulai, kepolisian meluncurkan tim gabungan dengan anggota sebanyak enam puluh lima orang. Sebuah pengerahan kekuatan yang sangat mencolok, seolah-olah mereka ingin memberi jawaban cepat bagi sang petahana yang mungkin akan ditanya soal komitmen hukum di depan kamera nanti.
Kita melihat polisi berakrobat dengan surat keputusan resmi. Mereka menyusun barisan dari aparat, tokoh masyarakat, hingga pakar dengan harapan publik berhenti berprasangka. Namun, aroma tak sedap dari politisasi kasus ini terlalu kuat untuk disembunyikan. Publik tidak bodoh. Mereka mencium bau kepentingan yang sengaja dipoles rapi demi menyelamatkan reputasi penguasa di tengah bisingnya musim kampanye.
Dulu, seratus enam puluh penyidik diturunkan untuk melacak jejak penyerang. Delapan puluh saksi dipanggil untuk diperiksa. Sketsa wajah disebar ke seluruh sudut kota. Hasilnya? Nol besar.
Sekarang, polisi datang membawa janji baru dengan tim yang lebih gemuk. Mengapa harus menunggu dua tahun untuk menyadari bahwa kasus ini membutuhkan keseriusan? Jika memang niatnya mengungkap kebenaran, mengapa harus menunggu momentum politik yang paling menguntungkan? Pertanyaan itu menggantung di udara, mencekik logika setiap orang yang masih peduli pada harga diri institusi penegak hukum kita.
Kekuatan besar sering disebut-sebut berada di balik kegelapan ini. Seseorang atau sekelompok orang yang tangannya terlalu kuat untuk dijangkau oleh seragam cokelat Polri. Jika benar kepolisian memang sehebat yang mereka klaim, mengapa tembok itu tak kunjung roboh?
Novel bukan sekadar penyidik yang terluka. Dia adalah simbol perlawanan terhadap korupsi yang sedang dihajar oleh tangan-tangan pengecut. Membiarkan kasusnya terbengkalai sama saja dengan memberi lampu hijau bagi para penjahat untuk terus berkuasa dengan rasa aman. Tim gabungan ini kini memikul beban berat di pundak mereka. Mereka tidak sedang bekerja untuk bos di kepolisian, melainkan sedang diuji di hadapan mata publik yang sudah lama kehilangan kesabaran.
Jangan lagi tawarkan janji manis di atas panggung debat. Jangan pula gunakan kasus kemanusiaan ini sebagai aksesoris politik lima tahunan. Tangkap pelakunya. Seret dalang utamanya ke pengadilan. Rakyat tidak butuh tim yang berisi enam puluh lima orang untuk berfoto bersama. Rakyat hanya ingin melihat keadilan bekerja tanpa harus menunggu jadwal pemilu.