“Ri, bangun. Jangan pingsan di sini.”
Tepukan kasar di bahu memaksa Tirta menyeret kesadarannya kembali ke permukaan. Kepalanya pening bukan main, efek dari tidur ayam yang tidak genap sepuluh menit di atas ubin semen. Ketika dia tegak berdiri mengikuti langkah Jaka menuju pagar balkon, dia baru menyadari kaos oblongnya penuh noda merah yang mulai mengering dan menghitam. Noda darah milik perempuan di kamar seberang.
Jaka melirik koridor luar, memperhatikan ceceran bercak merah yang menghubungkan dua pintu kamar kos. “Kita harus bersihkan ini sekarang sebelum anak-anak kos bawah naik dan bikin gempar.”
“Bagaimana dengan Listy? Kita harus membawanya ke rumah sakit, Jak. Kakinya parah begitu,” Tirta memijat pelipisnya yang berdenyut.
“Keras kepala dia, Ri. Lo sendiri dengar dia mengamuk seperti kesurupan saat mendengar kata rumah sakit tadi. Gue sudah menelepon Dokter Rindra, kenalan paman gue. Beliau mau datang ke sini bawa peralatan medis. Sekarang tugas lo bersihkan kamarnya, biar gue yang mengurus sisanya.”
Tirta hanya mengangguk pasrah. Lima menit kemudian, dia sudah berlutut di depan kamar nomor dua puluh empat dengan ember plastik dan kain pel kusam. Ketika dia mendorong pintu kamar itu lebih lebar, bau amis langsung menyergap kerongkongan, membuatnya harus menahan napas agar tidak muntah.
Kamar itu berantakan, lebih mirip gudang pembantaian daripada tempat tinggal seorang gadis. Tirta terperangah menatap ceceran noda merah yang mengering di dinding bercat putih kapur. Buku-buku kuliah berserakan di atas lantai tegel bersama beberapa pasang stocking hitam yang melar. Perempuan itu sepertinya sengaja mengurung diri di ruangan pengap ini hanya untuk melakukan ritual mengerikan yang tidak masuk akal sehat.
Di dekat kusen pintu, sebuah jiplakan telapak tangan berdarah tercetak jelas, memperlihatkan garis-garis sidik jari Listy yang gemetar saat menahan linu. Tirta menggeleng-gelengkan kepala sembari menggosok lantai tegel kusam itu dengan sikat cuci. Perempuan berkaos kaki hitam ini jelas kehilangan sekrup di kepalanya.
Menjelang magrib, lantai sudah bersih meski sisa bau karbol murahan kini berebut tempat dengan bau amis darah. Jaka kembali saat azan berkumandang, menuntun seorang pria paruh baya berkacamata tebal yang menjinjing tas kulit hitam. Dokter Rindra.
“Ini namanya non-suicidal self injury,” ujar Dokter Rindra setengah berbisik setelah memeriksa kondisi Listy di kamar Jaka. Mereka bertiga kini berdiri di selasar, bersandar pada pagar besi yang berkarat.
“Bahasa manusianya apa, Dok?” Tirta menyela, dahinya berkerut rapat.
“Sederhananya, dia sengaja melukai tubuhnya sendiri, tetapi bukan karena ingin mati atau bunuh diri,” Dokter Rindra membetulkan letak kacamatanya, menatap kedua pemuda di depannya yang mendadak pucat. “Penderita kelainan ini biasanya mengiris, menyayat, atau membakar kulit mereka sendiri menggunakan benda tajam seperti silet atau belati kecil. Sasarannya paling sering memang area tangan dan kaki.”
Bulu kuduk Tirta meremang seketika. “Orang waras mana yang punya hobi menyilet kaki sendiri, Dok? Kurang kerjaan apa bagaimana?”
Dokter Rindra menggeleng pelan, senyumnya maklum. “Dia tidak gila. Secara kejiwaan dia sadar penuh. Hanya saja, orang-orang seperti Listy ini memiliki sumbatan emosi yang terlalu besar. Saat mereka merasa kalut, tertekan, atau dikejar kecemasan yang luar biasa, rasa sakit fisik dari sayatan itu justru memberikan sensasi lega yang instan. Mereka menukar kepedihan batin dengan perih di kulit.”
Jaka dan Tirta saling pandang dalam keheningan sore yang mulai menggelap. Penjelasan itu terdengar begitu asing sekaligus mengerikan di telinga dua pemuda rantau yang terbiasa hidup lempang tanpa drama psikologis.
“Lalu kami harus berbuat apa sekarang, Dok?” tanya Jaka resah.
“Saya sudah membalut lukanya dan memberikan antibiotik. Tapi urusan jiwanya, kalian harus membujuknya ke psikiater. Itu di luar wewenang saya,” Dokter Rindra berpamitan, melangkah menuruni tangga kos meninggalkan seonggok kebingungan baru bagi mereka.
Tirta merosot, duduk di kursi plastik depan kamar. Listy yang semula misterius dengan kaos kaki hitamnya kini terbaring dengan balutan perban putih tebal dari pergelangan kaki hingga betis, membuatnya tampak seperti mumi mini di atas kasur busa Jaka. Rahasia stocking hitam itu akhirnya terbongkar dengan cara yang paling berdarah.
Malam merayap turun di Karangwangsa. Angin malam bertiup lebih kencang, membawa kesunyian yang ganjil. Kos-kosan yang biasanya bising oleh dentum musik dangdut dari pelantang suara anak-anak pabrik mendadak sepi, menyisakan kerik jangkrik di sela-sela rumput liar halaman bawah.
“Ri,” Jaka muncul dari balik pintu, memegang kantong plastik hitam besar. “Gue mau membuang baju-baju bekas darah tadi ke tempat sampah depan gang. Sekalian mau beli nasi goreng. Lo mau titip tidak?”
“Boleh. Perut gue rasanya sudah melilit dari siang,” sahut Tirta, meluruskan kakinya yang pegal.
“Pedas, telurnya didadar terpisah, kan?” Jaka memastikan, menghafal menu ritual Tirta setiap kali memesan makanan.
“Iya, jangan sampai dicampur.”
“Ya sudah, tolong pantau dulu perempuan di dalam. Jangan sampai dia nekat menyilet dirinya lagi pakai pecahan kaca,” Jaka melangkah pergi, suara sandal jepitnya yang bergesekan dengan anak tangga semen terdengar ritmis sebelum akhirnya hilang ditelan kegelapan gang.
Tirta sendirian sekarang. Dalam keheningan itu, bayangan mendiang Nadya mendadak melintas di kepalanya. Dia teringat senyum gadis itu, teringat betapa tragisnya takdir yang merenggutnya di jalanan sepi berkat pengendara motor sport misterius berplat B 1608 WRJ. Dada Tirta kembali bergemuruh oleh amarah yang tertahan. Dua kepedihan kini berkumpul di lantai tiga rumah sewa ini: Tirta yang kehilangan dunianya, dan Listy yang sedang menghancurkan tubuhnya sendiri.
“Woila! Malah melamun sampai subuh!” gertakan Jaka membubarkan lamunan Tirta yang nyaris tenggelam.
“Sialan, cepat benar lo kembali, Jak.”
“Orang lapar jalannya cepat,” Jaka terkekeh, menarik kursi kayu dari kamar sebelah lalu duduk di samping Tirta. Dia mengeluarkan tiga bungkus nasi goreng yang masih mengepulkan uap hangat beraroma bawang putih.
“Kenapa beli tiga bungkus? Lo mau mukbang?” Tirta heran.
“Satu bungkus untuk Listy. Jaga-jaga kalau dia terbangun tengah malam karena kelaparan. Menghadapi orang stres itu butuh tenaga, Ri,” Jaka menyendok nasi gorengnya dengan lahap.
Mereka makan dalam diam di bawah remang lampu selasar. Jarum jam di layar ponsel monokrom Tirta sudah menunjukkan angka sepuluh malam lewat sedikit. Angin semakin dingin menusuk tulang.
“Listy belum menunjukkan tanda-tanda mau bangun,” Tirta menutup bungkus nasinya yang sudah tandas. “Lalu kita tidur di mana malam ini? Besok lo kan masuk kerja shift pagi di pabrik.”
“Kita tidur saja sekarang. Tapi lo tidur di kamar gue,” kata Jaka santai sembari mengelap bibirnya.
Tirta langsung melotot. “Emangnya gue cowok apaan tidur sekamar dengan perempuan yang baru dikenal? Kalau malam-malam dia histeris lalu menusuk leher gue pakai silet bagaimana?”
“Otakmu kebanyakan menonton film dewasa, Ri,” Jaka menoyor kepala Tirta gemas. “Daripada dia bangun lalu menyayat tangannya lagi tanpa ada yang tahu, lebih baik kita awasi bersama di dalam. Lagipula kamar kosmu itu baunya masih seperti pasar jagal.”
Tirta terdiam, menimbang benar juga ucapan Jaka. Kamarnya sendiri saat ini masih menyisakan sisa bau amis yang belum sepenuhnya luruh oleh karbol.
“Ya sudah, gue mengalah. Tapi lo yang tidur di sisi dekat dia,” ketus Tirta, bangkit berdiri menuntun langkah menuju kamar Jaka.
Sebelum menutup pintu kayu itu rapat-rapat untuk menjemput tidur yang tertunda, Tirta sempat melirik sekilas ke arah kasur. Listy masih memejamkan mata dengan damai, gurat wajahnya yang tirus tampak manis di bawah temaram lampu kuning kamar kos. Sebuah rahasia besar telah terbuka sore ini, dan Tirta tahu, esok hari tidak akan pernah sama lagi bagi mereka bertiga.